
Mertha hanya tersenyum saja menanggapi kebingungan mereka, satu hal lagi wanita itu langsung masuk kedalam rumah Sarah setelah melambaikan tangannya seakan memberi perintah untuk rombongannya segera masuk.
Kedua orang Sumi hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap besannya, tapi mereka semua berusaha memaklumi. Perbedaan budaya dan tata cara hidup membuat mereka bertambah ilmu, itulah yang keluarga Sarah pikirkan.
Beda keluarga Sarah, beda pula dengan masyarakat yang julid. Mereka merasa aneh dengan apa yang dilakukan mertua dan suami Sarah, tapi tidak satupun yang berani bersuara keras.
Para pengawal yang masih siaga menatap tajam kearah masyarakat, dengan sikap waspada dan siap siaga. Disaat semua anggota keluarga masuk ke rumah Sarah, para pengawal langsung berbaris pada titik jaga masing-masing. Mereka Tidak hanya ada di depan, di belakang rumah pun ada bahkan sniper pun sudah siap pada posisinya.
Masyarakat hanya bisa bisik-bisik tetangga, mau pulang tapi masih penasaran. Mau bertanya, tapi takut di dor. Naahh jadilah mereka hanya bisa menonton saja.
"Mbakyu, kok kayak yang di film-film action ya suasananya," bisik salah satu wanita berlipstik menor.
"Iya, siapa sih sebenarnya suaminya Sarah itu Mbakyu? Kok kayak orang Yes aja," balas ibu berdaster kuning yang tadi di bisikin.
"Kalo pejabat kayaknya bukan ya, soale pejabat kalo masuk kampung kan ramah gitu sama kita-kita," sahut ibu berbaju merah yang berada di sisi kanannya.
Bisik-bisik yang ramai pun terus berlanjut, sampai mereka tidak sadar kalau bisikan merekanya sudah menyerupai suara kumpulan lebah.
Beberapa orang sedang mengawasi apa yang terjadi dan terus berbicara melalui earphone bluetooth nya, pria itu sepertinya layaknya petani. Dengan penyamaran yang sungguh bisa mengelabui siapapun, pria itu dengan leluasa mengawasi.
Ada sekitar 4 orang yang saling terhubung dan mereka terus berjalan dengan berkeliling.
Sampai pada satu kesempatan, dari arah belakang rumah Sarah yang masih banyak ibu-ibu hilir mudik melakukan kegiatan rumah tangga.
Tap!
Bugh!
__ADS_1
Sraaakk!
"Aaakkhhh!" Suara jeritan menyayat yang terdengar di tahan membuat salah satu bude Sarah terkejut.
Mata tua wanita itu menangkap seseorang yang roboh di serang oleh salah anggota White Demon, karena terkejut wanita itu pun berteriak histeris.
"TOLOOOOOONG!!!"
*****
Pertemuan keluarga untuk mengucapkan perpisahan pun berlangsung hangat, Martha tidak terbiasa duduk lesehan sedikit sulit menyesuaikan diri. Sumi yang melihat kecanggungan itu langsung mengambilkan kursi untuk besan unik nya itu.
Setelah menjelaskan tujuan mereka kali ini dan Martha pun tidak lupa meminta maaf, karena tidak bisa berlama-lama berada di desa yang membuatnya bahagia itu. Suasana desa yang sangat jarang dia rasakan, serta keramahan penduduk desa Rorocobek membuat wanita paruh baya lebih itu terkesan.
"Jadi begitu bu Sumi, saya dan rombongan serta menantu cantik ku itu akan segera berangkat. Setelah urusan kami selesai, saya akan datang lagi kesini."
Sumi dan Mijo menganggukan kepalanya tanda mengerti, walaupun mereka masih rindu dengan Sarah tapi apa daya kini gadis yang sudah menjadi Nyonya Jack itu harus mengikuti kemanapun suaminya pergi.
"TOLOOOOOONG!!!"
Teriakan histeris dari arah belakang sontak membuat orang yang berada di dalam rumah terkejut. Bude itu berlarian dari arah dapur menuju ruang tengah dengan langkah seribunya, sambil terus berteriak-teriak.
“Mbak, ada apa?” Tanya Sumi yang ikut khawatir melihat wajah sang kakak. Karena rasa takut yang menguasai dirinya, wanita paruh baya itu hanya bisa mengarahkan jarinya ke arah belakang.
