Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 79: Murkanya David


__ADS_3

“Aku selalu menginap di hotel ini kalau suamiku ada urusan ke kota, kamu itu pengantin baru atau baby sitter? katanya orang kaya kok nggak bisa bayar suster, “ ucap Novi setelah mengejek Ngarsinah dengan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dijawab. 


Ibu sambung si kembar hanya tersenyum malas, meladeni wanita ulat bulu seperti ini tidak akan ada selesainya. Entah kenapa lift ini lama sekali terbukanya, Arya yang mendengar itu berusaha mencerna pembicaraan dua orang wanita dewasa itu. 


"Tante jangan ngomong begitu, mama ku mengurus kami karena mama sayang kami. Suster hanya membantu mama aja, apa tante nggak punya anak?" Tanya Arya kesal, bocah kecil itu merasa tidak senang dengan cara Novi yang mengejek sang mama. 


"Eeehh kamu anak kecil nggak punya sopan santun sama orang tua, apa kamu nggak diajarin sama mama mu!" Hardik Novi kepada Arya, matanya yang melotot dan menyiratkan kebencian membuat Arya sama sekali tidak takut. Bocah lima tahun itu bisa merasakan kalau wanita yang ada di hadapannya bukan orang baik. 


"Jangan bilang aku anak kecil tante, lagian kenapa harus marah ke Arya, kalau tante punya anak pasti akan lebih senang bersama anak bukan suster. Jangan pernah tante bicara kasar lagi sama mana Arsi," ucap Arya dingin, bocah kecil itu seakan menantang Novi untuk adu kecerdasan. 


Novi geram dengan anak sambung Ngarsinah yang sudah seperti anak kandung sendiri dalam membela mamanya, tangan wanita itu sudah terayun untuk menganiaya Arya, Ngarsinah yang melihat hal itu langsung menangkap tangan Novi.


"Cukup Novi, dimana akal sehatmu! Kamu mau menyakiti putra ku, hah!" Bentak Ngarsinah yang langsung hilang kesabarannya karena sikap Novi yang mulai membabi buta. Arya sama sekali tidak takut melihat Novi, bocah itu sudah menyiapkan sebuah rencana jika wanita itu macam-macam kepadanya. 


"Novi …" suara bariton itu menginterupsi perang mulut diantara kami, David datang dengan wajah yang memerah, entah akan dia muntahkan kemana amarahnya. 


Ting!


Pintu lift terbuka dan tanpa berpamitan Ngarsinah menarik lembut tangan Arya untuk memasuki lift, dengan cepat mantan janda itu pun menutup pintu. Kini tinggal Novi dan David yang siap untuk berperang. 

__ADS_1


"Novi, aku tidak suka kamu bersikap seperti itu kepada Arsi, apalagi di depan anak kecil!" Bentak David dengan suara yang berusaha di tekan. Pria bule itu sangat sadar kalau mereka sekarang berada di daerah umum, jadi tidak bisa seenaknya.


"Sayang, kenapa kamu jadi sering marah-marah sih kalo jika menyangkut perempuan mandul itu?!" Balas Novi merasa tidak terima dengan perlakuan David kepada dirinya. Ada rasa nyeri yang mendesak relung wanita cantik itu.


"Aku tidak suka kamu berbuat kebodohan yang nantinya akan mencoreng nama baikku Novi, suami Arsi pengusaha yang berpengaruh di negeri ini, kita sangat membutuhkan bisa bekerja sama dengan dia. Tapi sekarang kamu malah membuatnya terluka dengan mulutmu yang tidak berpendidikan itu!" Geram David dengan rahang yang sudah mengetat. 


"Alasan! Bilang aja kamu cemburu kan? Aku tau sayang, kamu kembali menaruh hati dengan mantanmu itu. Jangan kamu kira mataku buta!" Sarkas Novi dengan wajah yang sudah memerah karena amarah yang sudah membakar kewarasannya. 


Novi berlalu dan kembali ke kamar, tadinya dia ingin berjalan pagi lalu sarapan, kini semuanya berantakan. David mengekori istrinya dengan amarah yang tak kalah besar, inilah yang David takutkan, ketika Novi bertindak di luar nalar. 


