Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 70: Yuni & Bram


__ADS_3

Hari sabtu kedua rumah tampak sibuk, rumah kediaman Rangga tampak sibuk karena keluarga yang dari jauh-jauh sudah mulai berdatangan, para sesepuh yang dari luar negeri tidak mau menginap di hotel dengan alasan mau temu kangen dengan anak dan cucu. 


Karena calon pengantin tidak ada satupun yang bisa di pingit, jadilah hari ini Ningsih memaksa keduanya untuk melakukan proses pingitan. Mulai pagi Arsi sudah melakukan rangkaian perawatan, wanita itu tidak mau melakukannya di salon, padahal Rangga sudah memintanya untuk melakukan perawatan di spa atau salon. Hemat itulah alasan Ngarsinah tidak bersedia untuk menuruti permintaan sang calon suami, dirumah pun wanita itu tidak bisa diam, ada saja yang dia kerjakan, padahal Yuni dan para karyawan sudah menjalankan tugasnya masing-masing. 


Walaupun besok akan ada hajatan besar, owner kedai roti ‘Why A’ akan menikah, tapi tidak membuat semuanya menjadi libur. Kedai tetap buka seperti biasa, bahkan sebagian pelanggan lama pun ikut diundang. 


“Yun, ini ada pesan dari distributor bahan kue, akan ada sales yang datang. Tolong di handle ya say,” pinta Ngarsinah. Tubuhnya yang sedang di balur lulur tidak bisa bergerak kesana kemari, tetapi tangannya tetap saja mengelola media sosial milik WHY A. 


“Siaaap, jam berapa mereka datang Si? karena aku nanti juga mau ngurusin dekorasi bangunan sebelah, mas Bram tadi udah ngabarin. Arsi, ini nggak ada perubahan kan sama dekorasinya?” tanya Yuni dengan melihat-lihat kembali tab yang ada di tangannya. 


“Sales dateng jam 10, kamu langsung putuskan aja apa yang akan diambil. Soal dekorasi yang kemaren aja nggak papa, aku dah cocok kok, eh betewe hubunganmu dengan mas Bram gimana Yun?” tanya Arsi setelah menjawab pertanyaan sahabatnya itu. 


Blush!


Pipi mulus Yuni bersemu kemerahan, entah dari mana Ngarsinah tau tentang hubungannya, tapi gadis itu tidak ingin jua bertanya. Sebagai wanita dewasa yang sudah berpengalaman Ngarsinah bisa membaca situasi yang terjadi antara sahabatnya dengan sahabat suaminya itu. 


“Hmm … kami baik aja, ya kan bukan cinta monyet lagi say, di umur segini pastinya membahas masa depan. Tapi so far, he is kind person,” jawab Yuni dengan malu-malu sambil merapatkan wajahnya dengan tab. 


“Hahaha kamu kenapa malu-malu gitu, lanjut aja say aku mendukung. Jika perlu kelar acaraku, lanjut kamu dan mas Bram. Buruan gih kamu bahas,” jawab Ngarsinah dengan senang, mendengar jawaban sang sahabat, Yuni menurunkan tabnya. Gadis itu merasa bahagia mendengar dukungan dari sang sahabat yang sudah seperti saudara baginya itu. 


“Tapi kan nggak mungkin aku yang ngomong duluan Si,” ucap Yuni dengan lemas, gadis itu masih sadar kodrat rupanya, hehehe. Ngarsinah juga menyetujui pemikiran sang sahabat, sejenak dia terdiam. 

__ADS_1


“Nanti aku akan bicara dengan mas Rangga, biar dia yang menyampaikan ke mas Bram. Kamu tenang aja Yun,” ucap ngarsinah setelah tadi sempat berpikir bagaimana jalan yang terbaik untuk hubungan Yuni dan Bram.


Setelah berbincang sebentar, Yuni kembali pada tugasnya, sejak usaha mereka semakin maju, Yuni juga semakin mapan secara penghasilan. Bram sudah menghubungi Yuni, pria itu sedang mengarah ke kedai roti, dan akan bersiap menemani Yuni menemui pihak dekorasi yang akan mengerjakan toko sebelah. 


