
“Mas, kok malah seneng-seneng sendiri sih, bukannya bantuin aku!” Rajuk Ngarsinah, Wanita cantik itu sudah kesal dengan jarum pentul yang tak kunjung habis di kerudungnya. Rangga masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya sebatas pinggang hingga lutut. Arsi tidak menyadari akan hal itu, dan saat matanya melihat pantulan di cermin tubuh bagian atas Rangga yang polos, Ngarsinah langsung menutup matanya rapat-rapat.
“Ma-mas, tolong pake baju dulu sana,” pinta Arsi gemas, suaminya itu sungguh tidak punya malu, Rangga yang melihat aksi istrinya malah tertawa. Ternyata Ngarsinah yang sudah pernah bersuami itu bisa malu-malu juga menghadapi dirinya. Rangga tidak menuruti permintaan istrinya, tangan kokohnya yang berotot dengan cepat membantu untuk melepaskan pernak pernik yang ada di kerudung Ngarsnah.
Tidak butuh waktu lama, pria itu sudah berhasil membebaskan kepala sang istri dari kerudung cantik yang tadi menghiasi kepalanya. tanpa di minta Rangga melakukan aksi membuka resleting gaun pengantin yang sudah bisa di tebak itu akan sulit dilakukan oleh sang istri.
“Aaakkhhh! mas …” teriak wanita cantik itu dengan wajah yang langsung bersemu merah, dia tidak menyangka kalau sang suami membuka resleting itu tanpa diminta olehnya.
“Aku tau kamu akan kesulitan sayang, jadi jangan malu-malu, buruan mandi sana.”
Rangga yang memang sudah gelagapan melihat punggung mulus sang istri, jelas tidak sabar untuk segera bercocok tanam. Ngarsinah yang bukan anak gadis ingusan sudah paham apa yang diinginkan oleh sang suami, jantungnya kini sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
“I-iya mas,” jawabnya singkat dan dengan cepat Ngarsinah melesat ke kamar mandi, menyembunyikan kegugupannya di bawah guyuran air itu dirasa akan lebih baik untuknya saat ini.
Sementara sang istri mandi, Rangga bercermin dan sibuk memandangi tubuhnya yang liat. Ada rasa bangga ketika dia melihat tubuh atletis dengan otot yang tercetak jelas menambah aura maskulin pada duda dua anak itu. Parfum tidak lupa di semprotkan ke seluruh tubuhnya, kali ini dia tidak ingin gagal, setelah peristiwa siang tadi yang membuatnya menahan kesal.
Pikiran Rangga sudah traveling kemana-mana, senyum tidak lepas dari bibirnya, persiapan demi persiapan sudah dilakukan oleh pria tampan itu demi menyambut malam pertama mereka.
__ADS_1
Ngarsinah yang sudah menyelesaikan mandinya, tertegun melihat ulah suaminya yang seperti binaragawan, sepertinya pria yang baru saja menjadi suaminya itu tidak menyadari akan kehadiran Ngarsinah yang masih setia menjadi penonton tunggal.
“Ehem, mas, kok nggak di pake piyamanya, nanti masuk angin,” ucap Ngarsinah menginterupsi kegiatan suaminya yang sedang pamer otot di depan cermin.
“Eh sayang, aku udah keringetan lagi nih, abis olahraga dikit tadi pemanasan. Kamu masih mau makan nggak?” tanya Rangga setelah menjelaskan apa baru saja dia lakukan tadi. Ngarsinah menjawab dengan gelengan, tadinya dia merasa lapar, tapi karena melihat sang suami yang sudah bersiap untuk tempur, mendadak selera makannya hilang dan berganti dengan kegugupan yang memenuhi hati dan pikirannya.
“Nggak mas, kita kan mau tidur, masak iya mau makan lagi, yang ada ntar naik berat badan. Ini bajunya mas,” jawab Ngarsinah sambil memberikan piyama kepada sang suami untuk segera dikenakan. Rangga berpikir sejenak, kenapa istrinya ini tidak peka dengan kode yang dia berikan.
