
“BANGUN ARSI! BANGUUN!” teriak Rangga semakin menggelegar dan membuat para perawat laki-laki berusaha menenangkan pria yang kini sedang hancur itu. Arsi tidak terusik dengan apa yang dilakukan oleh Rangga, wanita itu kini sudah tidak lagi merasakan sakit, tidak ada lagi rasa sakit hati atau cemburu. Semua rasa itu sudah pergi bersama ruh yang yang meninggalkan raga.
Teman-teman Ngarsinah yang baru saja mengenal wanita sederhana yang baru saja menjadi topik gosip mereka, kini semuanya saling berpelukan, tangisan mereka semakin tidak bisa dibendung.
Kain putih kembali menutup seluruh tubuh gadis itu. suasana duka menyelimuti ruangan VVIP di rumah sakit, Boby berusaha menghubungi bu Yem dan pak Slamet. Mereka berdua kaget luar biasa, dan akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kota, Yuni yang mengetahui hal itu, merasa sesak di dada dan tak bisa menahan tangis.
Gadis itu, menenggelamkan lamunannya di sepanjang jalan dari kampung ke kota. Kilas balik kebersamaannya bersama gadis cantik berhati emas itu, tidak bisa dia hilangkan.
*****
Ngarsinah merasakan angin bertiup lembut membuat hijabnya melambai-lambai tertiup angin. Ketiduran di sebuah taman bunga yang indah, ada sungai yang mengalirkan air jernih dan ikan-ikan indah yang berlarian kesana kemari. Suara burung berkicau dan bersahutan seakan sedang mengobrol dengan keluarga atau teman mereka. Sungguh lukisan hidup yang membuat hati dan jiwa nya tenang. Tapi ada yang Aneh menjalari pikirannya, dia sendirian, ketenangan dan keindahan tapi kesepian.
"Apakah aku sendirian disini? Apakah semua ini hanya mimpi? Aahh tidak, ini semua nyata, aku bisa menyentuh dan merasakannya. Dimana Arya? Arista?" Ngarsinah merasa kebingungan dengan apa yang dia rasakan saat ini, semua terasa aneh.
"Ayah, ibu, kalian juga ada disini?" Ngarsinah tiba-tiba melihat kedua orang tuanya yang sedang mengambil air di ujung sungai. Mendengar suara putrinya, kedua orang tua yang tampak berseri itu tersenyum dan menghampiri Ngarsinah. Saling berpelukan melepas semua kerinduan yang ada, Ngarsinah menatap kedua orang tuanya, tapi entah kenapa hatinya merasa bahwa ini semua tidak nyata.
"Nak, kenapa kamu nggak pulang? mereka semua menunggu mu," tanya ayah Arsi, dan memberikan penjelasan tentang ada orang yang sedang menunggunya.
“Aku masih ingin disini ayah, tenang dan tidak melelahkan,” jawab Ngarsinah sendu. Entah apa yang membuatnya lelah, sementara perjalanan hidupnya baru saja dimulai.
__ADS_1
“Apakah kau masih ingin tinggal disini?” tanya seorang pria tampan dengan wajah berseri dan bercahaya yang menyilaukan pandangan Ngarsinah. Sesaat Ngarsinah terpaku dan jantungnya berdebar keras, pandangannya mengedar tapi tidak dia lihat siapapun ada disana. Ayah dan ibunya tidak ada lagi mengambil air, tapi Ngarsinah tidak merasa takut karena sosok pria yang datang mendekatinya membuat hatinya teduh.
Pemilik suara lembut itu tersenyum, dan membuat Ngarsinah pun ikut tersenyum. “Apa yang bisa membuatku pergi dari tempat senyaman ini tuan?” tanya gadis itu, berharap ada yang membuatnya mempertimbangkan untuk pergi dari tempat itu. Pria berwajah tampan dan bercahaya itu menyentuh air yang mengalir di sungai, pandangan mata Ngarsinah mengikuti gerakan tangannya.
“Arya! Arista! …” pekik Ngarsinah tertahan, dia sangat jelas melihat kedua bocah itu menangis di samping kanan dan kiri seorang wanita cantik berwajah pucat yang sedang di tidur. Mendengar tangisan kedua bocah yang memanggilnya mama itu pun Ngarsinah tanpa sadar ikut menangis.
