Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 148: Jack Dan Sarah 2


__ADS_3

Sarah masih kesal dengan apa yang di ucapkan oleh bosnya itu, entah keberanian dari mana gadis itu menentang apa yang dikatakan sang bos. Sarah sendiri bingung dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya, Ada debaran yang tidak biasa pada jantungnya. 


Ponsel Sarah berdering, Jack yang sedang berjalan menuju sofa jadi berhenti dan menatap nyalang pada benda pipih yang ada di tangan Sarah. Pria tampan dengan wajah datar itu kini berubah horor, dengan langkah cepat dia mendekati brankar wanita yang baru saja memarahinya. 


Seeett!


Ponsel itu kini sudah berada di tangan Jack, tapi beberapa detik kemudian wajah pria itu berubah jadi kikuk. Sarah yang belum sempat melihat siapa ya menghubunginya, mengerutkan dahinya. 


“Siapa tuan?” Tanya Sarah khawatir. Gadis itu memang tidak banyak berteman, sejak bekerja dengan jack dia hanya menghubungi rekan kerja satu klinik dan kedua orang tuanya. Mereka yang bekerja di klinik pribadi milik tuan mafia itu memang diisolasi, ketidak bebasan itu dibayar mahal oleh Jack. Gaji Sarah saja bisa sampai 3 kali lipat dari dokter yang bekerja di rumah sakit umum.


“Eh … ini mungkin ibu mu yang menelepon, Sarah tolong jangan katakan kalau kamu sedang terluka.” Ucap Jack tidak enak. Pria itu sebenarnya sedang khawatir, jangan sampai orang yang mencelakai Sarah menghubungi untuk membuat gadis itu ketakutan. Tapi kali ini Jack bisa bernafas lega, Pria itu tiba-tiba saja duduk di pinggiran brankar dan otomatis membuat jarak mereka tak berjarak. 


Sarah yang melihat hal itu merasa risih sekaligus heran, ada apa dengan bos nya ini, kenapa dia bersikap aneh. Sarah kembali menatap layar ponselnya dan langsung menggeser tombol hijau, panggilan pun tersambung. 


“Assalamualaikum bu, apa kabar ibu dan bapak?” Tanya Sarah dengan senyum bahagia. Hal ini justru membuat Jack blingsatan tidak karuan, senyum Sarah sungguh memporak porandakan hatinya. Pria itu terus menatap Sarah, rasanya pria itu ingin sekali merebut ponsel itu dan melamar Sarah. 


“Wa'alaikumussalam Sarah, kami baik nak, kamu apa kabar? kok perasaan ibu nggak enak ya?” Tanya Sumiati mengatakan apa yang terjadi dengan perasaannya. 


“Nggak ada apa-apa bu, Alhamdulillah Sarah baik-baik aja.” Ucap Sarah. Tiba-tiba Jack membuat kode untuk meminta ponselnya, dengan berat hati gadis itu memberikannya. Jack menekan tombol speaker dan ikut mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu. Sarah menjadi jengah dengan sikap Jack, entah apa maksud pria itu, kekasih bukan, suami juga bukan. Tapi sikapnya sudah seperti Sarah itu miliknya. 

__ADS_1


“Nak, bisakah kamu pulang hari minggu besok? ini loh ndok, Farid anak nya Pak Lurah mau ke rumah untuk ketemu kamu. Dia dan orang tuanya berniat untuk melamarmu nak,” Ucap Sumiati. 


Duuuaarrr!


Wajah Jack langsung menggelap, rahangnya mengetat. tangannya mengepal. Sarah yang melihat reaksi pria yang ada di depannya itu, mulai menciut nyalinya. Bagaimana dia harus mengatakan hal itu kepada sang ibu, Jack yang baru saja mengatakan maksudnya untuk menikahinya dan kini mendadak ada kabar seperti ini. 


“Ehhm … ibu, Sarah belum tau bisa pulang apa tidak, nanti Sarah akan minta ijin dulu sama tuan Jack ya bu.” Ucap Sarah tidak enak. Senyum manisnya mendadak berubah menjadi nyengir kambing, sementara Jack tidak merubah arah pandangnya. 


