Janda Mandul

Janda Mandul
S2 Bab 6: Mana Jodohnya?


__ADS_3

Fatim mengirim pesan ke Arsi, walaupun sifatnya bertanya tapi hatinya sudah mantap untuk minggir dulu sejenak.


"Melawan kehendak David adalah hal yang percumah, tidak akan ada yang bisa merubah pendiriannya. Mungkin inilah akhir dari perjalanan jodohku," ucap Fatim bermonolog. Wanita itu berusaha untuk kuat, tidak ingin larut dalam kesedihan.


Tekad Fatim sudah bulat, dirinya akan membesarkan putranya seorang diri. Hidup bersama madu yang usianya lebih muda, tidak akan mampu dia jalani. Seperti itulah pertimbangan Fatim, David tidak memberikan pilihan yang baik untuknya, oleh karena itu dialah yang harus membuat keputusan.


Ceklek!


"Ma, maafkan Raziq terlambat …."


Ucapan seseorang menggantung begitu saja, saat sepasang netranya melihat sosok wanita yang tidak dia kenal. Fatim yang masih lemas dengan posisi yang setengah duduk, melihat ke arah pintu.


"Maaf anda mencari siapa?" Tanya Fatim ramah dengan senyum yang menghiasi bibir pucatnya. Entah dorongan dari mana pria yang menyebut dirinya Raziq itu melangkah masuk dengan senyum tampan namun tidak mengurangi wibawanya.


"Maafkan saya Nona, ternyata saya salah masuk ruangan. Mama saya dirawat dirumah sakit ini dan … ohh God, fix saya salah. Ruangannya di sebelah ruangan anda, ehem …kenalkan saya Raziq."


Pria itu mengulurkan tangannya dan kini pria itu sudah berdiri di samping brankar Fatim. Fatim pun mengulurkan tangannya, yang terbebas infus untuk menyambut uluran tangan Raziq.


"Fatim, tidak apa-apa tuan … mungkin karena anda terburu-buru jadi tidak memperhatikan nomor ruangannya," sahut Fatim memaklumi. Raziq menatap paras cantik Fatim yang masih pucat, entah kenapa tiba-tiba ada desiran aneh yang merayap di hatinya.


"Baiklah Nona Fatim, senang berkenalan dengan anda. Saya akan keruangan Mama dulu, sebelum dia mengeluarkan pidato panjangnya hehehe. Oh ya ini kartu nama saya, saya harap kita bisa berteman. Saya orang baru disini dan sepertinya akan menyenangkan jika kita bisa berteman. Bye Nona … semoga anda cepat sembuh," ucap Raziq panjang lebar.


Pria yang sangat periang, ramah dan tidak sombong. Itulah kesan pertama, yang Fatim lihat dari sosok seorang Raziq. Setelah melambaikan tangannya pria itu pun berlalu dan kembali menutup ruangan Fatim dengan rapat.


Sesaat Fatim tersenyum sambil melihat kartu nama yang bertuliskan Raziq Al Farouq, dengan cepat wanita itu menyalin nomor ponsel Raziq ke dalam ponselnya. Semua dia lakukan tanpa niatan apa-apa, mengingat Raziq orang yang menyenangkan dan mengatakan ingin menjadi temannya.


"Selamat sore tuan Raziq, ini nomor saya. Fatim," tulis Fatim pada sebuah aplikasi pesan berwarna hijau. Disaat seperti ini, wanita itu merasa senang mendapatkan teman baru.


Di ruangan lain, tepatnya di sebelah ruangan Fatim. Seorang wanita paruh baya nampak sedang terbaring lemah, dengan selang infus yang terhubung ke tangannya.

__ADS_1


"Mama, kenapa sampe sakit begini sih? Ini pasti karena pikiran deh," ucap Raziq dengan raut wajah kesal. Sang Mama hanya melengos dengan raut wajah kesal, namun tidak sedikitpun mengurangi kecantikannya.


"Yash makin lama bukan makin kecil Raz, dia butuh sosok seorang ibu. Sementara kamu masih saja sibuk dengan pekerjaanmu, perusahaanmu terus berkembang maju tapi urusan pribadimu jalan di tempat."


Omelan panjang dengan cibiran kepada putra tunggalnya pun meluncur dengan damai. Ayesha memang sosok ibu yang cerewet, tapi sangat penyayang dan tidak pernah membandingkan kasta.


"Ma, jodoh itu di tangan Tuhan. Dan kalau sudah jodoh tidak akan kemana," jawab Raziq dengan santai dan duduk di kursi yang ada di samping brankar.


