Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 80: Arsi dan Yuni


__ADS_3

“Bini lo pelanggan gue bro, laah lo beli tanah sama gue cuma satu kavling doang, ya nggak bisa dong gue perhitungan suara lo,” jawab Bram enteng, pria itu nyengir kuda saja melihat kekesalan yang bersarang di wajah sahabatnya. ngarsinah yang melihat kedua pria itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. 


“Deal!” Seru Rangga yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya kepada sang sahabat. Bram yang melihat hal itu tidak bisa menahan tawanya. 


“Jangan iri, dia kan bini lo, gue ngasih diskon ke dia kan sama aja ngasih diskon buat lo bro. Eh iya awal bulan lo tolongin gue ya,” ucap Rangga setelah pria itu bisa menghentikan tawanya. Rangga mengerutkan dahinya.


“Tolong apaan?” tanya Rangga waspada, karena pria itu sedikit banyak hafal dengan kebiasaan sang sahabat yaitu pinjam uang untuk pembebasan lahan. 


“Nggak usah waspada gitu, gue nggak minjem duit lo, tapi tolong temenin gue untuk ngelamar Yuni ke orang tuanya. Gue ngerasa udah cocok sama dia Ga,” jawab Bram dengan mata yang berbinar bahagia. Ngarsinah yang baru saja datang mendekat dapat mendengar apa yang Bram katakan. 


“Waaah selamat ya mas, jadi saudara dong kita, aku akan siapkan keperluan Yuni. Mas Rangga kita bakal pesta besar ini,” ucap Ngarsinah yang tidak kalah bahagia sahabat yang sudah seperti saudara itu ternyata akan segera melepas masa lajangnya. 


“Kamu kok seneng banget sih sayang, giliran acara kita kemaren kamu selalu berpikir hemat tapi giliran nikahan Yuni, kamu mau siapin semuanya. Inget loh besok kita akan berangkat keluar kota, urusan Yuni dan si Brambang dan calon bini nya yang urus, sisanya serahkan sama tim aja,” sahut Rangga sewot dengan istrinya dan ini membuat Bram kembali terbahak, ternyata sahabatnya itu sudah sangat posesif dengan istrinya.


“Iya mas, aku inget, yuk kita sekarang balik ke kedai biar aku bisa atur anak-anak dulu. Mas mau balik ke kantor? tanya Ngarsinah sambil bergelayut manja di lengan suaminya, dan hal itu sungguh membuat Bram jadi iri. 


“Mas antar kamu ke kedai terus langsung ke kantor, anak-anak sayang yang jemput ya,” pinta Rangga dengan tatapan mesra kepada istrinya. Di rumah Arsi ada mobil Rangga yang sering digunakan Arsi untuk mobilitasnya, hal itu sangat membuat Ngarsinah mudah bergerak kesana kemari untuk mengurus keperluannya. 


“Ekhem, disini masih ada orang ya, tolong jangan mesra-mesraan di hadapan jomblo, bisa-bisa aku bawa langsung nih si Yuni ke KUA.”


Bram tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya dengan pengantin baru itu, dengan kesal dia melangkah menuju mobilnya dan tanpa berpamitan dia pun meluncur ke kedai roti Why A, karena di sana dia akan bertemu dengan calon pembeli propertinya. 

__ADS_1


Rangga dan Ngarsinah menyusul Rangga sambil terus tertawa, pengantin baru yang sedang manis-manisnya itu tidak mau sedikitpun melepaskan genggaman tangan mereka. Obrolan ringan menemani perjalanan mereka hingga sampai di kedai Why A. 


“Yun, besok aku akan keluar kota kurang lebih seminggu, jadi tolong kamu handle ini semua bisa ya?” tanya Ngarsinah kepada Yuni, ruangan kantor Ngarsinah yang tidak begitu luas namun di dekorasi dengan cantik membuat siapapun nyaman berada didalamnya. 


“Iya, Aku juga sudah siapkan persiapannya, nanti siang setelah kamu jemput anak-anak kita meeting dulu ya. Hari senen kita sudah mulai mengisi snack box untuk acara seminar yang akan diadakan di hotel mas Bram,” jawab Yuni dengan penjelasan tentang pekerjaan mereka. Ngarsinah yang baru saja mendengar kabar itu sontak tersenyum indah, wanita itu sangat senang usaha yang mereka bangun bersama kini merangkak naik dan semakin banyak menyerap tenaga kerja. 