Setelah beberapa saat berbincang dengan sang ibu, gadis itu pun meletakkan ponselnya d nakas, tanda dia sudah selesai dengan pembicaraannya. Jack yang sudah tidak sabar dengan kegelisahannya, semakin merasa buntu. 


“Sarah, jangan pernah menerima pria manapun. Aku akan meratakan kampungmu jika itu sampai terjadi!” Geram Jack. Pria itu lupa dengan hal menjaga sikap, seharusnya dia membuat kesan yang baik kepada sang calon istri buruannya. Tapi kini malah dia menunjukkan aslinya, hadeeeh Jack seloow bro, author jadi ikut bingung lah kalo begini. 


“Kamu tetaplah disini, saya akan minta orang tua kamu datang kesini dan menikahkan kita. Tunggu aku akan hubungi pak Rangga.” Ucap Jack. 


“Whaat! Tuan ini nggak seperti yang Tuan pikirkan, haduuhh gawat nih ….” Sarah menepuk jidatnya sendiri, sementara Jack berlalu mencari tempat yang aman dari pendengaran Sarah. Hatinya sudah seperti digoreng, pria itu tidak ingin siapapun mengambil Sarah. 


Rangga yang saat ini sedang bersama Arsi dan keempat anaknya, mereka berdua merasa terkejut dengan panggilan telepon dari Jack. Hari sudah sore, ada apa tiba-tiba pria itu menghubunginya. 


“Hallo Tuan Jack, ada ya–” kalimat Rangga menggantung karena sudah di sambar langsung oleh Jack. 

__ADS_1


“Pak Rangga … tolong lakukan ini untuk saya, tolong bawa kedua orang tua Sarah kesini dan suruh dia menikahkan putrinya dengan saya malam ini juga!” Ucap Jack seperti memberikan perintah perang kepada anak buahnya. 


Rangga yang berada di seberang sana langsung menepuk jidatnya sendiri, wajahnya mendadak kusut, dia menarik tangan Arsi untuk pindah ke ruang kerja. Keempat anak mereka kembali ditemani dengan suster. 


“Tenang dulu Tuan, ada apa sebenarnya?” Tanya Rangga setelah sampai di ruang kerjanya. ponsel pun di mode speaker, kini Arsi juga ikut mendengar. 


“Saya tidak mau semuanya terlambat pak Rangga, ada seorang pria yang akan melamar Sarah hari Minggu besok. Pak Rangga saya tidak akann membiarkan siapapun menyentuh Sarah, apalagi ada laki-laki lain yang berani memikirkan Sarah. Jangan harap dia akan melihat matahari di esok hari, saya minta pak Rangga bisa membawa kedua orang tua Sarah sekarang juga.” Titah Jack. Rangga dan Arsi saling melihat, mereka berdua bukannya tersinggung karena entah sudah yang keberapa kali Jack memerintahnya. Rangga bingung dengan sikap Jack, mana ada orang minta di nikahi tapi membawa orang tuanya datang. 


“Tuan, tolong tenang dulu. Begini Tuan, tunggu sebentar, saya dan istri akan kerumah sakit. Kita akan diskusikan masalah ini,” Ucap Rangga dengan nada yang tenang. Dia berharap Jack bisa memahami saat dia memberikan penjelasannya. 


Pembicaraan pun selesai, Jack setuju dengan saran Rangga. Pria itu sudah bersiap untuk meratakan desa Rorocobek, jika ada yang berani datang dan melamar Sarah. Sementara Jack dan Ngarsinah sesaat saling memandang dan dengan senyum bingung akhirnya Arsi mengutarakan pemikirannya. Rangga menunggu sang istri yang seperti sedang berpikir keras, sebenarnya Rangga ingin ketawa dengan sikap Jack tapi dengan sekuat tenaga pria itu menahannya. 


“Mas, baru kali ini aku lihat orang mau nikah mertuanya yang datengin menantu. Ini mau nikah apa mau perang sih mas?”   


❤️❤️❤️


Lamaran kok ngeri gini ya? 🤭😂😂


Yuukk jempol, komen, vote dan hadiahnya ya pemirsaaah, tengkyuh .

__ADS_1


❤️❤️❤️😂😂🤭🌹🌹🌹


__ADS_2