Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 28: Bertemu Cintya


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, Ngarsinah yang akhirnya menerima permintaan Rangga untuk menjemputnya karena motor gadis itu menginap di kantor. Tadinya Ngarsinah berniat untuk naik ojek online, tapi Rangga sudah keburu telpon dan memintanya dengan sedikit memaksa untuk menunggunya. 


Mobil mewah itu berhenti didepan pagar, Ngarsinah yang memang sudah menunggu sedari tadi, langsung berdiri dan keluar dengan tidak lupa mengunci pagar. begitu masuk ke dalam mobil, Ngarsinah dikejutkan dengan teriakan dari kedua bocah yang beberapa hari dia rindukan, tapi karena kesibukan di hari pertama kerja dan kemarennya sibuk belanja keperluan rumah, membuat gadis itu tidak bisa menemui kedua bocah yang selalu ada dalam ingatannya itu. 


“Mama!”


“Tante!”


"Maasya Allah, mama kaget, kalian mau berangkat sekolah?" Ngarsinah langsung cerah wajahnya melihat si kembar yang langsung menyambutnya. "Dedek kangen ma," Arista langsung memeluk Ngarsinah walau sedikit kesulitan. 


“Anak-anak kangen sama kamu, apa kamu nggak kangen mereka?” Rangga ikutan menyahut dan langsung menebar jeratnya, walau bagaimanapun Rangga duda yang sudah berpengalaman, sedikit banyaknya pria dewasa itu tau bagaimana menyentuh hati seorang wanita. “Kangen mas, karena beberapa hari ini sibuk jadi nggak bisa nemuin mereka. Arista yang sudah pindah kedepan dan dengan nyamannya berada di pangkuan Arsi. Wanita itu tidak berhenti mencium pipi gembul Arista, gadis itu pun tertawa riang karena rasa geli dan bahagia karena bertemu dengan wanita yang selalu dipanggilnya mama. 


“Kalo mama kangen sama kami, berarti nanti bobok sama dedek,” Arista mulai mengajukan permintaan, matanya mengerjap lucu dan senyum lebarnya memperlihatkan gigi yang masih ompong tapi tidak mengurangi kecantikan gadis kecil itu. 


“Tante nanti kita main robot-robotan ya, kakak punya robot baru namanya Robin,” Arya tak kalah suara, sejak kebersamaan mereka di kampung, Arya sudah mulai nyaman dengan si calon janda itu. 


“Jangan ma, mainnya sama dedek aja, kita main masak-masakan aja ya ma,” Arista ikutan sang kakak untuk mengajak main sang mama yang belum menjadi mamanya. 


“Sama kakak!”


“Sama dedek!”


“Sama kakak!"

__ADS_1


"Sama dedek!"


“Sama papa!"


Deg!


Perdebatan itu akhirnya berhenti dengan kedua bocah yang mantap ke arah sang papa dengan tatapan menghujam, sementara Ngarsinah entah kenapa jantungnya seperti menggedor-gedor dadanya. Rangga dengan senyum puas dengan tetap menatap lurus ke jalanan, hanya ekor matanya yang menangkap ketiga orang di sebelahnya dengan tatapan yang beragam. 


“Mama nanti mainnya sama papa, kalo kalian masih aja terus berebut,” Rangga menjelaskan apa yang dia maksud, dan pernyataan itu mampu membuat wajah Ngarsinah memanas dan mungkin sekarang sudah berganti warna warni. 


Tidak lama mobil pun memasuki halaman parkir sekolah si kembar, dan dengan berat hati kedua bocah lucu itu berpisah dengan wanita yang kini membuat hati mereka bahagia. Ngarsinah ikut turun karena Arista tidak mau turun dari pangkuannya. “Mama itu ada Cintiya, ayo ma ikut dedek,” gadis kecil itu menarik tangan kanan Arsi, sementara tangan kirinya di gandeng oleh Arya. 


“Dedek pelan-pelan jalannya, nanti jatuh,” bujuk Ngarsinah tapi tetap saja hal itu diabaikan oleh Arista. “Hai Cintya, aku mau kasih tau ke kamu sekarang aku punya mama,” Arista mendekati temannya dengan tatapan riang. Cintya yang melihat hal itu ikut tersenyum. 


“Bukanya karena botak, tapi karena tante harus menutup auratnya, biar nanti nggak masuk neraka,” jawab Arya membela sang tante dengan jawaban yang membuat Cintya hanya manthuk-manthuk. 


“Kenapa Arya panggil tante, apakah anak kembar bisa berbeda mamanya?” pertanyaan yang membuat si kembar saling memandang dan akhirnya mereka berdua menatap Ngarsinah meminta bantuan untuk menjawab atas pertanyaan Cintya.


