
“Biiiik …! sini bik, saya minta tolong belikan alat tes kehamilan di apotik. Beli Lima sekalian dari merek yang berbeda ya,” Ningsih memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada bibik. Hanya dengan anggukan tanda mengerti sang bibik pun melesat cepat meninggalkan rumah mencari apotik.
“Ma … tapi kan Arsi itu ma, anu … mama tau kan ini nggak mungkin?” tanya Rangga setelah kesulitan mencari kata yang tepat, karena saat ini pikirannya masih bingung dengan tindakan yang diambil sang mama. Ningsih tersenyum, entah kenapa wanita itu merasa yakin kalau menantunya sedang berbadan dua.
“Kita lihat saja nanti Ga, tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki maka jadilah. Biarkan Arsi istirahat dulu, jangan di ganggu. Ntar juga moodnya berubah lagi,” ucap Ningsih penuh keyakinan. Dalam hatinya wanita paruh baya itu melangitkan doa terbaik untuk rumah tangga anaknya, harapan dan keinginan untuk menjadikan rumah tangga sang putra tunggal menjadi lengkap dengan kehadiran bayi kecil diantara mereka.
“Mudahan aja pas bangun moodnya seneng ma, laah kalo marah atau sedih kan kita yang berabe,” sahut Rangga sambil terkekeh kecil. Tapi dalam hati kecilnya pria tampan itu pun melantunkan doa kepada sang pemilik semesta untuk sebuah kaajaiban.
“Nyonya, ini barangnya, dan ini kembaliannya. Saya permisi nyonya,” ucap bibik yang dengan cepat sudah kembali lagi dengan membawa pesanan dari sang nyonya besar. Rangga melihat kelima alat itu dengan wajah yang tidak bisa terbaca.
“Makasih ya bik, iya silahkan lanjut lagi kerjaannya bik.” Ningsih menerima barang dan uang kembalian. Setelah meneliti semua barang dengan merek yang berbeda itu, Ningsih terus saja tersenyum.
*****
“Mas, aku lama banget ya tidurnya? anak-anak gimana mas?” Tanya Ngarsinah yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Rangga memeluk istrinya dengan sangat bahagia, walau ibu sambung, namun kasih sayang dan perhatian Ngarsinah kepada kedua anaknya sungguh tulus. Baru saja terbuka matanya, yang diingat anak-anak, Sungguh nikmat Allah yang mana lagi bisa Rangga ingkari.
“Anak-anak di jemput sama supir sayang, kamu kelihatannya capek banget. Eeemm … apa ada yang sakit? wajah kamu kelihatan pucat sayang,” jawab Rangga dan membuat Ngarsinah langsung menarik nafas lega. Mendengar wajahnya pucat Ngarsinah mengangguk, dia merasa semua badannya sakit saat ini, padahal tidak melakukan apa-apa.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan muncul Ningsih yang membawakan minuman hangat. Madu dan rebusan serei akan membuat Ngarsinah merasa nyaman, Tadi Rangga dan Ningsih sudah sepakat berbagi tugas. Agar tidak terjadi salah mood, maka yang akan menyampaikan untuk tes kehamilan Ningsih yang melakukan.
__ADS_1
“Arsi, kamu sudah bangun sayang? Ini di minum dulu biar seger.” Ngarsinah tersenyum senang, wanita itu merasa mendapatkan kembali kasih sayang seorang ibu. Selama ini dia merasa kesepian, tanpa menjawab wanita yang terlihat lebih gemuk dari biasanya itu langsung menyeruput air rebusan serei sampai kandas.
“Makasih mama sayang. Enaaak banget, seger rasanya ma. Niih gelas nya bocor, hehehe,” ucap Ningsih dengan senyum terkembang, Rangga juga ikut senang dengan mood istrinya yang kini membaik. Berharap ketika bicara soal tes kehamilan nanti tidak ada salah paham lagi.
“Arsi, sayang … mama mau minta tolong Arsi melakukan sesuatu mau nggak?” Tanya Ningsih penuh kehati-hatian, Arsi mengangguk cepat tanpa bersuara, untuk sesaat perilaku wanita dewasa itu persis seperti anak kecil, dan hal itu membuat Rangga gemas ingin mencium pipi gembul milik sang istri.
