
Bapak dan ibu saling pandang untuk saling mendukung atas keputusan yang akan mereka ambil demi kebaikan putri mereka.
[Iya ndok bapak sama ibu setuju aja, semoga bisa semakin maju pola pikirnya dan menggapai apa yang dia impikan selama ini, dan siapa tau nanti ketemu jodoh orang baik ples ganteng, kan jadi memperbaiki keturunan, ya kan pak?] tanya bu Yem kepada sang suami yang dibalas dengan anggukan dan senyum menawan dari pak Slamet untuk bu Yem.
Bu Yem terlihat semangat mendukung anaknya yang ingin merubah nasib dengan hijrah ke kota mengikuti jejak Ngarsinah sahabat sekaligus saudara.
“Arsi seneng banget bu, jadi nggak kesepian juga, jadi gini Yun aku sudah punya rencana untuk merintis usaha kuliner tapi di bidang kue, aku sudah beli Mixer dan oven, kalo kamu mau nanti ini bisa kita mulai sambil aku kerja nanti kan bisa sekalian promosi.” calon janda itu tampak sangat bersyukur atas segala kemudahan dan jalan keluar untuk setiap masalah yang dia hadapi, dan apa yang sampaikan oleh Ngarsinah tadi langsung disambut bahagia oleh ketiga orang yang sedang memenuhi layar ponsel gadis itu.
[Alhamdulillah iya ndok, ibu setuju, bapakmu juga pasti setuju, jadi ilmu nya Yuni dalam bidang masak-masak bisa tersalurkan, semoga kedua anak ibu bisa sukses, jangan lupa ibadahnya dan semoga kita selalu dalam lindungan gusti Allah, Aamiin.]
Ngarsinah teringat akan kondisi bu Yem dan pak Slamet, jika Yuni nanti ke kota, mereka berdua bagaimana. Selama ini Yuni yang selalu ada di rumha itu, karena keadaan Yuni memang tidak melanjutkan kuliah seperti Ngarsinah dan Novi, wanita yang menjadi selingkuhannya David. Yuni mengikuti kursus tata boga dengan harapan suatu hari nanti akan bisa menjadi sebuah usaha.
“Bapak dan ibu bagaimana disana? sepi rumah kalo Yuni ikut Arsi ke kota bu?” akhirnya Ngarsinah tidak bisa menahan rasa khawatirnya.
[Agus kan ada ndok, sebentar lagi akan tamat dari pesantren terus nanti dia yang akan menemani kami juga akan mulai bekerja membantu bapakmu. Lagian ada karyawan yang bekerja dan banyak yang menginap di rumah itu, jadi kamu tidak usah khawatir dengan kami disini ndok.] jawaban yang menjelaskan bagaimana keadaan bu Yem dan pak Slamet jika di tinggal Yuni, membuat Ngarsinah lega dan semakin bersemangat untuk menata masa depan.
Tanpa terasa mereka sudah hampir satu jam bicara melalui panggilan video, dan akhirnya obrolan pun diakhiri karena sudah sama-sama mengantuk. Tidak lupa Yuni mengatakan dia akan ke kota hari sabtu saja tepat di saat Ngarsinah sudah libur bekerja.
*****
__ADS_1
Hari ini adalah hari pertama Ngarsinah bekerja di kantor Rangga. Tomy yang menunggu kedatangannya di lobi gedung asik memainkan ponselnya, Ngarsinah menggunakan setelan kulot dan baju berwarna biru muda dengan kerudung segi empat dengan warna senada. Wajah sederhana yang tanpa polesan make up hanya bibir yang dipoles oleh lip balm berwarna cherry, mendengar suara seorang wanita bertanya kepada resepsionis membuat Tomy mengangkat wajahnya.
“Mbak Ngarsinah?” sapa Tomy, yang membuat gadis itu menoleh mencari sumber suara, senyum ramah kembali terkembang di bibir tipisnya. “Iya pak, saya di suruh pak Rangga menemui beliau di ruangannya, apakah bapak tau dimana ruangannya?” Ngarsinah memperjelas maksud kedatangannya kepada orang yang tadi memanggil namanya, ada rasa gugup yang membuat telapak tangan gadis itu mulai berkeringat. Tomy yang tadinya duduk menunggu kedatangan gadis itu , kini sudah berjalan mendekat.
Ini adalah pengalaman pertama Ngarsinah bekerja di sebuah perusahaan, walaupun pemiliknya sudah kenal dekat dengannya, tidak membuat gadis itu terbebas dari rasa gugup. ‘Ayah, Ibu, aku akan bekerja di sebuah perusahaan besar di kota, suatu hari nanti aku akan membuat kalian berdua bangga dengan hasil kerja kerasku,’ suara hati Ngarsinah yang selalu mengingat ayah ibunya yang sudah bahagia di alam sana.
“Mari silahkan saya antar, tadi pak Rangga meminta saya untuk menjemput anda di disini, agar anda tidak merasa kesulitan.” Tomy mensejajarkan langkahnya di samping Ngarsinah, dia bisa merasakan kegugupan yang dirasakan oleh gadis itu.
