
Satu bulan berlalu, Dunia selalu dipenuhi dengan kisah bahagia, sedih dan duka. Ada yang datang dan ada yang pergi, seperti dunianya Ngarsinah dan Novi. Kedua orang ini sedang mengalami kisah bahagia dan kisah sedih duka lara.
Pagi ini Ngarsinah seakan tampil beda, Wanita yang semakin cantik itu keluar dari kamar dan siap mengantar anak-anak sekolah. Rangga yang sudah menunggu di meja makan, terheran-heran melihat sang istri yang penuh warna di hari ini.
“Sayang, kamu kayaknya lagi seneng ya, kok berwarna sekali?” Tanya Rangga hati-hati, Pria itu agak bingung dengan sikap istrinya yang akhir-akhir ini mudah tersinggung dan menangis.
“Kenapa mas? Mas nggak suka? make up ku nggak bagus ya?” Tanya Arsi bertubi-tubi, tangannya tidak berhenti menyediakan nasi dan lauk pauk ke piring suami dan anak-anak-nya. Si kembar juga merasa heran dengan riasan sang mama yang super heboh di hari ini.
Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Arsi sudah memasang wajah tersinggung dan bertanya ini itu menunjukkan sikap tersinggungnya.
“Bu-bukan gitu, tumben kamu pake make up warna terang gitu, kalo cantik … mana ada yang meragukan kecantikan istrinya Rangga. Sayang jangan ngambek dong …” bujuk Rangga yang sudah melihat mendung di wajah sang istri.
“Mas Rangga, aku hari ini kepengennya dandan cantik biar kayak artis. Mas jangan protes dan harusnya seneng dong liat istrinya ada kemajuan. Iya kan dek?” Tanya Arsi kepada putri kecilnya, Arista menoleh menapat sang kakak yang masih anteng dengan keadaan di meja makan. Mendapatkan tatapan dari sang adik, Arya mengangguk.
“Iya mama cantik kok, mamanya siapa dulu dooong … ya jelas mamanya Arista dan Arya laah …” jawab si kecil mencari aman dengan memuji sang mama dengan riang walau dia sendiri sedang berpikir ada apa dengan mamanya hari ini.
“Tu mas, kamu denger sendiri, anak-anak aja setuju kok. Ayo buruan makan semuanya ntar kita terlambat,” Ajak Arsi, dia sendiri mengambil nasi paling belakang, dan kembali Rangga dibuat heran dengan porsi makan Ngarsinah yang diluar dari biasanya.
__ADS_1
Rangga mengingat-ingat beberapa hari ini memang istrinya ini tidak berhenti mengunyah, ada saja makanan yang dia beli tidak puas dengan jajanan yang dibeli, wanita itu akan membuatnya. Rangga yang melihat Arsi selama ini sangat menjaga pola makan, jadi khawatir takutnya nanti sang istri akan mengalami masalah dengan berat badan yang berujung terganggu kesehatannya.
Nasi sepiring penuh, lauk-pauk yang berkali-kali diambil karena sangat cepat habis. Sungguh pemandangan yang tidak ada manis-manisnya di mata Rangga, Ingin bertanya tapi takut akan ada drama lagi, Akhirnya Rangga membiarkan Arsi dengan kesenangannya.
Semua sudah selesai dan sekarang mereka berangkat, Rangga dengan mobilnya ke kantor, Ngarsinah dengan mobilnya mengantar anak-anak sekolah lalu ke kedai, di rumah hanya ada para asisten rumah tangga.
Semua sudah beres di lakukan wanita yang kini berstatus ibu dua anak itu, saatnya dia ke kedai, namun di jalan tiba-tiba Arsi ingin sekali makan bakwan malang dengan kuah yang bening. Malas mencari dia berinisiatif akan minta tolong karyawannya mencarikan, Dengan manis mobil Arsi parkir di tempat biasa.
Rumah yang dulu menjadi tempat tinggalnya kini beralih fungsi menjadi kedai dan tempat produksi, Saat ini Ngarsinah sedang membangun tempat khusus untuk produksi dan nantinya tempat sekarang ini akan dijadikan kedai semua.
