
"Waaahh seru nih, nggak nyangka ya kita pada ngumpul disini semua, ehh seru nih kalo kita bikin paguyuban. Gimana?" Tanya Yuni antusias.
"Iyaa … seru ya, jadi kita bisa saling silaturahmi dan saling tolong kalo ada yang membutuhkan." Sahut Arsi.
"Saya ngikut aja mbak, itu seru juga. Tapi saya ini terikat kerja mbak, mana bisa keluar-keluar bebas." Jawab Sarah murung.
"Tenang aja, bentar lagi juga Jack ngikut aja sama maunya kamu. Uupss …." Sambar Arsi keceplosan. Wanita itu langsung pura-pura menambah lauk dalam nasinya untuk mengalihkan perhatian Sarah.
"Kenapa mbak? Eemmm kok ngomongnya jadi ketahan gitu," tanya Sarah. Ternyata gadis itu memperhatikan juga, apa yang diutarakan Ngarsinah.
"Eh … nggak kok, canda aja, Jack kan orang nya baik, Sar. Siapa tau pas kamu minta ijin mau ketemuan sama aku, langsung di kasih ijin." Ucap Ngarsinah sedikit ngasal.
Dengan pedenya wanita itu menjadikan dirinya jaminan, Sarah tersenyum senang. Walaupun itu baru kira-kira, setidaknya dia bisa melihat keberanian di diri Ngarsinah, yang membuatnya jadi memiliki sedikit keberanian itu juga.
"Eh iya, Sarah aku kok kayak nggak asing ya sama kamu. Kamu rumahnya dimana? Nama orang tuamu siapa?" Tanya Yuni. Wanita itu sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya.
"Nama ibu ku Sumiati, kalo bapak, orang-orang manggilnya Mijo. Rumah ku di pinggiran desa mbak," jawab Sarah. Gadis itu sejak SMA memang tidak ada di desa, dia sudah sekolah di kota.
Karena selalu menjadi bintang kelas, dia sudah dilirik oleh Jack dan di biayai kuliah kedokterannya. Hal itu tentu dengan berbagai syarat yang mengikat, tapi kesejahteraan orang tua Sarah dijamin oleh Jack.
Syarat yang diminta Jack hanya kesetiaan dan tutup mulut untuk setiap aksi di dunia bawah tanahnya. Sebagai dokter di klinik pribadi milik Jack, Sarah terikat dengan sumpah setia itu.
"Loohh, berarti kamu cucu nya mbah Jebrak ya?" Tanya Yuni semangat. Kini Arsi dan Yuni saling tatap.
"Iya Mbak," jawab Sarah dengan senyum manisnya.
"Waahh beruntung kamu Sar, sepupu mu ada di sini juga loh. Namanya Fatim, ntar kita ketemuan ya. Dia pasti seneng kalo ketemu kamu, waaahh emang keluarga medis ya … mbah Jebrak ahli dalam hal herbal, cucu nya juga seorang dokter. Kereeeenn keluarga mu Sar," ucap Yuni antusias.
Obrolan mereka pun terus mengalir, sesekali tawa mereka berderai bersama. Setelah selesai makan, Sarah pun pamit untuk pulang. Arsi dan Yuni berpelukan secara bergantian dengan Sarah, pertemuan hari ini sungguh luar biasa menyenangkan bagi Sarah dan kedua wanita pemilik kedai kue tersebut.
Sarah sudah memasuki mobil Jack dengan bawaan yang lumayan banyak, awalnya Sarah ingin duduk di depan, tapi supirnya tidak mengijinkan, hal itu sesuai dengan perintah Jack.
Setelah melewati jalur macet, mobil mereka mulai memasuki jalan arah pinggiran kota menuju villa. Saat supir melihat ke spion, ada 2 mobil yang mengikuti mereka.
__ADS_1
"Nona, tolong hubungi tuan Jack, kita ada yang mengikuti." Titah supir kepada Sarah. Mendengar hal itu Sarah langsung panik, keringat dingin mengucur deras dibalik hijabnya.
"Ba-baik pak," jawab Sarah tergagap. Gadis itu dengan tangan gemetar, mencari nomor Jack, dan langsung menghubunginya.
Sementara Jack yang sedang menunggu kedatangan Sarah, merasa gembira melihat layar ponsel nya. Orang yang di tunggu-tunggu kini menghubunginya, dengan cepat Jack menerima panggilan dari Sarah.
