
Sesampainya di ruangan, Ningsih kaget melihat tubuh lemah itu tergelak dan disangga oleh berbagai alat dan selang, separah itukah keadaannya. Rasa takut membuat wanita paruh baya itu merasa berat melangkah untuk mendekat, Rangga juga tidak kalah takutnya, apa yang dilakukannya bersama Betty ternyata membawa petaka bagi gadis sebaik Ngarsinah.
Ruangan luas itu terasa senyap dan ketiga orang yang mengunjungi Ngarsinah itu hanya mampu berpikir dan bicara pada diri mereka masing-masing.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu, si kembar kini sudah berada di rumah sakit, karena jam sekolah mereka sudah berakhir. Sopir yang biasa mengantar jemput mereka diminta untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Sesampainya mereka di dalam tidak lama sebuah kejadian yang membuat semua orang ketakutan pun terjadi.
Suara yang keluar dari alat monitor jantung itu berbunyi nyaring dan tidak terputus, Rangga melompat dari duduknya dan berlari menuju brangkar Ngarsinah.
Tiiiiiiitttt!
“Ma! Arsi ma!” teriak Rangga membuyarkan keterkejutan mereka dengan suara yang sempat membuat mereka semua mematung tak percaya. Dengan Sigap Boby menekan tombol emergency yang ada di dekat brankar Ngarsinah.
Tak lama dokter dan perawat pun masuk sambil berlari memeriksa keadaan Ngarsinah. ‘Tolong semuanya berikan kami ruang untuk memeriksa pasien,” pinta Dokter Ayu dan langsung di turuti oleh mereka semua yang tadi sudah mengerubungi tubuh Ngarsinah.
Arya dan Arista memeluk ayah mereka dengan mata yang sudah basah, Rangga pun tak kalah kalut nya. Ngarsinah gadis yang baru saja ingin di didekatinya, kini benar-benar dalam keadaan tak berdaya.
Rangga tidak lupa menghubungi Pras dan menyampaikan tentang keadaan Ngarsinah, rumah wanita itu sudah diperbaiki pintunya akibat dobrakan yang Rangga lakukan.
Semua sahabat Rangga yang mengenal Ngarsinah, termasuk para pawang uang pun hari ini mulai berdatangan dengan niatan membesuk. Tapi saat ini mereka tidak diijinkan masuk karena kondisi Ngarsinah yang kritis.
“Apakah keadaan Bebeb Arsi parah ya Nia, kok mendadak kita nggak boleh masuk?” tanya Candra dengan wajah penasaran sekaligus kesal, karena tadinya mereka mendapatkan informasi dari pak Tomy, mereka diizinkan masuk, sekarang malah berbeda.
“Nggak tau juga, tapi biasanya kalau ada perintah mendadak, biasanya pasien kembali kritis.” jawab Nia dengan perasaan yang tidak kalah galaunya.
Ceklek!
__ADS_1
Seorang perawat keluar dan kembali menutup pintu, Bram dan Pras yang berdiri dekat pintu langsung memberondong perawat tersebut dengan pertanyaan.
“Suster, gimana keadaan Arsi? apakah dia baik-baik saja? kenapa kami nggak boleh masuk?” pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan bertubi-tubi oleh Bram membuat perawat itu menoleh dan menatap mereka dengan tatapan sedih.
“Maaf pak, saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan anda, karena hanya dokter yang berhak memberikan informasi tentang pasien, maaf saya permisi,” jawab suster tersebut, wajah sedihnya membuat Bram dan Pras saling memandang satu sama lain. Perawat itu sudah berlalu meninggalkan mereka dan berjalan bergegas.
‘Ya Allah, semoga Arsi nggak kenapa-napa, dia wanita yang baik, soleh dan aku sangat memintanya untuk mendampingi hidupku, Ya Allah berikanlah kesembuhan untuk Arsiku,’ doa Bram dalam hati lalu kembali menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit yang berwarna putih itu.
Di dalam ruangan Rangga, Boby, Ningsih dan si kembar tak putus memanjatkan doa untuk keselamatan Ngarsinah.
Setelah selesai pemeriksaan, beberapa perawat mulai melepaskan selang-selang penyangga kehidupan wanita berhati emas itu.
"Dokter, bagaimana keadaan Arsi?" Tanya Rangga tidak sabar, melihat sang dokter yang berbalik ke arahnya.
