Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 21: Dia Anak Siapa?


__ADS_3

Kedua pria dewasa itu terlibat percakapan setelah saling berkenalan. Wajah datar David mulai berubah setelah mendengar profesi Rangga yang seorang pengusaha besar di kota. Dia sebagai pengusaha yang sedang naik daun tentu saja senang mendapatkan relasi baru, berharap bisa masuk ke dalam circle nya para pengusaha hebat, itu adalah impiannya. 


Pada akhirnya mereka berdua pun bertukar nomor telepon. Rangga yang tadinya berniat untuk silaturahmi ke tempat David akhirnya batal, karena mereka sudah bertemu disini. 


 Pak Slamet masuk untuk memanggil Ngarsinah, membutuhkan waktu yang cukup untuk mereka bertiga bicara, saling menguatkan dan akhirnya gadis sederhana itu memberanikan diri untuk keluar menemui pria yang sudah menjatuhkan talak tiga kepadanya. Tidak lama Ngarsinah pun keluar beriringan dengan pak Slamet yang diminta Ngarsinah untuk menemaninya. 


Sesaat suasana menjadi dingin. Rangga merasa sedang berada di tempat yang tidak tepat, tapi untuk pergi dari situ pun dia merasa tidak punya alasan dan lebih tepatnya pria itu tidak mau melihat wanita yang mulai di mengisi hatinya itu menghadapi masalahnya sendirian. 


“Arsi aku kesini hanya untuk menyerahkan surat pernyatan talak tiga ku, agar pihak pengadilan tidak berlama-lama untuk mengesahkan perceraian kita.” ucapan datar David yang ditujukan kepada Ngarsinah membuat gadis itu menatap lurus dengan tatapan tak terbaca.


“Terima kasih, kamu sudah memudahkan langkahmu, semoga Allah pun juga memudahkan semua urusanmu.” Ngarsinah berusaha tegar menerima selembar surat dengan Amplop putih yang membungkusnya. Gadis itu membuka dan mulai membacanya. 


Hatinya bergemuruh tapi berusaha untuk tidak dia tampakkan sama sekali. Pernyataan bermaterai sepuluh ribu itu dengan tegas mengatakan bahwa dirinya telah menjatuhkan talak tiga karena Ngarsinah mandul. Pernyataan itu membuat hatinya teriris, tapi berusaha dia menahan rasa sakit dari luka tak berdarah itu. 


“Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, maaf saya permisi dulu, silahkan anda lanjutkan dengan mas Rangga.” ucap Ngarsinah sambil berdiri dan sedikit membungkukkan badannya, David hanya mengangguk kecil lalu kembali melanjutkan pembicaraan dengan Rangga. 

__ADS_1


Rangga yang tanpa diminta menjadi saksi atas perang dingin antara dua orang yang pernah hidup bersama dalam ikatan pernikahan itu. Tidak mau ikut campur, Rangga seakan tidak mau tau dengan masalah teman barunya itu, melanjutkan pembicaraan dan sekarang melibatkan pak Slamet karena akan menjadi orang kepercayaan sekaligus menjadi karyawan di perusahaan Rangga. 


David berusaha bersikap profesional kepada pak Slamet, sikapnya biasa saja dan menghormati karena sekarang mereka adalah rekan bisnis. ‘Untuk menjadi orang besar, harus berteman dengan orang besar, dan tuhan mengirim pengusaha muda yang namanya sudah banyak di kenal, aahh memang ini adalah hari keberuntunganku,’ suara hati David, senyum tipis menghiasi bibir pria tampan itu dengan pandangan lurus ke arah Rangga yang penuh arti dan siasat. Pikirannya menerawang membayangkan dia akan berdiri sejajar dengan para pengusaha kelas atas, hal itu akan membuat pamornya di kampung ini semakin bersinar. 


“Oke deh pak Rangga, sepertinya saya harus balik lagi ke kantor, kabari saja saya kalau anda akan berkunjung ke sini, kita akan bersaing sehat, dan saya pun akan selalu memberikan info kepada anda ketika harga naik turun. Pak Slamet, selamat ya sudah bergabung di perusahaan pak Rangga,” pamit Rangga sekaligus memberikan selamat kepada pak Slamet dan tersenyum ramah. 


Pria tampan berparas bule itu pun melangkah keluar rumah, rumah yang dulu sempat ditempatinya bersama Ngarsinah, dan di rumah itu pula dia mendapatkan harta berlimpah berkat kelicikannya membodohi gadis itu. 