"Iyaaa … tapi mana jodohnya?!" Sahut Ayesha sengit. Putranya itu asal saja bicara, terkesan sok bijak tapi ngawur.


Ping!


Sebuah pesan dari nomor yang belum tersimpan di phonebook nya pun masuk, dengan cepat pria itu membukanya.


"Selamat sore tuan Raziq, ini nomor saya. Fatim,"


"Aahhh Mama, tolong doakan dan restui aku. Sepertinya sang jodoh sudah nampak hilal nya," ucap Raziq asal namun raut wajahnya nampak sumringah.


"Ok Nona Fatim, saya akan simpan nomornya. Kabari saya ya, apapun itu."


Balas Raziq cepat. Entah kenapa jantungnya yang tadi tenang, kini berdetak lebih cepat dari biasanya. Sejak istrinya berpulang kepada yang Esa, Raziq memang tidak pernah lagi merasakan debaran yang membuat jantungnya seakan menari seperti ini.


"Siapa gadis itu Raz?" Tanya Ayesha semangat. Wanita itu memang belum pernah melihat putranya bersemangat seperti ini, sampai-sampai bicara masalah restu.


"Santai ma, nanti ada saatnya akan aku kenalkan. Aku pun baru saja mengenalnya," ucap Raziq jujur.


Plak!


"Aaww … sakit ma, kenapa aku dipukul?" Tanya Raziq yang mengusap tangannya, sementara Ayesha gemas sendiri dengan kelakuan putranya.

__ADS_1


"Mana bisa kamu minta restu Mama, sementara kamu baru kenal dia. Jangan PHP mama Raz," sahut Ayesha kesal. Entah bagaimana cara putranya itu berpikir, belum mengenal sudah di klaim sebagai jodohnya.


“Ma, jodoh itu seperti pekerjaan. Jika hatiku sudah mengatakan untuk buka cabang, maka aku akan berusaha keras untuk mewujudkannya. Begitu juga dengan jodoh ini Ma,” Ucap Raziq penuh percaya diri. Ayesha memijit keningnya yang terasa pusing, ternyata putranya benar-benar aneh, mana ada urusan berumah tangga disamakan dengan pekerjaan.


“Cepatlah bawa dia ke hadapan Mama,” Titah Ayesha singkat. Wanita itu sakit karena darah tingginya kumat, memikirkan putra semata wayangnya yang gila kerja. Seentara cucu kesayangannya sudah sibuk untuk meminta mama, walaupun uang mereka tidak habis tujuh turunan, tapi mana bisa membeli seorang mama.


*****


Waktu sudah berganti, hari ini Fatim sudah diperbolehkan untuk pulang. David tidak bisa datang karena ada meeting dan meminta untuk Fatim pulang sendirian. Ada rasa kesal yang menjalari hatinya, namun dia sudah siap untuk menatap hari ini dan seterusnya dengan lapang dada dan ketetapan keputusan yang sudah bulat. Arsi dan Yuni sekarang sedang membereskan rumah Fatim yang sudah lumayan lama tidak ditempati, Mereka sangat bersyukur kedai soto milik wanita itu tetap berjalan selama Fatim menjadi istri seorang David Van Houten.


Dengan gerakan yang lambat, Fatim mengemasi barang-barangnya dibantu oleh suster, wanita itu sudah menyelesaikan pembayaran yang ternyata belum dibayarkan oleh David.


“Bu, semuanya sudah beres. Apakah ibu mau saya bantu sampai kedepan?” Tanya suster yang tersenyum ramah.


“Saya bisa sendiri sus, terima kasih sudah membantu saya. Maaf jadi merepotkan suster,” Sahut Fatim tidak kalah ramah.


“Baiklah bu, saya tinggal ya. Hati-hati dijalan bu dan semoga cepat sembuh.”


Suster itu pun berlalu, kini tinggallah Fatim sendirian. Dengan langkah yang pelan wanita itu keluar dari ruangan yang 2 hari ini dia tempati. Tidak ingin tergesa-gesa, Fatim ingin merenungkan keputusannya. Dari arah lain, seorang bocah berusia sekitar 5 tahun berlari dengan cepat dan sepertinya balita itu sambil sesekali menoleh kebelakang.


Bruk!


“Ma-ma ….”


\~\~\~\~\~


Aiihhh anak siapa itu?


Yuuukk Like, like, like. komen, vote, hadiah dan subscribe ya pemirsaaahh. tengkyuuhh. Love sekebon untuk semua pemirsah tercintahh.

__ADS_1


__ADS_2