Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 9: Mama Arsi


__ADS_3

Makan malam di restoran yang menurut sebagian orang itu tergolong mewah, namun beda dengan Boby dan putranya. Mereka tampak biasa datang ke tempat makan yang seperti ini, Ngarsinah menyenggol tangan pak Slamet tanda meminta bantuan. Buku menu yang mereka hadapi sama sekali tidak pernah gadis itu makan, apalagi pak Slamet yang merasa asing dengan gambar-gambar makanan yang ada di buku menu itu. 


“Ndok kamu kan pernah sekolah di kota, ini kamu aja yang pilih ndok,” bisik pak Slamet di dekat telinga Ngarsinah. Jujur selama di kota Ngarsinah tidak pernah yang namanya jelajah kuliner, hidupnya hanya kos, perpustakaan dan kelas, jika ada libur gadis itu lebih baik pulang kerumah untuk membantu orang tuanya, di kantor kecil yang meng mengurusi perkebunan milik mereka, sekarang semua itu sudah menjadi milik David. 


“Arsi nggak pernah makan ginian pak,” jawab Ngarsinah dengan senyum kecut. Boby dan Rangga sudah menetapkan pilihan mereka, sesaat Boby melihat kearah Ngarsinah yang tampak bingung dengan hanya membolk balikkan buku menu itu saja. 


“Ayo pak, nak Arsi silahkan dipilih, nanti keburu laper loh,” tawar Boby santun dan sedikit berkelakar. “Anu– pak kami ikut menu yang bapak pesan saja, karena jujur saja saya tidak pernah makan yang seperti ini,” jawab Ngarsinah dan akhirnya memilih untuk bicara apa adanya kepada pembeli rumahnya itu. 


“Ohh gitu, oke lah, saya pesankan menu yang sama saja ya semuanya,” sahut Boby lagi sambil mencatat semua pesanan yang akan mereka santap malam ini. 


Acara makan malam berlangsung dengan santai, dan kami semua lebih banyak diam, karena memang ingin cepat selesai lalu pulang. Sebenarnya Ngarsinah sangat tidak enak merepotkan pembelinya yang baik itu, karena perjalan akan ditempuh selama delapan jam pulang pergi. Tadi saja mereka sudah melakukannya. Bisa dibayangkan seberapa lelah tubuh mereka yang berada di perjalanan belasan jam. 


Waktu terus berjalan, makan malam singkat selesai sudah. hari yang semakin malam membuat pak Soleh sedikit cemas, ditawari untuk mampir ke rumah Boby, mau di tolak merasa tidak enak, mau di terima hari sudah semakin malam. Tapi ini semua sudah dia niatkan untuk membantu Ngarsinah, calon janda yang sudah seperti putrinya sendiri itu. 


Mobil itu pun memasuki rumah mewah yang berpagar tinggi berwarna hitam, barusan tadi satpam yang bertugas di pos jaga membukakan gerbang kokoh itu. Mobil di parkir tepat di depan teras dengan atap yang indah. 


“Ayo mampir sebentar pak, saya kenalkan dengan istri saya, maaf tadi dia tidak bisa ikut karena tadi ada acara, biasalah ibu-ibu pengajian komplek.” tawar Boby yang tidak mungkin ditolak oleh pak Slamet dan Arsi. Mendengar ada yang datang, pintu besar dan tinggi itu pun terbuka lebar, seorang anak kecil yang cantik dengan mata bulat, bulu mata lentik, alis seperti bulan sabit, bibir yang mungil dan pipi yang gembil berlari menyambut mereka. 


““Yeeeiii papa pulang bawa mama …!” teriaknya bahagia dan langsung saja menubruk kaki Ngarsinah yang sedikit oleng karena belum siap. Gadis kecil yang masih setinggi paha Ngarsinah itu, mengeratkan pelukan tangannya di sebelah paha Gadis cantik itu. Tanpa memperdulikan orang yang ada disekitarnya. 

__ADS_1


Deg!


Ngarsinah yang memang menyayangi anak-anak, langsung mengangkat tubuh kecil yang harum khas bayi itu ke gendongannya. Mendadak suasana menjadi canggung, tapi tidak dengan Ngarsinah. Dengan tulus dan seperti sudah mengenal lama dengan gadis cantik yang belum dia ketahui namanya itu, Arsi sibuk menciumi pipi gembul milik si cantik dengan gemas dan itu membuatnya kegelian dan keluarlah derai tawa yang membuat hati Arsi menghangat. 