Duuuaaarrr!
Bak petir yang menyambar tepat diatas kepalanya, Rangga terhuyung mendengarkan apa yang dokter katakan. Ningsih pun lemas saat mendengar berita yang baru dia dengar, Boby dengan sigap menangkap tubuh istrinya yang mulai limbung., dan membimbingnya untuk kembali duduk di sofa. Rangga masih setia berdiri dengan si kembar yang berada di kanan dan kirinya.
“Dokter, tolong coba dulu, Dia pasti sedang tertidur.” Pinta Rangga memohon dengan mata yang sudah memanas.
“Pak anda harus mengikhlaskan, kami hanya seorang dokter, tidak ada yang bisa kami lakukan lebih dari pada usaha, karena Allah yang menguasai apa yang ada di jagat raya dan juga yang ada di langit.” jawab Dokter itu dengan wajah sedih dan sesaat dokter itu memandang kedua bocah yang sedari tadi menangis.
Arya melangkah mendekati brankar dengan tatapan kosong, sang dokter memberikan jalan untuk pria kecil itu. Perawat masih membereskan semua peralatan dan menarik kain putih untuk menutup sampai ke sekujur tubuh Ngarsinah yang sudah tak bernyawa.
Melihat itu, Rangga tak mampu menopang tubuhnya, pria tampan yang gagah dengan otot-otot kuat itu kini ambruk sambil memeluk putrinya. tangisannya pilu, kejadian itu demi kejadian selama kebersamaannya dengan wanita calon janda itu kembali menghiasi ingatannya.
__ADS_1
Arya sudah berada di sisi Ngarsinah, pria kecil itu menggenggam tangan pucat tak berdarah milik Ngarsinah dan dingin sekali. Arya sudah mengerti arti dari sebuah kematian, sejak mamanya meninggal Arya sudah paham akan akhir dari perjalanan manusia adalah kematian.
“Mama, kakak nggak akan manggil tante lagi, mama bangun ya, jangan tidur terus, hiks … Mama janji mau main sama kami, tapi sekarang mama malah pergi. Kakak sayang mama, kakak nggak mau mama pergi, bangun ma,” ucap Arya yang sesekali mencium tangan dingin Ngarsinah. Suara pria kecil itu terisak pilu bagi siapapun yang mendengarkannya.
“Suster bolehkah aku melihat mama Arsi?” tanya Arya lagi, Boby membantu Rangga untuk kembali berdiri, pria itu melangkah ke arah brankar, suster mengabulkan permintaan Arya untuk membuka kain yang menutup wajah damai Ngarsinah.
“Arsi, maafkan aku, kamu harus bangun untuk anak-anak dan untuk memaafkan aku, BANGUN ARSI!” Rangga histeris, pria itu mendadak kehilangan kewarasannya dan menciumi wajah pucat Ngarsinah, dia tidak peduli dengan orang yang ada di dalam ruangan luas itu.
Arya yang melihat kondisi ayahnya, pria kecil itu menangis dan menggoyangkan tangan sang mama yang belum sempat menjadi mama mereka, tapi kini malah sudah pergi meninggalkan mereka.
“Pak, anda yang sabar, ini takdir dari yang maha kuasa pak,” bujuk dokter, namun Rangga tidak peduli dengan ucapan sang dokter yang berusaha meneduhkan hatinya yang panas.
Pintu ruangan terbuka, karena mendengar teriakan Rangga membuat teman dan sahabat Narsinah penasaran dan langsung menerobos masuk. Mereka semua kaget melihat pemandangan yang ada, Rangga yang masih terus mengguncang tubuh Ngarsinah dan menciumi membuat mereka ikut berurai air mata. Tanpa harus dijelaskan, semua yang ada di ruangan itu paham Ngarsinah sudah pergi untuk selama-lamanya.
“Apakah kau masih ingin tinggal disini?”
❤️❤️❤️
Ajal datang tidak memandang kita siapa dan dengan alasan apa, hanya Allah yang tau tentang semua itu.
Haayy pemirsaku tercinta,
maaf ya kemaren otor tumbang, kapala sakit dan gak kuat buat up. Semoga pemirsa semua sehat selalu dan terus setia mengikuti kisah Jandul ya.
Maariii bom like dan komennya, vote dan hadiah ya, tengkyuuhh pemirsa ❤️❤️🌹😘
__ADS_1