Yuni yang sudah bersama sales dari distributor bahan kue sedang sibuk memilih apa saja yang mereka butuhkan dan menyiapkan syarat-syarat yang dibutuhkan sebagai pelanggan tetap. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Yuni menemui bagian administrasi untuk memeriksa beberapa pekerjaan. 


“Yun, kamu udah siap?” Tanya Bram di depan meja pemesanan, Yuni yang memang sudah siap langsung memberikan senyum terbaiknya. Dengan cepat gadis itu menyambar sling bag dan berpamitan dengan karyawan yang menjaga kedai roti. 


“Yuk mas, maaf ya aku agak terlambat, masih ada beberapa pekerjaan tadi. Jam berapa orangnya sampai di sebelah mas?” Tanya Yuni basa basi, mereka hanya berjalan kaki saja karena jaraknya hanya di sebelah rumah Ngasinah yang sekarang pelan tapi pasti mulai beralih fungsi menjadi kedai roti. 


“Ini sebentar lagi mereka sampai, oya Yun, ntar malem kamu ada acara nggak?” tanya Bram, dan sontak jantung Yuni berdebar tidak beraturan. Entah kenapa baru di tanya begitu saja gadis itu sudah girang tidak kepalang. 


“Hmm nggak sih mas, kenapa?” tanya Yuni, sekilas gadis itu melirik ke arah Bram. Mereka sudah sampai di rumah sebelah, sambil menunggu tamu yang mereka tunggu Bram mengambil posisi duduk di teras dengan tanpa alas. 


“Hemm … ya boleh, jam berapa mas? biar nanti aku bisa titip kedai ke temen-temen. Dan mas jangan lupa besok kan acara pernikahan Arsi dengan mas Rangga,” jawab Yuni dengan senyum terbaiknya dan tidak lupa gadis itu mengingatkan Bram.


"Iya aku nggak lupa kok, Yun itu mereka sudah datang," jawab Bram yang terlihat tampan siang ini, jelana jeans, dan kaos oblong membuat pria itu tampak lebih segar. 


"Iya mas, ayo kita temui mereka biar cepet kelar," ajak Yuni sambil melangkah, tapi gadis itu lupa melihat yang ada di depannya atau gadis itu sedang tidak fokus saking senangnya. 


Dug!

__ADS_1


"Aaawww!" Kakinya tersandung kayu yang melintang manis menghalangi langkah gadis itu. Beruntung Bram yang sigap menangkap pinggang ramping gadis itu, menyadari tangan kekar Bram yang melingkar di pinggangnya membuat Yuni salah tingkah. 


"Ma-makasih mas," ucap Yuni lirih sambil menegakkan tubuhnya yang tadinya hampir jatuh, Bram merasakan debaran jantungnya tidak biasa, pria itu masih terkunci dengan pesona Yuni. Jarak mereka yang terkikis membuat Bram bisa menghirup aroma parfum segar milik gadis itu. 


"Mas …" kembali Yuni menyadarkan Bram yang masih terdiam dan tidak melepaskan pandangannya, Bram baru tersedar saat Yuni kembali memanggilnya.


"Eh maaf Yun, ini–anu itu tadi kamu mau jatuh, jadi saya tangkap."


Bram bisa gugup juga ternyata, siang yang cerah ini membuat Bram semakin merasa gerah, jantungnya masih belum bisa di kondisikan. Pria itu dengan cepat melepaskan tangannya dari pinggang Yuni dan langsung berjalan untuk menemui tamu yang mereka tunggu. 


Yuni menunjukkan tab yang sudah dia siapkan sedari tadi, lama mereka membahas apa yang akan dikerjakan oleh tim dekorasi.


Rencana dekorasi yang akan dilaksanakan tiga hari lagi membuat tim harus mempersiapkan semuanya dengan cepat dan teliti. Bram akan menyuruh salah satu orang kepercayaannya yang memahami pekerjaan itu. 


"Mas aku laper, makan yuk," ajak Yuni tanpa malu-malu, gadis itu mendadak biasa dengan Bram. 


"Kamu mau makan apa?"


❤️❤️❤️


Ciee cieee bakal ada yang nyusul akad ini 🥰🌹

__ADS_1


hayuuuukk ramaikan jempolnya pemirsaaahh, komen, vote dan hadiaah ya jgn lupa, tengkyuuuuhh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹


__ADS_2