“Ampuun mama, Ampuun! mama kemana aja? Arista kangen ma!”  apakah gadis itu sedang mengigau atau bagaimana, tapi sekarang kedua tangan mungil itu sudah mengalung erat di leher Ngarsinah. 


“Sayang ayo ikut papa yuk, ini bukan mama sayang, ini namanya tante Arsi, coba liat deh,” bujuk Rangga, dan membuat Ngarsinah masih bingung menghadapi situasi yang sangat tiba-tiba ini, tapi entah kenapa hatinya merasa bahagia saat dirinya dipanggil mama oleh gadis mungil yang bernama Arista itu. Tangan ramping ngarsinah selain memegang tubuh mungil yang ada dalam gendongannya juga mengusap punggung Arista dengan lembut memberikan ketenangan kepada gadis cantik yang sekarang sedang berderai air mata itu. 


“Nggak papa mas, biar dia tenang dulu saja,” Ngarsinah berusaha untuk memberikan pengertian kepada Rangga yang langsung merasa tidak enak kepada tamunya. Sementara Arista mulai sesenggukan karena tadi sempat mau di gendong oleh papanya dan gadis itu menangis tanda dia menolak.  


“Ayo kita masuk dulu pak Slamet, nak Arsi, jangan sungkan-sungkan ya, anggap rumah sendiri. Nyonya rumah yang sedang menenteng anak laki-laki yang seumuran dengan Arista, terlihat tampan dengan garis wajah yang mirip sekali dengan Rangga. Pembawaannya yang dingin dan sedikit jutek membuat Ngarsinah hanya tersenyum lembut kepada pria kecil itu.   


“Pak Slamet, nak Arsi, kenalkan ini istri saya, Ningsih.” 


“Ningsih”


“Slamet”


“Arsi”

__ADS_1


Mereka bergantian bersamaan, dan Arsi sedikit kerepotan karena gadis kecil yang terus saja memanggilnya mama itu menempel seperti tak ingin lepas dengan dirinya. 


"Maaf nak Arsi baru bertamu malah sudah direpotin sama Arista." Ucap bu Ningsih sungkan. 


“Dek ayo turun, itu bukan mama kita, dia orang asing!” bentak pria kecil tadi yang ternyata adalah kakaknya Arista. Rangga yang melihat itu, langsung menggendong si kakak ke pangkuannya. 


“Arya, gak boleh gitu yang ngomongnya, ayo kenalan dulu sama tante Arsi,” bujuk Rangga kepada putranya. Pria kecil itu pun dengan santun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arsi yang sudah juga mengulurkan tangannya. Mereka berdua saling berjabat tangan, pandangan mereka saling bertemu, Ngarsinah memberikan senyum terbaiknya, tapi Arya tidak sama sekali, tatapan dingin dan tak terbaca dia berikan untuk Ngarsinah yang di panggil mama oleh adiknya. 


“Hallo tante, namaku Arya, nama tante siapa?” tanya Arya, walau tatapannya dingin tapi dari kalimat yang keluar Ngarsinah sudah bisa menebak bahwa orang tua mereka mengajarkan hal yang baik kepada anak-anaknya. 


“Hai Arya, salam kenal, nama tante Ngarsinah, tapi kamu bisa panggil tante Arsi,” Jawab ngarsinah lebut, dan setelah berjabat tangan tidak lupa Arya mencium punggung tangan Arsi. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa hari ini Allah berikan kepada gadis itu. 


Obrolan singkat mereka harus berhenti karena pak Slamet sudah merasa mengantuk dan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. “Pak Boby, nampaknya kami harus pamit, ini sudah malam,” pamit pak Slamet, yang disetujui oleh Arsi dengan anggukan. 


“Aku mau bobok sama mama, mama nggak boleh pergi pa!”


❤️❤️❤️


Haayooo kode nih si anak hihihi

__ADS_1


Yuuk Like, komen, Subscribe dan Vote ya, tengkyuuhh pemirsa 🌹


__ADS_2