"Hallo Sarah, sud–" belum selesai Jack bicara Sarah sudah menyambarnya dengan nada bergetar ketakutan.
"Tuan, tolong kami …ada 2 mobil yang mengikuti di belakang, hiks …." Ucap Sarah.
"Sarah … tenang dulu, sekarang kamu ada dimana? Tolong Sarah jangan nangis, aku akan mengatasinya." Jawab Jack.
"Kami ada di ring road tuan, to–"
Tut … tut … tuut.
Sambungan pun terputus, dengan cepat Jack memerintahkan anak buahnya, untuk menyusul sang calon ratu yang sedang dalam bahaya.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini Jack sendiri yang memimpin pasukannya. Dengan senjata lengkap Jack melajukan kendaraannya dengan muka yang sudah menggelap, pria itu memang sudah tidak muda lagi, tapi kemampuan Jack dalam bertarung tidak bisa di sepelekan.
Dor!
Dor!
Klank!
"Aaaakkkhhh … Astaghfirullah, pak gimana ini?" Tanya Sarah yang terus saja memutar tasbihnya. Tubuhnya terasa bergetar hebat dengan mata yang terus saja berair, supir terus melajukan kendaraannya.
"Merunduk nona, lindungi diri anda!" Teriak sang supir. Dengan cepat pria itu mengambil senjata api yang ada di bawah kursinya. Saras yang melihat senjata itu sontak membulatkan matanya dan menutup mulutnya, wanita itu semakin panik dan bingung apa yang harus dilakukan olehnya saat ini.
Tangannya kembali menghubungi Jack, tapi tidak diangkat. Saras teringat dengan Arsi, secepat kilat dia menghubungi nomor Arsi, tapi sayangnya tak kunjung diangkat.
Saras meninggalkan pesan di aplikasi hijau.
__ADS_1
TOLONG, KAMI DI SERANG ORANG TAK DI KENAL MBAK.
Setelah mengirimkannya, Saras memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan posisi terus menunduk. Gadis itu terus melangitkan doa untuk keselamatannya dan sang supir.
Sejurus kemudian mobil mereka berhasil disusun oleh salah salah satu mobil yang mengikutinya.
Cekiiiiittt!
Sreeettt!
Mobil yang mendahului tadi berhasil menghalang jalan mobil Sarah. Mau tidak mau sekarang semuanya berhenti, 8 orang pria bertubuh kekar keluar dengan senjata masing-masing.
Supir Sarah merasa tidak akan mampu menghadapi mereka semua sendirian, sementara Sarah dalam keadaan ketakutan. Melihat situasi nya semakin tegang, gadis itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
"Nona, tolong jangan keluar dari mobil, di bawah kursi anda ada senjata api. Tolong lindungi diri anda dengan senjata itu, mereka semua 8 orang nona." Ucap supir itu dengan suara berat. Sementara orang-orang yang ada di luar kini mulai mendekat.
Suara tawa mereka membahana, sehingga mampu membuat siapapun akan kehilangan nyalinya. Di dalam mobil, Sarah menghapus sisa air matanya. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu, matanya terbuka, senyumannya menggaris bibir tipis dan sorot mata ketakutan tadi kini sudah tidak nampak lagi.
"Kita hadapi mereka pak," ucap Sarah dingin. Sesaat supir menoleh kebelakang, dia cukup bingung dengan apa yang Sarah lakukan, dia melilitkan hijabnya yang menjuntai di leher, lalu menaikkan resleting gamisnya hingga di batas paha menyisakan celana panjang yang menutupi auratnya.
Ujung gamis yang terbelah itu kini saling dikaitkan, wajah ayu dan imut milik Sarah tiba-tiba berubah menyeramkan di mata sang supir.
'Siapa dia sebenarnya? Apakah benar dia akan bertarung bersama ku melawan 8 orang itu? Bukannya tadi dia menangis?' Gumam supir dalam hatinya.
Brak!
Brak!
"Keluar kalian semua!"
❤️❤️❤️
Ya Tuhan, selamatkanlah mereka dari orang-orang jahat itu. 🥺🤲
__ADS_1
Yuuukk ramaikan jempolnya, komennya, vote nya,dan hadiahnya. tengkyuuuhh pemirsaahh.
❤️❤️❤️🤲🤲🥺🌹🌹🌹