Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 56: Bread and Cake


__ADS_3

"Selamat pagi pak Bram, apa kabar?" Tanya basa basi David sambil berjabat tangan dengan Bram. Pria berparas bule itu tersenyum ramah. Bram menyambut jabat tangan pria yang ada di hadapannya. 


"Selamat pagi pak, silahkan duduk. Kabar saya baik saja seperti biasa, ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Bram kembali, pengusaha muda di bidang properti itu tidak mau membuang waktu lama. Pertemuan dengan peserta tender sebelum waktu yang ditentukan bukanlah hal yang baik. 


"Begini pak, saya ingin mengundang bapak main golf besok pagi, apakah bapak ada waktu?" Tanya David setelah mengutarakan maksud dia mendatangi Bram di pagi ini. 


Bram mengerutkan keningnya, pria itu melihat ada maksud dibalik undangan main golf yang diajukan David, sesaat pria itu diam memikirkan apa yang harus dijawab untuk undangan itu.


"Boleh tu pak, jam berapa kita ke lapangan?" Bram menyetujui dengan niat ingin mengetahui apa yang diinginkan pria ini, tidak lupa Bram menanyakan waktu untuk mereka bermain besok. 


"Jam delapan pagi saya tunggu ya pak," jawab David dengan mata berbinar cerah. 


"Oke pak, sampai ketemu besok," jawab Bram yang mengikuti David berdiri, kembali kedua pria berwajah tampan itu berjabat tangan dan David pun melangkah meninggalkan Bram dengan hati senang. Pertemuan singkat hanya menyampaikan undangan main golf, cukup membuat Bram menerka-nerka apa yang diinginkan oleh calon peserta tendernya. 


David sudah kembali ke ruangan dimana para peserta tender mulai berdatangan satu persatu. Setelah mengambil teh manis dan biskuit David mencari tempat yang dirasanya cukup strategis. 


'Besok aku akan membuatmu menerima proposalku pak Bram, aku ingin menjadi supplier di semua hotel milikmu,' gumam David dalam hati, seulas senyum membayang di bibirnya.


Acara lelang tender dimulai, Bram sebagai pemilik hotel sudah duduk di mejanya, pembawa acara mulai bicara dan menjelaskan tentang semua hal yang akan mereka lakukan di hari itu. 


Lelang berjalan panas, masing-masing supplier sudah mempresentasikan produk mereka termasuk David. Tanpa terasa sudah dua jam berlalu dan kini acara lelang tender pun selesai. 


Di tempat lain. Ngarsinah sudah sampai di kantornya, wanita itu tampak ceria, sebuah map dia pegang dalam dekapannya. Hari ini dia akan menghadap HRD, untuk mengundurkan diri, setelah itu dia berencana untuk menemui teman-teman pawang uang di ruangan mereka. 

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, semua proses pengunduran diri Ngarsinah sudah selesai, ijazah yang digunakan sebagai jaminannya pun sudah dia pegang kembali. Langkah tergesa gadis itu terus saja melewati ruang demi ruang dan akhirnya wanita cantik itu sampai pada ruang para pawang uang. 


"Haayy gaaess, aku kangen kalian!" Teriak Arsi yang disambut senyum merekah semua teman-teman yang ada di ruangan itu. Mata mereka menatap Ngarsinah yang entah mulai kapan berubah. 


Nia, Channdra, Pia, Sasa dan Roni semuanya melongo. Pagi ini memang Ngarsinah bertekad untuk merubah penampilannya, lebih kekinian dan sedikit polesan make up. Kerudung yang di gunakan pun kini sangat cantik dan menarik. 


Pia orang yang paling mengerti tentang fashion langsung berdiri dan memeluk Ngarsinah. Nia pun ikut berdiri, Sasa juga mengikutinya, sementara para pria tetap setia di kursinya masing-masing dan tidak melepaskan sedikit pun pandangan mereka ke arah Ngarsinah. 


“Omegat … Omegat! ya Ampuun Arsi kamu bener-bener syantiiikk! padahal kemaren aku pengen banget makeover kamu, laah kok sekarang udah berubah sendiri!” pekik Pia heboh sambil melompat-lompat kecil. 


“Pi, sadar Pi, Nyebut … nyebut! jangan lompat-lompat gitu ntar rontok semua itu silikon,” ucap Chandra usil sambil menggerakkan matanya seakan mengisyaratkan sesuatu. Pia yang menyadari kemana arah mata Chandra, langsung melotot dan memutar badan hingga memunggungi pria tampan yang selalu saja membuat orang tertawa itu. 


