
Malam semakin larut, Ngarsinah merasa lelah luar biasa, Ningsih meminta wanita itu untuk menginap. karena tidak aman untuk wanita berkendara sendiri, Jika rangga ikut mengantar, sudah pasti pria itu pun merasa kelelahan. tidak ada pilihan, Arsi menerima tawaran dari calon mama mertuanya.Malam merangkak jauh, Ngarsinah tidak lupa memberi kabar kepada sahabatnya Yuni, agar gadis itu tidak khawatir.
Beberapa orang karyawan menginap di rumah Ngarsinah yang sudah diperluas, setelah membeli satu kavling tanah di sebelah rumah dan membangun dengan tidak membutuhkan waktu lama, kedai roti, dapur khusus roti dan mess karyawan sudah ada.
Bram dan Yuni orang yang berperan dalam mengurus itu semua. Di rumah Rangga, Ngarsinah sudah mengarungi mimpi indahnya, wanita itu menempati kamar tamu.
Pagi hari yang dihiasi gerimis, di rumah Rangga terasa ramai, hal ini lah yang sangat di sukai oleh Ningsih, wanita paruh baya berparas ayu itu sudah tidak sabar untuk bisa menikmati suasana seperti ini setiap hari.
Di meja makan seperti biasa kedua bocah itu selalu saja membuat suasana menjadi ceria. Tidak lupa Arista membahas perannya nanti di acara pernikahan sang papa.
“Papa, nanti Arista undang Theo juga ya,” ucap gadis itu yang langsung mendapatkan tatapan heran dari sang papa. Semalam mereka belum sempat membahas tentang Theo, karena sudah sibuk membahas soal rencana pernikahan.
“Siapa Theo dek?” Tanya Rangga heran dan mengedar pandangannya ke arah Arya dan Ngarsinah. Arista menceritakan sosok Theo yang suka makan dan akhirnya dia harus rela membagi bekalnya dengan pria tampan berwajah bule itu. Sebab itulah Arista hari ini membawa bekal lebih banyak dari biasanya, karena khawatir Theo kekurangan makanan. Seperti itulah gadis kecil yang memang lebih cerewet dari sang kakak itu menceritakan tentang sosok teman barunya.
“Dedek boleh mengundang Theo dan kedua orang tuanya, siapa lagi yang mau dedek dan kakak undang?” tanya Rangga dengan senyuman bahagia, pria tampan itu lupa menanyakan lebih detail siapa nama kedua orang tua Theo dan asal usulnya.
Arya pun akhirnya lupa memberitahukan perihal uncle nya Theo adalah orang yang dia acam saat di restoran bernama David, karena sudah berani memandang calon mamanya dengan sangat lama dengan tatapan kagum. Semua terlupakan dengan hal itu, karena cerita Arista yang begitu ramai.
Hari ini Rangga meliburkan diri karena akan ke hotel untuk general meeting dengan WO yang akan mengerjakan acara pernikahannya dengan Ngarsinah. Setelah pulang sebentar dan berganti baju, Ngarsinah mengadakan meeting dengan Yuni dan semua karyawannya yang kini sudah berjumlah 15 orang.
Rangga menunggu dengan setia di ruang tamu. Setelah membahas apa-apa yang penting akhirnya pengusaha wanita di bidang kuliner itu pun berangkat ke hotel bersama calon suaminya.
"Mas, nanti jangan lupa sekalian mampir ya ke toko bahan kue, ada yang mau aku beli," ucap Ngarsinah di tengah obrolan mereka tentang konsep acara dan rencana bulan madu.
__ADS_1
"Loh kan ada Bondan yang tugasnya belanja sayang? Tanya Rangga heran, bukannya semua urusan belanja sudah ada yang handle."
Ngarsinah tersenyum manis dan itu membuat Rangga berdebar ringan. Wanita itu sangat paham dengan perhatian Rangga yang tidak ingin melihatnya terlalu lelah.
"Hmm … aku mau buat cake pengantin kita dengan tanganku sendiri mas," jawab Arsi malu-malu. Wanita itu masih saja sering tersipu dan malu, ketika ada sesuatu yang berkaitan dengan hubungannya bersama Rangga atau manisnya perlakuan Rangga kepadanya, terasa sweet bagi Arsi.
"Ya Allah sayang, kamu nggak capek? Emang kamu masih ada waktu?" Tanya Rangga bertubi-tubi, Rangga mengkhawatirkan Arsi yang nantinya akan kecapekan.