“Sayang, kamu percaya kan dengan keajaiban Allah? Ini mama belikan alat tes kehamilan. Mau ya kamu coba sayang,” ucap Ningsih dengan wajah penuh harap. Ngarsinah merasa terkejut dengan permintaan sang mama yang menurutnya aneh. Untuk sesaat wanita itu ragu untuk mengangguk, matanya berkaca-kaca tapi hatinya tidak tega menolak permintaan sang mama.
“Kenapa ma? apakah mama berharap cucu dari Arsi yang tidak sempurna ini?” Tanya Arsi pilu, dia tidak ingin menanyakan hal itu, tapi juga tidak kuasa menahan emosinya yang memenuhi dada. Rangga mengusap wajahnya kasar, inilah yang Rangga takutkan.
Ningsih mendadak bingung dengan reaksi Ngarsinah yang kini mendadak muram, karena bingung harus menjawab apa, Ningsih buru-buru memeluk tubuh berisi sang menantu agar lebih tenang. Ningsih mengusap lembut rambut hitam Ngarsinah sampai isakan tangis wanita labil itu berhenti.
Rangga bernafas lega melihat sang istri bersedia untuk melakukan tes dan sudah lebih baik dari beberapa puluh menit yang lalu. Pelan wanita itu memasuki toilet yang ada di kamarnya, Rangga dan Ningsih menunggu di balik pintu dengan mondar mandir seperti setrikaan.
Lima buah alat tes digunakan satu persatu oleh Ngarsinah, dan beberapa puluh menit berlalu. Ngarsinah berdebar menunggu hasil kelima alat tes itu.
“Dua garis? Ya Allah … apa ini benar?” gumam Ngarsinah dengan tangan yang gemetar tak percaya, matanya mengembun. Rasa tidak percaya merayapi hati wanita itu.
Ceklek!
Rangga dan Ningsih secara bersamaan mendekati Ngarsinah yang baru saja keluar dari kamar mandi, air mata sudah membasahi kedua pipi mulusnya. Kedua orang ibu dan anak itu tidak berani bertanya atau bahkan bersuara. Mereka takut sudah melukai perasaan Ngarsinah, Ningsih sedikit menyesal karena sudah meminta sang menantu untuk menuruti prediksinya.
__ADS_1
Rangga pelan-pelan mendekati Ngarsinah, wanita itu masih berdiri dengan menggenggam semua alat tes. Rangga sudah salah paham mengartikan tangisan sang istri.
Greep!
“Sabar sayang, maafkan aku dan mama. Kami nggak bermaksud menyakiti kamu, aku janji tidak akan berbuat seperti ini lagi. Maafkan ak–” ucapan Rangga terputus karena Ngarsinah langsung memotongnya.
“Aku hamil mas ….” Ucap Ngarsinah pelan di pelukan Rangga. Pria itu membeku, telinganya seakan salah dengar. Apakah istrinya sedang menghiburnya atau menyindir dirinya dan sang mama.
“Sayang, kamu jangan tertekan gitu ya … A-aku mohon maafkan aku dan mama. Aku tau kamu sangat terluka dan sedih saat ini, aku janji sayang tidak akan begini lagi ….” Ucap Rangga masih salah paham, dan hal ini semakin membuat Ningsih merasa bersalah, dialah yang memilki ide seperti ini.
“Arsi, sayang … maafkan mama ya nak, ma–” ucapan Ningsih berhenti karena Ngarsinah mengurai pelukan suamminya dan menatap Ningsih dengan tatapan yang sendu yang basah.
“Mama, mas Rangga, Arsi garis dua ….”
❤️❤️❤️
Garis dua??? beneraaann gak siihhh??🤔🤔
Yuuukkk ramaikan jempolnya pemirsaaahh, komen, vote dan hadiah ya, tengkyuuuuhh pemirsaah
❤️❤️❤️🤔🤔🥰🌹🌹🌹
__ADS_1