*****


"Yuni, besok tolong kamu yang handle untuk snack box di kantorku ya, nggak banyak kok, hanya 500 box aja. Kamu kirim list harga sekarang ya sayang," ucap Bram yang pagi-pagi sudah duduk manis menikmati kopi susu dan sandwich kesenangannya. 


Tanpa perlu mengeluarkan biaya promosi yang besar, Ngarsinah dan Yuni sudah kewalahan untuk melayani pesanan snack box atau mengisi kedai itu sendiri. Karyawan kedai semakin bertambah, kedua wanita pendiri kedai roti itu memang memprioritaskan karyawan dari keluarga sederhana, agar bisa membantu meningkatkan ekonomi mereka. 


Tempat yang sudah diperluas pun kini terasa kurang, karena sekarang rumah Arsi sudah tidak lagi berbentuk rumah dan tidak layak untuk ditempati dan dinamai rumah tinggal. Mulai dari ruang tamu sampai dapur sudah menjadi tempat untuk pembuatan dan pengemasan kue. Bram sebagai raja properti selalu membantu Ngarsinah untuk mencari lokasi yang strategis. 


Hari ini sebelum Ngarsinah dan Rangga berangkat bulan madu, mereka menyempatkan untuk melihat tanah yang akan dibeli oleh pengantin baru itu. Mereka akan membangun khusu tempat produksi dan terpisah dari kedai dan rumah, agar rumah Arsi bisa kembali difungsikan sebagai tempat tinggal.

__ADS_1


“Bro itu harganya nggak bisa kurang?” tanya Rangga yang masih berusaha untuk mendapatkan pengurangan harga. Ngarsinah masih keliling melihat sekitarnya sambil berpikir akan di model seperti apa tempat produksinya itu. Lahan yang terhitung setengah hektar itu dirasa cocok untuk tempat produksi berbagai macam makanan dan akan di bangun mess karayawan juga kantor administrasi.     


Wanita kampung yang berubah menjadi pengusaha di bidang kuliner itu kini semakin tampil cantik dan jauh dari kata kampungan seperti masa lalu. Kacamata hitam yang semakin membuat penampilannya sempurna membuat Rangga merasa tidak bisa melepaskan pandangannya kepada wanita yang dia dan kedua anaknya cintai itu. 


“Itu sudah harga spesial pengantin baru bro, gue nggak akan kasih harga segitu sama orang lain. Lo kayak nggak percaya gue aja deh,” ucap Bram bertahan dengan harga yang sudah dia ucapkan, Ngarsinah mendekati kedua pria yang masih asyik berbincang tentang harga itu. 


“Mas, aku rasa cocok sudah, aku suka tanah ini. Mas bram kasih diskon lah ya, saya pelanggan yang paling rajin belanja tanah di mas Bram loh,” ucap Ngarsinah yang tidak jauh dari perangai suaminya, menawar harga dengan banyak penekanan. Bram menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. 


“10% diskon dari saya, itu terakhir, mentok sudah ya,” jawanya frustasi, di tekan oleh suami istri yang menjadi sahabat kentalnya, bukanlah hal yang bisa membuat bram bertahan dengan pendirian.


“Waahh pelanggaran lo, giliran bini gue yang ngomong, langsung aja 10% di kasih, laah gue tadi ngomong lo kemana aja bro?!” pungkas Rangga kesal dengan apa yang dilakukan oleh temannya itu. 


“Bini lo pelanggan gue bro, laah lo beli tanah sama gue cuma satu kavling doang, ya nggak bisa dong gue perhitungan suara lo,” jawab Bram enteng, pria itu nyengir kuda saja melihat kekesalan yang bersarang di wajah sahabatnya. ngarsinah yang melihat kedua pria itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. 


“Deal!” 


❤️❤️❤️


Waahh Arsi makin bersinar ya karirnya, Novi yang sehat ya say 🤭

__ADS_1


Yuukk jempolnya pemirsa, komen, vote dan hadiahnya ya, tengkyuuhhh.


❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹


__ADS_2