
"Aaakkhhh!" Teriakan Simon tertahan. Darah segar mengalir di lengan berototnya, pria itu tersenyum misterius. Sarah menatap tajam musuhnya, dia sedang berpikir apakah sebaiknya dia turun atau atau bertahan di pohon ini.
Simon mengeluarkan botol kecil dari dalam saku celananya, pria itu merobek tangan bajunya dan menabur bubuk tadi di tempat luka yang menganga. Jangan ditanya bagaimana sakitnya, namun pria itu berusaha untuk menahan.
Darah yang mengalir td kini berhenti seketika dan pria itu siap menyerang Sarah kembali. Dengan gerakan yang lincah mereka berdua memainkan pedang samurai tajam itu.
Dahan, daun dan ranting pohon besar itu sudah tentu menjadi sasaran ketajaman kedua pedang itu, namun para pemiliknya asik saling serang.
"Aku tidak akan melepaskanmu cantik!" Ucap Simon saat pedangnya menukik tajam dari arah atas. Pria itu melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, Sarah tidak kalah sengit meladeni sambaran demi sambaran dari Samurai milik Simon.
"Aku yang akan mendapatkanmu tuan, jangan salahkan aku jika samurai ini mengincar nyawamu!" Teriak Sarah tak kalah mengancam. Wanita itu kini sudah berubah menjadi pendekar wanita yang berhijab, tatapannya tajam membidik lawan.
Dia tidak ingin membunuh Simon, tapi jika itu takdir pria itu, maka jangan pernah salahkan dirinya.
Bugh!
Bugh!
Tendangan memutar Sarah bersarang di ulu hati pria bertubuh tinggi besar itu, nyaris terjatuh dari pohon, namun Simon masih sempat meraih ranting yang cukup kuat untuk membuatnya bertahan.
"Manis sekali, aku suka gayamu cantik. Aku akan menjadikanmu permaisuri ku!" Ucap Simon dengan senyum yang lebih mirip seringai iblis.
"Jangan mimpi tuan,aku lebih baik mati daripada ikut denganmu. Hiiiyyaaaa!" Teriak Sarah setelah menyahuti racauan Simon.
Celassss!
Ceelaasss!
Sarah mengambil kesempatan yang sangat sempit itu, dengan gerakan lincah wanita itu mampu membuat luka baru yang lebih panjang di perut dan dada Simon.
__ADS_1
Simon yang belum siap, kehilangan keseimbangan. Tubuhnya kini terjun bebas dari ketinggian, bumi pun siap menerima Simon untuk mendarat.
Gedebuumm!
Tubuh tinggi besar itu langsung menghantam permukaan tanah yang keras. Erangan kesakitan keluar dari mulut sang pimpinan black dragon.
"Musuh roboh, tapi aku tidak tau siapa dia."
Sarah bicara melalui perlengkapan komunikasinya. Jack berlari cepat ke pohon besar tempat istrinya menjatuhkan musuh, namun saat dia sudah mulai dekat Simon sudah mulai bergerak pergi dibantu oleh anak buahnya.
"Simon?" Jack menghentikan larinya, dia mengenal pria yang sedang dipapah oleh orang-orang berpakaian serba hitam. Simon sempat menoleh ke arah Jack dan menyelipkan senyuman di bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Apakah Sarah yang membuatnya seperti itu? Ohh astaga, istriku …."
Jack secepat kilat melesat kembali menuju pohon, pria itu sangat mengkhawatirkan Sarah.
Mengetahui sang suami sudah menunggunya, Sarah pun mendekati Jack yang masih terpana.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Tanya Jack yang langsung memeluk tubuh kecil istrinya. Untuk sesaat merela melepaskan rasa saling megkhwatirkan.
Sementara di tempat Simon, pria itu langsung masuk kedalam mobil yang sudah tersedia. Tidak mau pikir panjang lagi, dia pun memutuskan untuk menarik pasukannya sebelum kalah banyak.
"Semua pasukan, mundur!" Titah Simon datar namun tegas. Perang ynag sudah nampak kalah banyak itu pun harus segera di hentikan karena titah sang pimpinan.
Ccuuuuuussshh!
Sebuah sonar bercahaya nampak melayang diangkasa, itu adalah pertanda kalau perang dihentikan dan pihak penyerang mundur teratur. Jack yang melihat tanda itu hanya teraenyum lega, pria itu tidak ingin ada pertumpahan darah diantara White Demon dengan Black Dragon. Hal ini dikarenakan, Simon dan Martha sebenarnya satu perguruan.
Melihat hal itu, Jack pun memberikan perintah untuk mundur pada semua pasukannya.
__ADS_1
"Mundur dan kembali pada posisi nol. Bawa semua teman yang terluka dan segera bereskan yang sudah meninggal," titah Jack datar. Pria itu bicara seakan tidak punya hati sama sekali, Sarah memperhatikan wajah suaminya dengan seksama.
"Yes sir!"
"Siap tuan!"
"Siap bang!"
Suara-suara tanda mereka paham pun menggema di telinga pria itu, inilah yang Sarah baru mengerti. Biasanya dia akan mengobati para pasukan yang terluka parah, begitu juga dengan pasukan yang sudah meninggal. Perawat dan dokter akan menangani jenazah dengan baik. Hal ini dia lakukan, sebagai penghormatan terakhir bagi anak buah Jack.
'Ternyata seperti ini caranya mereka mendapatkan luka, ckckck kehidupan yang sungguh keras dan berbahaya.'
Sarah terus saja bergumam dalam hatinya, sementara Jack sudah sibuk membantu beberapa pasukan mereka yang terluka. Sarah, Rangga, Bram dan Jack juga Fatim mereka semua selamat dari maut.
Hanya beberapa luka saja yang menghiasi tubuh mereka, tapi senyum bangga pun terbit di bibir mereka. Seakan baru saja selesai berperang melawan penjajah, karena itulah salah satu dari mereka tetap waspada.
Mereka semua kembali bergerak ke arah kediaman Sarah, ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berlima.
"Asli keren banget tadi kita ya bro," ucap Bram sambil jalan beriringan. Rangga tersenyum mendengarkan celotehan sahabatnya itu.
"Apakah Jack juga bisa menghabisi orang?"
❤️❤️❤️
Tuhh kan, selidiki dulu gih. Haduuhh ini gimana ya? 🧐
Yuukk like, komen, vote, hadiah, subscribe dan follow ya pemirsaaah, mohon dukungan dengan bintang 1 ya pemirsaah. Othor berharap tidak ada yang memberikan bintang 1, karena hal itu sungguh menyakitkan bestie. Tengkyuuhh pemirsaaahh.
❤️❤️❤️🧐🧐🧐🌹🌹🌹
__ADS_1