“Maasya Allah, aku nggak nyangka kita bisa ekspansi pasar ke menengah keatas Yun, ini karena kerja keras kalian yang luar biasa. Makasih sayangnya akuu,” balas Ngarsinah dengan langsung berdiri dan berhamburan memeluk Yuni. 


Kini kedua sahabat itu sibuk mengurus semua kebutuhan, bagian keuangan dan pengadaan bahan baku ikut sibuk selama di tinggal oleh ibu bos mereka selama seminggu kedepan. 


“Oh iya, Yun aku lupa ngasih tau nanti ada mobil box yang aku beli, kalo aku nggak ada toong kamu yang terima ya. Kita sudah membutuhkannya saat ini, karena susah juga kalau kita pake mobil kecil antar pesanan. Kamu tolong atur Joko yang supirin ya sementara kamu cari orang yang khusus nyetir, biar Joko nggak kewalahan Yun,” ucap Ngarsinah dan hal itu membuat Yuni membulatkan kedua matana, gadis itu senang bukan main dan melompat-lompat kecil mendengar kini mereka sudah memiliki armada untuk mengangkut dan belanja.


“Arsiiii, aku seneng baget, itu kamu beli nyicil atau cash?” tanya Yuni dengan senyum yang masih saja belum surut dari bibirnya. Arsi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, senyum lebarnya perlahan menyusut. 


“Nggak papa, yang penting sekarang kita punya mobil untuk bawa pesanan dalam jumlah besar Si, aku bangga banget dengan apa yang kita bangun sekarang ini, walau berjalan pelan tapi semua prosesnya bikin kita makin banyak belajar. Gimana tadi tanahnya Si?” tanya Yuni yang tiba-tiba ingat dengan apa yang barusan dilakukan temannya tadi.


“Alhamdulillah sudah beres, hari ini mas Bram akan mengurus balik namanya dan nanti tolong pantau juga ya Yun. Sekalian tolong minta mas bram yang atur tukangnya, gambar bangunan kan sudah ada kamu simpan to?” tanya Ngarsinah, wanita itu sangat memiliki tenaga yang berlebih, hingga semua hal dia tidak begitu saja menyerahkan kepada pekerjanya.  


“Iya, kalau ketemu dia nanti aku akan ingatkan, semoga Allah terus memberikan kebaikan untuk kita ya Si,” ucap Yuni sambil memeluk sahabatnya itu kembali.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


“Masuk!” teriak Arsi kepada orang yang mengetuk pintu, dan tidak butuh waktu lama pintu ruang kerja Ngarsinah terbuka. 


“Bu, ada tamu yang nyari ibu, katanya mau reservasi tempat yang di sebelah untuk acara ulang tahun. Bu Arsi sibuk?” tanya Ayu dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya. 


“Ok, saya akan temui dia, kamu duluan ya. Yun ayo ikut,” ajak Ngarsinah dengan hati yang riang karena kedainya akan semakin ramai dengan di perluas area kedai. 


Sesampai di depan, wanita itu berhenti sesaat, kedua wanita itu saling bertukar pandang dan akhirnya mengangguk untuk melanjutkan langkah mereka ke meja pelanggan. 


“Selamat siang bu, ada yang bisa kami bantu?” Tanya Ngarsinah kepada wanita yang duduk membelakanginya, Dengan cepat wanita cantik dengan pakaian yang sangat hemat bahan itu berbalik dan betapa terkejutnya dia. 


“Arsi? kamu kerja di kedai kue ini?” Tanya Novi dengan sedikit terkejut, dia selama ini tidak pernah tau kalau Ngarsinah yang punya kedai kue Why A, dan rasa kesal itu kembali merayapi hatinya. Kenapa takdir selalu mempertemukan dia dan wanita masa lalu suaminya itu. 


❤️❤️❤️


Di jawab apa ya sama Arsi? 🤔😁


Hayuuukk pemirsa, ramaikan jempolnya, komen, vote dan hadiaah nya ya, tengkyuuuh pemirsa..

__ADS_1


❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹


__ADS_2