Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 35: Naik Motor Bertiga


__ADS_3

“Astaghfirullah, maaf pak kami sudah mengganggu anda, ayo nak kita pulang,” Ngarsinah membawa kedua anak kecil itu untuk keluar ruangan dimana sedang ada dua orang dewasa yang tengah berbuat tidak pantas untuk dilihat oleh anak berusia lima tahun. Ngarsinah merasa perih di hatinya, Rangga yang selama ini berusaha mendekatinya ternyata sudah memiliki wanita yang akan menjadi ibu buat si kembar. 


"Hey kamu nggak tau sopan santun ya, masuk ruangan orang itu harus ketok dulu!" Bentakan Betty membuat Arista terkejut dan memeluk kaki Ngarsinah. Wanita itu sepertinya lupa, dia tadi masuk ke ruangan Rangga pun tidak menggunakan sopan santun. "Ma-maaf bu," jawab Ngarsinah terbata, dengan sigap wanita cantik itu menggendong tubuh mungil Arista. 


“Kamu baby sitter yang baru?” pertanyaan itu tidak lagi tanggapi oleh Ngarsinah. Wanita dewasa dengan kecantikan yang sederhana itu segera balik kanan dan bergegas meninggalkan ruangan yang terasa panas di matanya.


"Sayang, aku tanya sama dia loh, kok gak dijawab? Malah pergi gitu aja," tanya Betty dengan gerutuan yang membuat Rangga semakin kesal.


Betty, Wanita cantik dengan beberapa bagian tubuh terekspos, siapapun laki-laki yang melihatnya akan selera dan ingin mendekatinya. Wanita itu seperti artis-artis yang ada di televisi, make up yang membuat pahatan wajahnya semakin sempurna. 


"Arsi, anak-anak tunggu, aku akan jelaskan!" Teriak Rangga dengan keras, namun langkah ketiga orang beda generasi itu tidak berhenti. Sekali lagi Rangga tidak peduli dengan pertanyaan Betty, pria beranak dua itu dengan kasar melepaskan tangan Betty yang melingkar di lehernya. 


Dengan cepat Ngarsinah melangkahkan kaki nya diikuti Arya yang terpaksa berlari kecil untuk bisa mengikuti sang tante. Arista yang sudah menangis dalam gendongan Ngarsinah, membuat wanita itu sedikit kerepotan. Tubuh gadis kecil itu gemetar karena bentakan Betty, Ngarsinah tidak melepaskan sedikitpun tangan kirinya yang menggandeng Arya, sementara Arya sudah merah padam wajahnya karena marah. 


Betty yang berada di ruangan Rangga berusaha menghalangi pria itu dengan kembali menarik tangan pria yang menjadi incarannya. “Sayang kok kamu tega sih ningglin aku! toh mereka sama baby sitternya, aman lah,” rujuk Betty yang terus saja menahan Rangga. Hal ini membuat pria tampan itu ketinggalan jauh oleh tiga orang yang sedang terluka perasaannya karena perbuatan Betty. 


"Kakak, kita naik motor tante aja ya, kamu nggak pa-pa kan kak?" Tanya Ngarsinah saat mereka sudah berada di dalam lift menuju parkiran. 

__ADS_1


"Iya tante, kakak belum pernah naik motor, tapi kakak sering lihat di televisi, kalo anak-anak di bonceng mamanya harus peluk biar nggak jatoh," jelas Arya meyakinkan sang tante agar tidak khawatir saat nanti membonceng dirinya. 


"Anak pintar, iya kakak nanti peluk tante yang kuat ya," jawab Arsi senang, karena sang anak siap untuk berpetualang dengannya. Ngarsinah maklum anak-anak ini tidak pernah naik motor, jadi tatapan berbinar pun menghiasi mata indah milik pria kecil yang tersenyum tipis. Sedikit mengurangi ketegangan wajahnya akibat amarah yang tadi menghiasi wajahnya.


lift yang mereka naiki sungguh terasa lama sekali sampainya, membuat wanita itu mulai kesal. Pembicaraan tadi pun terhenti dan kembali Arya murung karena teringat dengan kejadian barusan. 


"Tante Arsi, kenapa tante Betty peluk-peluk papa? Kakak nggak suka papa di cium sama tante sihir itu!" Tanya Arya sekaligus menyatakan ketidak sukaannya dengan istilah ‘tante sihir’. Sesaat Ngarsinah tersenyum tipis dengan istilah baru yang dilontarkan bibir mungil milik Arya. Pria kecil itu mengangkat wajahnya untuk bisa menatap kedua netra milik Arsi. Hati pria kecil itu, kembali sesak, matanya mulai berair, tapi sekuat tenaga dia menahan agar cairan bening itu tidak luruh. walau dia tidak terlalu bisa menyuarakan isi hatinya, tapi dari bahasa tubuh dan raut wajahnya Ngarsinah sangat paham kalau anak bosnya itu sangat murka.