Rangga tetaplah Rangga yang tidak akan patah arang sampai tujuannya itu berhasil. Dengan langkah yang lebar, pria itu mendekati Ngarsinah dengan baju tidurnya yang panjang, desakan dalam dirinya membuat pria itu tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
‘Mungkin Arsi lupa dengan kode-kode seperti ini, karena sudah terlalu lama tidak melakukannya. Lebih baik dipanaskan lagi mesinnya agar dia lebih mudah paham,’ gumam Rangga dalam hati. Tubuhnya kini sudah mendekat dan pelan tapi pasti dia pun mengikis jarak dengan sang istri yang kini tiba-tiba mematung.
“Manasin mesin sayang,” jawab Rangga asal, dan tidak butuh waktu atau persetujuan, pria itu sudah mendaratkan bibirnya di kening sang istri, tidak lupa doa pun dipanjatkan. Ngarsinah membeku, semua sendinya seakan terkunci, pikirannya mendadak diam. Namun tubuhnya bereaksi yang tidak sesuai dengan pikirannya. Tangan wanita itu mulai terangkat dan mendarat di pinggang liat sang suami. Baru dua sendi itu yang mulai bisa berfungsi, mungkin mesinnya sudah mulai panas, itulah yang ada dalam pikiran Rangga.
Malam berlalu dengan kehangatan yang kini mulai memanas, kedua insan itu semakin menikmati halal nya pernikahan. Ngarsinah yang kini menerima perlakuan manis dari suaminya mulai pasrah dan mengikuti keinginan hatinya untuk membalas manisnya cinta.
Tidak ada lagi batas antara keduanya, ruangan dengan alat pendingin itu seakan tidak lagi terasa. Ngarsinah terus terbuai dengan perlakuan Rangga, pengantin senior itu terus saja bermain dengan kesenangan mereka. Sebaiknya author minggir dan memberikan ruang dan waktu bagi mereka yang sedang berbahagia, hehehe.
__ADS_1
*****
Suara adzan dari ponsel Ngarsinah membuat wanita itu terjaga dari tidur lelapnya, matanya terasa berat untuk sekedar terbuka. Tangannya mencari-cari ponsel di atas nakas, dan setelah berhasil diapun mematikan alarm nya setelah adzan selesai. Tubuhnya terasa remuk, tulang-tulang yang selama ini selalu sigap untuk diajak bangun dan beraktifitas, kini tidak memiliki kekuatan sedikitpun.
“Mas, ayo bangun saatnya shalat subuh sekarang,” ucap Ngarsinah sambil mengusap tangan kekar milik suaminya yang masih setia membelit tubuh ramping itu dalam pelukan hangat. Rangga masih belum ingin bangun, kegiatan semalam membuat tidurnya nyenyak dan hatinya bahagia.
“Lima menit lagi sayang, ngantuk …” jawabnya dengan tidak sedikitpun membuka mata, Ngarsinah berusaha mengangkat tangan yang masih melilit tubuhnya dan berhasil. Wanita cantik itu duduk dan selimut yang tadi menutupi tubuhnya kini dengan bebas turun dan barulah dia sadar kalau saat ini dia dalam keadaan polos.
Malu itulah yang dia rasakan saat ini, sesat dia menoleh kebelakang, memastikan suaminya tidak membuka mata. Dengan pelan dia mengganti pakaiannya yang berserakan, dan memakainya dengan cepat. Rangga mengintip dari kelopak matanya yang dibuka sedikit hanya tersenyum melihat aksi ribet sang istri, padahal tadi malam dia sudah melihat semuanya, lalu kenapa sekarang harus malu. Itulah yang ada dalam pikiran Rangga.
Ngarsinah sudah selesai mandi dan berniat akan membangunkan suaminya, kalau terlambat maka mereka akan terlambat shalat subuh. Rangga dengan malas bangkit dari tempat tidur dan dengan santai berjalan dalam kadaan seperti bayi yang baru saja lahir, sontak membuat istrinya berteriak tertahan.
“Maaaass!”
❤️❤️❤️
Tutuuup mataaaa, Graaak!
__ADS_1
Hayuuukkk jempolnya mana jempol, komen yang buaanyak ya, vote dan hadiah jangan lupa pemirsaaahh, tengkyuuhh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