“I-itu Sum, ada yang mati!” Teriaknya dengan terbata-bata dan nafas yang ngos-ngosan. Dari arah pintu, seorang pengawal masuk lalu mendekat ke arah Jack. Pria itu membisikkan sesuatu ke telinga pria tampan itu, seketika wajah Jack mengeras. Dia tidak menyangka kalau sekarang Simon menjadi pengecut, menyerang orang yang tidak siap untuk berperang.
“Tuan, kami menunggu perintah.” Ucap salah satu anak buah yang sedang menghadap jack, Pria itu mengangguk lalu matanya mengarah ke Marta. Wanita paruh baya lebih dan masih terlihat masih sangat cantik itu tersenyum dengan santainya. Seolah tidak ada apa-apa.
__ADS_1
“Do it now, Boy!” Ucap wanita itu lirih namun penuh penekanan serta ketegasan. Sarah yang mendengarkan hal itu, merasa harus segera bersiap. Jack memberikan kode pada sang istri, pria itu memberikan jam tangan yang selalu melekat di pergelangan tangannya, lalu para pengawal pun memberikan alat komunikasi lengkap berukuran kecil kepada nona mudanya.
“Semuanya harap tenang, Semua akan baik-baik saja. Saya minta semua anggota keluarga tidak ada yang keluar untuk saat ini, Rangga, David dan Bram tolong handle seluruh keluarga kita. Amankan semua keponakanku, jangan sampai ada yang lengah. Semua ini terjadi di luar prediksi, Fatim arahkan penduduk untuk masih disekitar rumah untuk masuk ke rumah nya masing-masing. Sayang tetaplah disampingku,” Titah Jack pada semua anggota keluarganya yang sama sekali belum siap berperang.
Saat kalimat terakhir terucap, Jack masih sempat merangkul pinggang ramping istrinya, pemandangan itu sontak membuat keluarga yang lainnya merasa manisnya pengantin baru sampai membuat beberapa orang dari mereka berdecak kagum. Pria dingin itu ternyata bisa juga melakukan hal yang manis, seperti itulah pikiran Sarah.
Jack dengan cepat mengajarkan Sarah tentang cara menggunakan jam tangan super canggih itu, ternyata itu bisa dijadikan senjata mematikan, karena berisikan jarum yang bisa melumpuhkan siapapun yang terkena serangannya.
Rangga, David dan Bram juga sudah menerima seperangkat alat komunikasi canggih serta pistol yang bisa digunakan untuk berjaga-Jaga. Martha sudah terhubung dengan markasnya, mereka langsung terbang menggunakan helikopter dengan membawa perlengkapan tempur.
“Gunakan ladangku untuk menghabisi mereka Jack,” Ucap David. Pria itu sedikit memahami tentang perang, dia tidak ingin warga ikut menjadi korban, kerusakan kebunnya bisa saja diganti.
“Baiklah, usul diterima.” Ucap Jack tidak berpikir lama. Pria itu senang karena Trio hebat itu ternyata ikut membantunya dalam berpikir. Jack langsung berkoordinasi dengan anggotanya untuk memancing pihak lawan ke arah yang ditunjukkan David.
Sumi dan Mijo yang sangat ketakutan sibuk mengatur keluarganya agar mengisi kamar-kamar yang tersedia. Keluarga Rangga menempati kamar yang lebih luas, karena ada anak-anak dan kedua orang tua Rangga. Arsi dan Yuni juga suster yang ikut kini tengah sibuk dengan kedua bayi kembar yang sedang menangis histeris, sementara Ningsih dan Boby sibuk mengatasi Arista dan Arya yang tiba-tiba saja rewel.
“Sayang, tolong doakan aku. Jaga anak-anak kita,” Ucap Rangga sambil meninggalkan kecupan sayang pada kening istrinya yang nampak khawatir namun berusaha tenang.
Dor!
Dor!
“Awaaaasss!”
❤️❤️❤️
Aduuuhh semoga gak ada yang kena ya 🙈😱
__ADS_1
Hayuuukk like nyaaa pemirsaah, vote, komen, hadiah dan jgn lupa subscribe juga follow ya. Semuaanya deh pokoknya. Tengkyuuhh pemirsaahh.
❤️❤️❤️🙈😱🙈🌹🌹🌹