'Oh, namanya Betty, dasar buaya darat, baru saja menebar pesona kepadaku, sekarang dia malah bermesraan dengan wanita lain. Untung aku tidak termakan rayuannya.' gerutu Ngarsinah dalam hati. 


Ting! 


Pintu kotak besi itu terbuka. Arista sudah mulai tenang, hanya tinggal isakan tangis nya yang masih terdengar. “Dedek nggak papa ya kita pulang naik motor?” tanyaku sambil menurunkan tubuhnya dari gendonganku. “Iya ma, dedek mau coba naik motor, dedek di depan ya ma.” jawabnya dengan senyum yang manis, tidak lupa ingus bening yang mulai keluar dari lubang hidungnya yang mungil. Dengan sabar Ngarsinah membersihkannya dengan tisu yang baru saja dia ambil dari tasnya. 


Srooot!


Dengan semangat Arista mengeluarkan cairan itu dari hidungnya, dan kembali senyumnya terkembang dan memamerkan beberapa giginya yang ompong. “Makasih ma,” ucapnya yang disambut dengan anggukan oleh Ngarsinah. Ngarsinah mengangkat tubuh Arya terlebih dul untuk duduk di bangku belakang, lalu dia pun menempatkan dirinya untuk duduk untuk bisa mengatur posisi. Dengan pelan dia mengangkat tubuh Arista untuk duduk di depan. Setelah memastikan mereka duduk dengan aman, barulah Ngarsinah sadar apa yang harus dia lakukan agar kedua bocah yang baru hari ini naik motor.   

__ADS_1


Tiba-tiba ide itu muncul, dengan cepat dia melepaskan tas yang biasanya menyilang di pundak dan melingkarkan talinya pada tubuh Arya. Setelah mengikatkan tali tas pada tubuhnya Arista, dengan hati-hati wanita cantik itu melajukan motor matik berwarna merah itu dengan hati-hati dan kecepatan sedang. . 


Satpam yang melihat Ngarsinah mengikat kedua bocah kecil dengan tasnya terkagum-kagum dibuatnya. "Sungguh emak-emak jaman now, selalu aja ada ide unik buat anaknya aman dan nyaman, tak ada seatbelt tas pun jadi." Gumam pak satpam yang tidak tau kalau kedua bocah itu adalah pewaris tahta kerajaan bisnis bos besarnya. 


Rangga yang mengejarnya sampai lobi gedung itu, merasa kesal karena Ngarsinah tidak mau berhenti untuk mendengarkan penjelasannya dan diapun tidak sempat mengejarnya. Pria dewasa itu pun nampak terperangah dengan aksi Ngarsinah membawa kedua buah hatinya. Rasa khawatir menguasai hatinya, dan satu lagi kesalahan yang pria itu lakukan, kenapa tadi dia tidak membawa kunci mobilnya sekalian. 


Dan sekarang dia harus kembali ke lantai atas untuk membereskan berrkas-berkas yang bisa saja di salah gunakan oleh Betty, pria tampan itu semakin frustasi dengan kecerobohannya. Betty bukanlah wanita bodoh, dia akan melakukan banyak cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. “Aaakkhhh siaall! kenapa aku bisa se bo^doh ini dan ceroboh, aku meninggalkan wanita ular itu di ruanganku, sementara banyak sekali berkas penting yang ada di dalam!” Teriakan Rangga menggema di dalam lift yang saat ini dia tumpangi. 


Setelah membereskan ruangan dan mengusir paksa wanita ular itu, Rangga berencana untuk langsung menyusul Arsi ke rumahnya. Itulah rencana pria tampan itu, tapi semua rencana kini tinggal rencana, karena Betty masih santai di ruangannya. Sesaat Rangga teringat kembali apa yang terjadi tadi.


 "Biasakan mengetuk pintu, kau itu diajarkan sopan santun nggak sih oleh orang tuamu,"


❤️❤️❤️


Parah ini si tante sihir, eh siapa tuh yang di katain gitu 🤔.


Yuukk para dermawan jempol, komen dan hadiah juga vote nya, hari Jum'at penuh berkah nih bestie... 😆, makasiih dukungannya ya, yuukk ikutin terus kisah Rangga dan Ngarsinah. ❤️ selautan untuk pemirsa semua, tengkyuuuhh pemirsa ❤️🎉🌹

__ADS_1


__ADS_2