"Nggak mas, aku akan siapin dulu bahannya, bikinnya nanti dan pastinya di bantu sama pasukan dapur. Mas jangan khawatir gitu dong."
Pembicaraan mereka pun berakhir ketika Rangga sudah memarkirkan mobilnya yang biasa di pakai Arsi di pelataran parkir hotel. Ngarsinah masih terheran-heran dengan hotel mewah yang akan dia masuki. Rangga menggamit tangan Arsi dan membimbingnya masuk.
'Wooow maasya Allah, mewah banget hotelnya …, ck … ck … ck. Duuh aku ini masih aja ndeso kalo liat sesuatu yang wow gini, Jadi orang kota ternyata gini ya rasanya, hehehe,' guman Ngarsinah dalam hati, wanita itu tersenyum menertawai dirinya sendiri.
Kurang dari dua jam mereka membahas tentang acara pernikahan Rangga dan Ngarsinah, akhirnya selesai juga.
Dengan cepat Rangga melajukan mobilnya ke toko perhiasan langganan almarhumah istrinya. Sebelum berangkat duda tampan itu sudah menghubungi pemilik toko, agar tidak berlama-lama nanti disana. Cincin kawin yang sudah di pesannya ingin dia perlihatkan kepada Ngarsinah sang calon istri.
Sepanjang perjalanan menuju toko perhiasan, kembali mereka berdua tidak berhenti berbincang tentang banyak hal. Perbincangan mereka berhenti di sebuah toko perhiasan, selama ini Arsi hanya tau toko perhiasan yang ada di pasar, dan baru kali ini dia melihat sebuah toko perhiasan mewah. Sedikit kikuk wanita cantik itu masuk, berjalan di sebelah Rangga membuatnya menjadi pusat perhatian. Ci Lili owner toko perhiasan itu sudah menyambut dengan ramah. Wanita cantik seumuran dengan Ningsih itu dengan cepat memperlihatkan cincin pesanan Rangga.
"Silahkan pak Rangga, bu Arsi di coba dulu, atau mungkin ada koreksi," ucapk ci Lili dengan senyum terkembang sambil membuka kotak perhiasan berbahan beludru berwarna biru dongker itu.
Sepasang calon pengantin itu tersenyum ramah, terpancar kebahagiaan dari keduanya dan menganggukkan kepala untuk membalas ucapan dari ci Lili.
__ADS_1
"Maasya Allah, mas ini cantik banget," pekik tertahan dari suara Ngarsinah membuat Rangga senang. Pria tampan itu puas melihat Ngatsinah yang sudah cocok dengan cincin pernikahan mereka.
"Kamu suka sayang? Ada yang mau di koreksi?" Tanya Rangga bertubi-tubi, dia tidak ingin nanti ada yang terlupakan.
"Boleh saya coba ya ci?" Tanya Ngarsinah pada ci Lili, dan dijawab anggukan oleh ci Lili. Ngarsinah mengambil cincin yang akan dia pakai, merasa pas di jari, wanita cantik itu tidak lupa memperlihatkan kepada calon suaminya.
"Pas mas, bagus nggak di tangan aku?" Tanya Arsi dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya, Rangga melihatnya dengan wajah yang tak kalah bahagia dengan calon ibu untuk kedua anaknya.
"Bagus banget sayang, aku kira sudah nggak ada yang harus di koreksi ci, bisa saya bayar sekarang ya?" Jawab Rangga kepada Arsi dan langsung menyelesaikan pembayarannya.
Hari sudah menjelang sore, saat di perjalanan Ngarsinah tidak lupa menghubungi sekolah si kembar untuk mengabarkan bahwa hari ini dirinya tidak bisa menjemput dan akan dijemput oleh neneknya.
Lapar sudah mendera, hari ini karena mengurus ini dan itu mereka berdua terlambat makan siang. Rangga menghentikan mobilnya di sebuah restoran masakan nusantara.
Saat memesan makanan, tiba-tiba mata Ngarsinah terkunci pada satu meja. "Ya Allah, kenapa dimana-mana selalu dipertemukan dengan dia?" Gumam Ngarsinah lirih tapi masih bisa di dengar oleh Rangga.
"Siapa sayang?"
❤️❤️❤️
Dedek ngundang Theo, yang dateng siapa ya? 🤔
Yuukk yang gemesshh banyakin Like, komen, vote dan hadiah nya yaaa pemirsa.. tengkyuuuhh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹
__ADS_1