
Perasaan Fatim jadi tidak karuan melihat sosok yang sangat dia segani, pria itu menatap dalam ke sepasang netra Fatim.
"Bang Jack, a-apa kabar Bang? Sarah mana?" Tanya Fatim gugup. Tatapan Jack yang dingin dan tajam serta raut wajahnya yang minim senyum membuat Fatim gergetar.
"Ada apa ini? Bana David? Lalu kenapa kamu makan malam dengan pria itu?" Tanya Jack beruntun. Sejak peristiwa lalu, hubungan mereka memang sudah seperti saudara. Jack sudah seperti kakak tertua untuk Ngarsinah, Yuni, Fatim dan Sarah yang sekarang berhasil menjalani takdirnya sebagai istri dari seorang Jack.
"Abang, kenalkan teman Fatim. Dia tuan Raziq," ucap Fatim memperkenalkan pria tampan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara Fatim dan Jack.
Jack menyambut uluran tangan Raziq, mereka pun saling berkenalan. Sekarang giliran anak-anak yang harus mendekat ke pria berwajah dingin itu.
"Paman, maaf Jay tadi sedang asik makan. Paman apa kabar?" Tanya Jay ramah setelah sedikit takut-takut untuk salim kepada Jack. Melihat keponakannya yang ketakutan, Jack tersenyum hangat.
"Jay, kau harus jadi anak laki-laki yang kuat. Jangan cengeng seperti itu," sahut Jack yang kini sudah berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan keponakannya itu. Untuk sesaat kini mereka berpelukan. Fatim tersenyum haru melihat apa yang dilakukan dua orang laki-laki beda generasi itu.
"Hallo paman, kenalkan nama ku Yash. Aku anaknya papa Laziq, dan ini mama ku," ucapan polos Yash tentu saja disambut baik oleh Jack.
"Uhuk … uhuk!" Tapi beda dengan Fatim yang langsung tersedak dengan ludahnya sendiri. Jack melihat sekilas ke arah Fatim, pria itu pun kembali menatap hangat pada Yash yang lucu.
Sementara Raziq dengan cepat mengambilkan air putih dan diberikan pada Fatim. Wanita itu hanya bisa mengangguk kecil, tanda ucapan terimakasih.
"Hallo Yash, panggil aku paman Jack." Sahut Jack ramah. Dan kini untuk sesaat mereka terlibat obrolan versi anak-anak. Selesai meladeni kedua bocah yang berbeda karakter itu, kini Jack kembali kepada Fatim.
__ADS_1
"Ada apa ini Fatim, mana David?" Pertanyaan itu sukses membuat Fatim kelimpungan.
"Eemm anu bang, itu … bisakah besok Fatim ke kantor abang?" Tanya Fatim yang bingung harus bicara apa. Keberadaan Raziq dan momennya yang tidak pas untuk menjelaskan keadaan dirinya saat ini.
"Oke datanglah jam 9 ke kantor besok," jawab Jack datar.
"Tuan Jack, mari silahkan duduk. Jika tidak keberatan saya mengundang anda sekarang ini untuk makan bersama kami," ucap Raziq ramah. Jack yang merasa tidak enak untuk menolak akhirnya pun duduk, sesaat pria itu celingukan seperti sedang mencari seseorang.
"Abang ….! Panggilan seseorang memecah keheningan sesaat tadi. Seorang wanita cantik dengan hijab yang membalut kepalanya, membuat penampilannya semakin sempurna. Perut wanita itu sudah terlihat sedikit membuncit, Jack langsung berdiri menghampiri Sarah yang tersenyum kepadanya.
"Lama banget sayang kamu ke toiletnya," tanya Jack yang langsung menarik satu kursi untuk sang istri tercinta.
"Sarah … maasya Allah kangeen banget aku!" Sahut Fatim tak kalah seru. Untuk sesaat kedua wanita satu kampung itu pun melepas rindu, para pria dan anak-anak hanya diam menikmati pemandangan keakraban yang begitu manis.
Akhirnya kencan makan malam untuk menggaet Fatim pun berubah tema, makan malam mereka kini ditambah dengan kehadiran Jack dan Sarah.
Di tempat lain, nampak David sedang sibuk memasukkan semua belanjaan Samira dan putri cantiknya. Mereka baru saja selesai membeli kebutuhan Samira dan Viona, David dengan telaten membantu Samira untuk masuk kedalam mobilnya dan memastikan kalau wanita itu sudah duduk dengan nyaman.
"Samira, kita makan dulu ya. Kamu ingin makan apa?" Tanya David lembut. Sesekali pria itu menoleh ke arah sang wanita yang dengan cepat menguasai hatinya.
"Emm … makan kamu kak," ucap Samira cepat.
__ADS_1
Deg!
Jantung David sontak berdetak lebih kencang dari biasanya, ini kode dia menerima atau hanya salah ucap saja. Seperti itulah yang dipikirkan David. Pria itu menoleh ke kiri untuk melihat wajah cantik Samira, pria itu tersenyum lembut ke arah wanita beranak satu itu.
"Kamu serius?" Tanya David cepat.
"Eh … maksudnya makan apa aja yang jadi kesukaan kakak," sahut Samira meralat ucapannya. Wanita itu melempar pandangannya ke arah luar jendela.
Jack memberanikan diri menggenggam tangan Samira yang masih terasa hangat, pria itu sudah tidak sabar rasanya untuk menghalal kan wanita yang sudah dia kenal dari kecil.
"Kak, fokus aja nyetirnya. Jangan pegang-pegang begini," ucap Samira manja. Tapi wanita itu tidak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan besar milik David.
"Tangan kamu membuatku tenang Mira, oya kita mampir ke restoran itu saja. Banyak pilihan menunya disana," ucap David. Samira hanya mengangguk pasrah.
Tanpa menunggu lama, mereka pun sudah berada di parkiran resto yang akan di tuju. Saat mereka sampai di depan Resto, tiba-tiba langkah Samira berhenti dan kedua matanya membulat sempurna.
"Jinny …."
❤️❤️❤️
Siapa itu? Waduuh Bersedia di pegang-pegang gimana beraniku? Tanya E sayanh 🥰🥰❤️
__ADS_1