“Arsi tumben nih cerah banget hari ini?” Sapa Yuni saat berpapasan dengan Ngarsinah yang sedang menuju ruang kantornya. Ngarsinah tersenyum senang, entah kenapa pertanyaan Yuni tidak membuatnya tersinggung padahal tadi suaminya mengatakan hal yang sama, namun hatinya tersinggung.
“Si, ini masih pagi loh, mana ada yang buka,” Jawab Yuni, dengan menggaruk kepalanya. Arsi terdiam sejenak, wanita itu sadar kalau ini masih sangat pagi dan tadi dia sudah sarapan. Tapi entah kenapa keinginan untuk makan bakwan malang begitu kuat meronta hatinya.
“Bikin aja kalo gitu, coba tanya mbak-mbak di dapur ada yang bisa bikin nggak? tolong ya Yuni cantik, aku mau beresin kerjaan dulu.” Titah Ngarsinah tidak ingin dibantah, Yuni yang mendadak pusing dengan sikap aneh sahabatnya hanya bisa garuk-garuk kepala.
Beruntung buk Yanti bisa membuat apa yang diinginkan oleh bu bos nya, dengan cepat wanita itu membuat karena bahan-bahan sudah tersedia. Bakwan Malang ala bu Yanti sudah siap dalam waktu yang sangat cepat, karena membuatnya sedikit jadi bisa selesai sesuai dengan harapan Ngarsinah.
__ADS_1
Bakwan dengan aroma yang begitu menggoda membuat Ngarsinah lupa bahwa kurang dari dua jam yang lalu dia baru saja sarapan dengan porsi yang besar. Bakwan dengan porsi jumbo segera disantap oleh wanita cantik dengan riasan meriah di hari ini. Tidak lupa dia mengambil foto bakwan malang dan langsung mengirimkannya ke Rangga. Puas mendokumentasikan hasil karya bu Yanti, wanita itu pun melahap dengan semangat.
Yuni yang masuk kedalam ruangan itu dibuat terperangah dengan apa yang Ngarsinah lakukan, sementara dia sendiri tidak ditawari. ‘Ish … tega sekali dia, kenapa aku ngga di tawari sama sekali?’ gerutu Yuni yang langsung menuju meja kerjanya.
“Yun, ini the best. Ternyata bu Yanti berbakat loh, kita tambahin ini ke menu kedai gimana menurutmu?” Alih-alih menawari sang sahabat yang sudah ngiler dari tadi, Ngarsinah malah berpikir tentang menambah menu.
“Si kamu tu ya tumbennya makan nggak tawar-tawar? aku lo … sudah kemecer dari tadi, bagi dong,” ucap Yanti dengan nada kesal, gadis itu tidak peduli dengan pertanyaan sang owner kedai Why A, dia fokus dengan mangkok bakwan yang semakin berkurang isinya.
“Hmmm … kamu minta bu Yanti aja Yun, aku aja mau nambah. Masih ada nggak?” Tanya Ngarsinah benar-benar tidak ingin berbagi dengan sang sahabat. Yuni langsung menuju ke dapur sebelum stok disikat oleh Ngarsinah, sementara Arsi tidak mau kalah, dia pun menyusul ke dapur seakan sedang lomba 17 agustusan kedua wanita dewasa itu, bertingkah seperti anak-anak di hari ini.
Di kantor Rangga, Baru saja pengusaha sukses itu menyelesaikan meeting dengan para staf dan manager. Rangga langsung melihat ponsel dan ada pesan dari sang istri, betapa terkejutnya Rangga melihat foto bakwan semangkok penuh yang kini terpampang di layar ponsel pintarnya.
“Ya Allah, istriku kamu kenapa kok jadi kayak orang kelaparan gitu?”
❤️❤️❤️
Waduh kenapa lagi ni bu bos? 🤔🤔
__ADS_1
Cuuusss jempolnya ya pemirsa, komen yg banyak, vote dan hadiaaahh nya yaaa, tengkyuuhh pemirsa.
❤️❤️❤️😆😆🤔🌹🌹🌹