Waktu beranjak siang, di rumah sebelah Yuni dan Joko pun akhirnya menyelesaikan masalh mereka, Joko pulang dengan membawa kegagalan merayu Yuni untuk merubah keputusannya. Pria itu pun keluar tanpa berpamitan kepada kedua orang Yuni. setelah memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. “Aaaakkhh! bodohnya aku, baru tadi pagi aku mengatakan untuk bersama sari dan menyelesaikan hubunganku dengan gadis jelek itu, tapi sekarang aku datang mengemis kepadanya, ini semua hanya karena ibu!” teriak Joko yang berteriak sambil memukul-mukul setir mobilnya. 


“Kalo aja ibu gak bikin syarat akan memberikan semua warisannya kepada ku kalo aku menikah dengan Yuni, gadis yang sangat ibu sukai, kenapa harus si Yuni itu sih bu. Sari jauh lebih cantik, lebih pantas mendampingiku, pandai berdandan dan body nya yang selalu bikin aku nggak bisa jauh dari dia. Yuni bagusnya apa? pake baju selalu kampungan, dan nggak pandai dandan, ketutup dari ujung kepala sampai kaki, bagusnya dimana?!” teriak frustasi menghadapi nasibnya yang tidak akan segera mendapatkan warisan dari sang ibunda. 


Yuni yang sudah selesai membersihkan pecahan gelas yang dia hempaskan ke lantai, memeriksa semua pintu rumahnya dan memastikan dalam keadaan tertutup. Gadis itu melangkahkan kakinya ke rumah sebelah untuk bertemu sahabat yang beberapa lama ini meninggalkannya untuk merajut kehidupan baru di kota. 


Seperti rencana semula, Ngarsinah hanya akan membawa pakaian dan dokumen penting yang dia butuhkan, itu pun sebagian sudah dia bawa dan sekarang sudah ada di rumah barunya. beberapa dos besar sudah dikemas rapi dan mulai diangkat oleh pak Slamet yang di bantu Rangga ke dalam mobil berukuran besar itu.

__ADS_1


“Yun kamu masih sedih karena gak jadi menikah sama Joko?” tanya Ngarsinah kepada sahabatnya yang masih sibuk membantu memilih baju-baju sahabatnya yang akan dibagikan kepada warga. 


“Nggak lah, walau awalnya aku sedih karena aku pikir semuanya akan berjalan seperti apa yang aku harapkan, tapi ya lebih baik batal daripada nanti aku jadi janda,” jawab Yuni yang terkekeh mengingat nasib sahabatnya. Ngarsinah pun ikut tertawa mendengar kalimat temannya yang sudah seperti saudara itu. 


“Mamaaa! huuuu huuuu mamaaa!” teriakan Arista yang sedang menangis membuat Arsi melompat dan keluar kamar mengejar arah sumber suara. “Mama? kapan Arsi punya anak?” Yuni yang mengikuti langkah Arsi walau dia tertinggal jauh, terus saja bergumam mengulang teriakan dari suara gadis kecil. 


Sedari Yuni datang, dia tidak melihat ada anak kecil, dan sekarang telinganya mendengar seorang anak kecil memanggil mama, dan sahabatnya yang pontang panting datang menghampiri. Ada apa ini?.


“Dedek tadi main apa kok sampe luka begini, cup … cup, ayo kita masuk dulu yuk, mama obatin ya,” Arsi yang sedikit panik berusaha menenangkan gadis kecilnya. Sementara Arya hanya diam dan sedikit ketakutan karena melihat lutut adiknya yang banyak mengeluarkan darah. 


“Nggak mau di kasih obat ma, dedek takuuuttt huhuuuuu huuu, tangisan Arista semakin heboh dan membuat Arsi sedikit sulit menggendongnya karena gadis kecil itu terus saja bergerak karena takut di obati. Mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruang tengah, Arya memanggil ayahnya karena takut dimarahi oleh tante Arsi karena sudah membuat adiknya terluka. 


“Mama, kerumah dedek aja, kalo nggak mau, dedek yang pulang kerumah mama!”


❤️❤️❤️

__ADS_1


Yuni yang kuat ya. Jerat anak-anak emang lebih ampuh dari sekedar pesona pria ya pemirsaahh🤣🤣🤣. Selamat hari ibu untuk semua ibu hebat, maaf terlambat🙏.


Yuk dukung terua novel ini dengan jempol, komen, hadiah dan vote yaa, tengkyuuhh pemirsa. ❤️ selautan untuk readers semua 😘😘😘


__ADS_2