“MAMAAAA! BANGUN MA!” teriak Arista pilu dan hal itu mampu didengar oleh Ngarsinah.
“Tuan, kenapa mereka menangis? siapa yang mereka tangisi? kenapa aku bisa mendengarnya?” pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Ngarsinah bertubi-tubi kepada pria misterius itu. Wajah dengan senyuman itu mendadak redup, senyum yang tadi terkembang kini surut. Tatapn pria itu berubah sedih dan menelisik ke dalam hitamnya bola mata Ngarsinah.
“Mereka menangisi dirimu, kamu pergi untuk kesenanganmu, lihatlah mereka. Belum saatnya kamu merasakan kebahagiaan yang ada disini, kembalilah untuk mereka,” Ngarsinah kembali menatap ke arah sungai, kedua bocah itu masih menangisi dirinya yang tertidur. Ada rasa rindu yang menguar hingga menghangatkan relung hatinya.
*****
Braaak!
Suara pintu di ruangan luas yang diliputi rasa duka itu di buka dengan keras, hal itu membuat semua orang yang ada di dalam sana merasa kaget dan serentak menoleh kearah pintu.
“Arsi …!” teriakan Yuni menggema seiring dengan tubuh gadis itu berlari mendekati brankar dan menubruk tubuh Ngarsinah yang sudah ditutupi oleh kain putih. Pak Slamet dan bu Yem menghampiri kedua orang tua Rangga dan Rangga yang masih nampak terpukul, mereka saling bersalaman dan pak Slamet menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Rangga menceritakan kronologi kejadian, semua begitu cepat terjadi, tapi sekali lagi rangga menutupi penyebab awal Ngarsinah mengalami musibah ini.
__ADS_1
Boby mengurus administrasi dan mempersiapkan ambulan untuk membawa jenazah Ngarsinah ke rumah nya, mereka sepakat untuk membawa Ngarsinah ke rumah Rangga, karena di rumah pribadi Ngarsinah tidak memiliki siapa-siapa, dia gadis sebatang kara, kalau di bawa ke kampung pun sejatinya Ngarsinah tidaklah memiliki rumah lagi.
Disaat semuanya sudah siap, Arya dan Arista tidak ingin berjauhan dari Ngarsinah, mereka ikut ke dalam ambulan, semua asisten rumah tangga di kediaman Rangga sudah diberi tahu kalau mereka akan membawa jenazah Ngarsinah dan meminta mereka menyiapkan segala sesuatunya.
Suara tangisan masih menggema di rumah besar yang kini diliputi duka, Ngarsinah memang baru saja mereka kenal, tapi si kembar sudah sangat dekat dengan mereka, hal ini membuat kedua orang tua Rangga pun menaruh hati dengan gadis kampung yang sederhana itu. Saat kemaren rapat di kantor pusat, Boby sempat mengajukan Ngarsinah untuk menjadi pimpinan di perusahaan distributor menggantikan pimpinannya yang baru saja dipecat, tapi siapa yang bisa menyangka ajal lebih dulu menjemput sebelum niatan itu tersampaikan.
‘Arsi, aku tidak bisa menerima kepergianmu, kamu belum mendengarkan penjelasanku atas kejadian kemarin. Tolong Arsi, beri kesempatan aku untuk meminta maaf atas kesalahpahaman ini dan beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Arsi kamu tidak kasihan sama anak-anak? mereka sangat membutuhkanmu, kamu hadir dan kembali membuat mereka merasa kan kasih sayang seorang ibu, tolong Arsi, kembalilah.’ Ucap Rangga di dalam hatinya, air matanya meleleh dan terus membasahi pipinya.
“Mama, Arya pengen makan masakan mama, bangun ma,” isak Arya yang memeluk tubuh pucat Arsi yang baru saja di letakkan. Orang yang berada di ruangan itu tak kuasa menahan tangisan mereka mendengar ucapan pria kecil yang memilukan hati itu.
“Arya … Arista …”
❤️❤️❤️
Kembalilah Arsi, kami semua menunggu mu 😭😭😭.
Mari bom like nya, komen dan vote juga hadiah yang berlimpah ya pemirsa.
Maafkan beberapa hari ini author bener2 kurang sehat, drop pemirsa, tapi rasa cinta ku pada kalian, membuat ku semangat. Makasiihh pemirsaku untuk selalu setia mengikuti si JANDUL❤️❤️🌹😘😘
__ADS_1