“Shiriiikk ajaah!” dengusnya kesal tapi dalam waktu singkat mood gadis itu kembali baik dan kembali memeluk Ngarsinah. Nia pun tidak lupa cipika cipiki dengan Ngarsinah. Sasa wanita terakhir yang peluk-pelukan dengan Ngarsinah. 


“Gaes, aku minta maaf ya, kalo aku banyak salah, banyak bikin kalian kesel. Aku mau pamitan gaes, nggak kerja disini lagi,” ucap Ngarsinah sendu, wanita itu tertunduk untuk menekan rasa sedih di hatinya, dan matanya kini mulai mengembun. 


“Kamu kenapa Beb? kenapa kamu keluar dari sini?” tanya Chandra lesu, pria itu merasa sudah sangat lama menunggu Ngarsinah untuk kembali bekerja tapi hari ini gadis yang di tunggunya itu malah datang untuk berpamitan. 


Aku mau buka usaha sendiri aja, aku mau buka usaha kuliner di bidang bread and cake, doakan aku ya gaes,” jawab Ngarsinah dengan senyum yang berusaha dia berikan. 


“Waaahh keren tuuh gini Si, ntar kamu coba ajukan ke bagian F&B perusahaan ini, kan tiap hari ada aja tuh meeting di taiap lantainya, dan pastinya membutuhkan konsumsi kue-kue gitu, nah urusan pembayarannya kan pasti ke kita, jadinya kita bisa ketemu lagi, cemerlang gak ide ku?” ucap Nia antusias. Wanita itu memang selalu saja baik dan mau memikirkan sahabat barunya itu. 


“Cakeepp, aku dukung beb, bener tu kata Nia, Bu Puji kan udah tau kalo kamu itu bekerja disini. Cuuss beb bikin proposalnya, ehh iya kapan kamu mulai start usahanya?” tanya Chandra tidak kalah antusias, setidaknya dia masih bisa bertemu dengan Ngarsinah jika rencana mereka berjalan. 

__ADS_1


Ngarsinah merasa terharu atas dukungan teman-temannya, Silaturahmi berakhir dengan tangis haru biru penduduk pawang uang. 


Setelah berpamitan, Ngarsinah menemui Yuni yang sudah sangat lama menunggunya di ruang tunggu, gadis itu sambil berkali-kali ketiduran karena Arsi yang sangat lama menunggu. Siang ini Arsi ada janjian makan siang dengan Rangga, Yuni pun ikut membersamai mereka. 


“Gimana tadi acara pamitannya sayang?” tanya Rangga kepada Ngarsinah yang sedang mengaduk minumannya, Yuni meminta izin untuk ke toilet sebentar. Mereka sepakat untuk makan di restoran arab, Rangga sengaja mengajak Ngarsinah untuk mencicipi banyak varian kuliner di kota. 


“Seru mas, biasa lah ada adegan nangis-nangisnya gitu. Oya mas, tadi temen-temen ngasih saran ke aku untuk mengajukan proposal pengadaan snack box meeting di perusahaan mas, gimana menurut mas?” Tanya Arsi dengan tatapan sayang ke arah Rangga.


“Hmm good, aku setuju itu, kapan kamu mau memulainya sayang?” Tanya Rangga senang, pria itu bahagia melihat raut wajah sang calon istri tampak sumringah, ternyata wanita cantik itu bahagia dengan berdiri di usahanya sendiri. 


“Bantuin doong mas, aku nggak pede nemuin bu Puji,” rayu Ngarsinah penuh harap. Sebenarnya Ngarsinah ingin berjuang sendiri, tetapi rasa tidak percaya dirinya membuat wanita itu ingin meminta sesuatu dari sang pemilik perusahaan.    


“Kedekatan kita bukan berarti akan berpengaruh pada hubungan bisnis ini!” Ucap Rangga dengan senyum yang menggoda wanitanya. Ngarsinah mengerucutkan bibirnya yang tipis dan berwarna kalem, sungguh membuat Rangga gemas dengan mama anak-anaknya itu. 


“Gitu aja ngambek, iyaa … iya, ntar aku yang bilang ke bu Puji, biar dia pake jasa kamu aja untuk konsumsi meeting di semua lantai. Heemm jangan lupa ya komisi marketing buat aku sayang,” jawab Rangga dengan sedikit menggoda wanitanya yang langsung membola kedua matanya saat mendengar Rangga yang minta komisi. 


“Mas, tolong belikan telor ya!” 


❤️❤️❤️


Rangga minta komisi berapa yaa, bisa ajaa deehh ni orang 😆😆😆


Yuuukkk pemirsaaah like, komen, vote dan hadiah nya ya, tengkyuuhh pemirsa.

__ADS_1


__ADS_2