“Cintya sayang, mereka berdua anak tante, dan mereka memanggil tante dengan panggilan yang berbeda, karena hal itu yang membuat mereka senang.” Cintya merasa senang dengan pembawaan Ngarsinah yang membuat hatinya menghangat.


“Apa boleh Cintya ikutan manggil mama?” gadis kecil itu membuat Ngarsinah serba salah, mata gadis itu menatap penuh harap, dan entah kenapa aku melihat ada kesedihan di mata bening yang bulat itu. 


‘Kenapa dengan anak ini? aku merasa bahagia Allah memberikan para malaikat kecil ini untuk mengisi hati ku, walau mereka bukan siapa-siapaku tapi bagaimana dengan Cintya, kenapa gadis sekecil ini bisa memikirkan hal seperti itu.’ pikiranku melayang sesaat melihat tatapan dengan air bening yang siap mengalir. 

__ADS_1


Ngarsinah meraih tubuh kecil itu dan memeluknya erat memberikan kekuatan kepada gadis kecil itu. “Cintya bisa panggil tante, tante sayang sama Cintya, sekarang kalian bertiga belajar dan berteman ya, tante mau berangkat kerja dulu,” Ngarsinah sudah merenggangkan pelukannya, dan kembali bicara kepada mereka bertiga.


Ketiga bocah kecil itu pun kembali merubung Ngarsinah dengan pelukan hangat mereka. Entah apa yang terjadi di pagi hari ini, Ngarsinah yang tadinya kesel karena Rangga yang memaksanya untuk berangkat bersama, sekarang dia merasa bersyukur dan bahagia karena mendapatkan kejutan dari tiga orang anak kecil yang polos dan tulus hatinya. Rencana Allah sungguh lebih baik dari rencana kita yang hanya manusia biasa.  


Rangga yang menyaksikan itu dari luar pagar, tersenyum penuh arti. “Kamu sudah merebut hati anak-anakku, dan kini hatiku pun sudah terikat padamu Arsi, ahh aku harus segera menghubungi Pras, tidak bisa lama-lama kalo begini ceritanya. Jika perlu satu kali sidang sudah langsung ketok palu.” Rangga bermonolog sendiri dan kembali masuk kedalam mobil mewahnya karena dilihatnya Ngarsinah yang sudah meninggalkan halaman sekolah dan mendekati mobilnya. 


“Lama banget tadi di dalam?” tanya Rangga dengan nada yang membuat Ngarsinah sekilas menatap pria yang ada di sebelahnya. “Itu tadi dedek ngenalin saya ke Cintya, temennya,” jawabku singkat. “Terus, tadi kok pake acara peluk-peluk Cintya?” tanya Rangga masih dengan nada yang Ngarsinah bingung mengartikannya, seperti orang yang sedang cemburu. 


Mobil terus bergerak membelah jalanan pagi yang lumayan macet. “Mas peluk-peluknya kan sama anak kecil, lagian Cintya sepertinya sedang sedih, maaf, mas kenapa?” kali ini Ngarsinah memberanikan diri untuk bertanya, karena pertanyaan Rangga yang cukup aneh menurutnya. 


“Eh, nggak papa, kamu udah sarapan?” tanyanya lagi dengan senyum yang kini sudah lebih baik daripada beberapa menit yang lalu. ‘Ada apa dengan mas Rangga, aku merasa ada yang aneh sama ni orang.’ gumam garsinah dalam hati.


“Su-sudah mas, tadi sudah sarapan, mas sudah sarapan?” tanya Ngarsinah kepada Rangga, demi menjaga sopan santun. “Belum, kamu temani saya sarapan ya,” jawab rangga yang membuat Ngarsinah seperti tidak bisa lepas dari semua permintaan pria tampan pemilik si kembar itu. 


“Mas, maaf saya takut terlambat absen, nanti jam sepuluh kita akan meeting di kantor besar, kalau saya terlambat bisa ditegur pak Gunawan nanti mas.” Ngarsinah berusaha untuk menolak secara halus dan memang seperti itulah kenyataannya bahwa jam masuk sebentar lagi akan tiba. 


Bukan Rangga namanya jika mudah menyerah, pria itu sudah bertekad untuk membuat hubungannya dengan Ngarsinah semakin dekat. Hal ini didukung oleh permintaan Arista yang memintanya membawa mama Arsi pulang kerumah mereka. 


“Temani saya sampai selesai, dan saya tidak menyukai penolakan,”


❤️❤️❤️


Nah ... Nah kan, maksa nih, eh tapi siapa yang maksa ya? 🤔🤭

__ADS_1


Yuukk jempol di goyang pemirsaaahh, ramaikan komennya, vote dan hadiah nya di tunggu ya. ❤️ selautan dan tengkyuuhh buat pemirsaku tercinta 😘


__ADS_2