“Ma-maaf saya sampai lupa bertanya, dengan bapak–” setelah sadar Ngarsinah yang sedari tadi belum menanyakan siapakah gerangan orang yang sudah membantunya untuk mudah bertemu dengan CEO perusahaan ini.
“Tomy, nama saya Tomy, saya asisten pribadi pak Rangga. Senang bertemu dengan anda mbak Ngarsinah,” sapa perkenalan yang hangat membuat kegugupan Ngarsinah mulai berkurang.
Tok!
Tok!
“Masuk!” Suara Rangga terdengar menyuruh untuk masuk. Santi yang berada dekat pintu ruangan Rangga melihat dengan tatapan datar ke arah Ngarsinah, menurut pandangan Santi, wanita yang bersama Tomy itu sangat tidak pantas untuk bertemu dengan seorang Rangga yang menjadi pria impian kaum hawa jomblo di gedung itu.
Kini wanita yang tampak tidak mengikuti trend fashion itu masuk bersama Tomy kedalam ruangan Rangga tanpa menoleh kepada sang sekretaris, membuat dia tidak berani banyak bertanya, siapa dan apa tujuannya.
__ADS_1
Kedatangan Ngarsinah memang sudah ditunggu oleh Rangga, tanpa banyak membuang waktu Rangga mempersilahkan Ngarsinah untuk duduk di sofa, Rangga pun bangkit dari kursi kebesarannya dan ikut duduk di sofa untuk menjamu kedatangan tamunya yang spesial itu.
“Tom, tolong panggil pak Gunawan kesini, biar beliau bisa menempatkan Arsi di ruangannya.” perintah Rangga kepada asisten yang merangkap sahabatnya itu, jika di kantor mereka berlaku profesional, Tomy pun bisa menempatkan dirinya. “Baik pak,” Tomy melangkah ke meja Rangga dan melakukan panggilan melalui interkom.
Rangga memulai ngobrol dengan Ngarsinah untuk mengikis rasa canggung diantara mereka. Tidak lama kemudian pak Gunawan masuk keruangan CEO dan langsung bergabung di sofa. “Pak Gun, ini mbak Ngarsinah yang biasa dipanggil Arsi, dia akan bekerja di perusahaan ini, seperti yang saya katakan kemarin dia akan bekerja dibagian keuangan, nanti tolong bapak antar mbak Arsi ke lantai delapan dan tolong juga bantu bimbing dia selama masa adaptasi,”
“Salam kenal mbak Arsi, saya Gunawan, HRD di perusahaan ini, selamat bergabung semoga anda betah ya mbak.” Sapa Gunawan ramah, sesekali pria itu melirik kearah Rangga yang menurutnya sedikit aneh. ‘Tidak biasanya si bos ngenalin karyawan baru kayak gini, tapi untuk cewek satu ini si bos kok jadi begini. Mana selera si bos kali ini buruk baget deh, padahal yang deketin selama ini kayak artis semua,’ gumam Gunawan dalam hati yang merasakan keanehan dengan perilakunya.
“Pak Rangga, saya sangat berterima kasih sekali, anda sudah menerima saya untuk bekerja disini, in shaa Allah saya akan bekerja maksimal dan loyal kepada perusahaan.” Rangga sedikit mengerutkan alisnya dengan panggilan Ngarsinah yang biasa telinganya mendengar gadis itu memanggilnya dengan ‘Mas’ kini berubah menjadi ‘Bapak’, tapi dia cepat menguasai keresahan hatinya itu bahwa sekarang mereka sedang berada di kantor.
“Selamat bergabung Arsi, semoga kamu betah disini, dan mulai hari ini kamu sudah terhitung sebagai karyawan di perusahaan ini dan sudah bisa langsung bekerja. Terimakasih dan selamat bekerja. Mereka berdua berjabat tangan, tangan Rangga masih menahan tangan dingin Arsi, entah bagaimana dia bisa terhipnotis dengan wajah polos tapi membuat hatinya merasa damai itu.
“Ekheem, pak maaf tangan anda …” Tomy berdehem dan membuat Rangga tersadar bahwa tangannya cukup lama menggenggam tangan Arsi yang terasa dingin di genggamannya. Dengan cepat dia melepaskan dan menggaruk tengkuknya yang memang tidak ada rasa gatal sama sekali, tapi malah menjadi korban garukan jari-jarinya.
“Tom, gue harus gimana? lo kan sudah senior nih masalah begini?”
❤️❤️❤️
Naahh gimana tuuhh 🤔
__ADS_1
Yuuk dukung novel ini pemirsa, dengan like, komen, subscribe dan vote ya, maafkan masih banyak kekurngan, author akan terus belajar, agar bisa menyuguhkan cerita berkualitas untuk pemirsaku tercinta, ❤️selautan. Tengkyuuhh pemirsa ❤️🌹