
David masuk ke ruang kerjanya, pria itu bukannya bekerja tapi sibuk dengan pikirannya sendiri. Mengingat ucapannya kepada Fatim barusan, bahwa dialah yang akan mengurus perceraian mereka, dengan cepat David menghubungi pengacaranya.
"Frans, tolong kamu urus perceraianku dengan Fatim. Jangan lupa, berikan hak dia sesuai dengan aturan yang ada."
David sudah membulatkan tekadnya, sang pengacara pun dengan sigap menyanggupi permintaan kliennya.
"Baik pak David, saya akan segera mengurusnya. Apa ada lagi yang anda butuhkan?" Tanya Frans.
"Tidak ada," sahut David. Pembicaraan melalui telepon itu pun terputus, kini David duduk di kursi kebesarannya. Sesaat sepasang netranya menatap bingkai foto dirinya dan Fatim saat liburan bersama.
"Huufff Fatim, maafkan aku. Aku berharap kamu bisa memberikan keturunan untuk meneruskan apa yang sudah aku rintis, tapi semua itu ternyata tidak bisa terwujud. Jika saja kamu masih mau bersama, mungkin perpisahan ini tidak akan terjadi. Semoga kamu berbahagia setelah semuanya selesai Fat," gumam David seorang diri.
Pria itu melepaskan foto yang ada dalam bingkai perak itu, dengan satu kali tarikan tangan saja, foto itu sudah robek menjadi dua bagian.
Sreettt!
Dengan cepat David membuangnya di tempat sampah, pria itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang besar.
"Maafkan aku Tuhan, aku tidak egois kan? Aku juga harus memikirkan kelangsungan keturunan. Apakah aku salah?" Tanya David seorang diri.
Ceklek!
"Kak Dave, apakah aku mengganggu?" Tanya Samira yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Wanita itu membawa nampan berisikan kopi dan cemilan.
"Samira, masuklah. Lain kali, tolong ketuk dulu pintunya baru masuk. Mana Viona?" Tanya David datar. Pria itu tidak memberikan senyuman sama sekali pada Samira kali ini, pikiran David masih terfokus pada Samira.
__ADS_1
"Maaf Kak, iya lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi. Ini kopinya kak," sahut Samira lembut. Wanita itu melangkah dengan anggunnya, sesaat netra David melihat penampilan Samira yang berbeda dari yang tadi.
Wanita itu mengenakan dress selutut dengan potongan kerah rendah, sehingga membuat kedua asetnya terlihat mengintip. Samira yang masih menyusui membuat dadanya terlihat penuh, hal itu membuat David terpana sesaat.
"Samira, apakah kamu mau pergi keluar rumah?" Tanya David yang kini sudah memperhatikan Samira secara intens. Samira meletakkan cangkir berisi kopi dan piring kecil yang berisikan cake coklat, dengan pakaian itu membuat lekuk tubuh Samira semakin tercetak jelas.
"Aku tidak mau kemana-mana kak, ini tadi Viona buang air kecil dan pakaianku terkena. Jadinya aku ganti baju, aku tidak punya baju lagi kak, jadi baju untuk jalan yang aku gunakan. Sementara cucianku kering," sahut Samira panjang lebar menjelaskan se detail mungkin.
"Sore nanti, akan aku antar kamu membeli pakaian. Bawa Viona juga," titah David. Pria itu tidak seramah saat tadi sebelum kedatangan Fatim, tapi Samira bisa memakluminya.
Di rumah Fatim, wanita itu berusaha untuk tegar saat nanti berhadapan dengan putranya. Jay belum pulang dari sekolah, anak itu pasti akan bertanya tentang papa Davidnya. Mungkin tidak hari ini, tapi bisa jadi besok atau lusa. Fatim sudah harus siap dengan jawaban yang akan dia berikan, beruntung Jay anak yang pintar dan mandiri. Jadi hal seperti ini, Fatim sangat yakin kalau sang putra akan bisa menerima.
"Assalamualaikum ma," ucap Jay dengan senyum yang membuat wajahnya semakin tampan. Bocah itu berbadan bongsor, jadi tingginya kini sudah hampir sama dengan Fatim yang bertubuh mungil.
"Waalaikumussalam, capek ya sayang? Gimana hari ini sekolahnya?" Tanya Fatim yang membantu sang putra membawa tas punggung dan tas bekalnya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, iya sayang. Mama setuju aja, tapi kenapa wajah tampan ini kok sedih?" Tanya Fatim. Jay menatap sekolah ke arah mama nya, lalu membuang pandang ke arah luar rumah.
"Zahir itu sahabat Jay ma dan sekarang kami sama, sama-sama gak punya papa." Jay tertunduk. Bocah tampan yang kini sudah nampak semakin besar itu hanya berani menatap lantai dengan kesedihan yang menggelayuti wajahnya.
"Jay, mama sayaang sama kamu. Kalian memang tidak punya papa lagi, tapi Jay dan Zahir adalah anak-anak yang kuat dan hebat. Karena apa? Karena kalianlah yang akan jagain mama-mama kalian," ucap Fatim menyemangati.
"Tapi kami kan masih kecil ma, mana bisa jagain mama."
Jay masih belum memahami apa yang dimaksud oleh Fatim, walau di hatinya ada sedikit rasa bahagia karena sang mama sangat bangga atas dirinya.
__ADS_1
"Sayang, menjaga itu bukan hanya seperti jagoan. Jay bisa menjaga mama dengan prestasi, nama baik, akhlak yang mulia dan sebagainya. Itulah sekarang tugasnya Jay sebagai laki-laki, sebagai pemimpin. Jangan sedih lagi ya nak, Jay dan Zahir sebisa mungkin saling menyemangati dan sama-sama memberi pengaruh yang baik."
Jay tersenyum lebar, kini kesedihan yang dia rasakan perlahan hilang, wajah mendungnya sudah berganti dengan kecerahan.
"Jay gimana kalau sore ini kita jalan-jalan, mau?" Tanya Fatim dengan senyum terbaiknya.
"Maaaauuuu … oya ma, Jay pengen main di taman bermain. Boleh ma?" Tanya Jay. Fatim tersenyum bahagia melihat anaknya yang sudah kembali ceria, selama mereka sudah tidak kembali ke rumah David, Fatim memberikan pengertian kepada Jay.
Waktu berlalu dengan cepat, seperti yang tadi direncanakan oleh Fatim. Mereka akan pergi ke area permainan di lapangan terbuka, sore seperti ini taman bermain di penuhi oleh anak-anak.
"Mama, Jay mau main itu!" Teriak Jay bersemangat. Fatim mencari tempat yang nyaman untuk duduk selama menunggu putranya bermain, wanita itu mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban setuju.
Di tempat bermain Jay memilih bermain bola, tapi sesaat matanya tertuju pada seorang anak yang kesusahan melepaskan kaos kakinya. Dengan cepat Jay mendekatinya dan berniat untuk membantu anak kecil itu.
"Sini kakak bantu dek, ucap Jay dengan senyum ramahnya. Bocah kecil berwajah tampan itu mengangkat kepalanya dan kini tatapan mereka pun saling bertemu.
"Mau kakak, telima kasih kak. Ini susah bukanya kak," sahut bocah itu. Dengan sigap Jay melepaskannya. Setelah selesai mereka pun tertawa bersama.
"Adek siapa namanya?" Tanya Jay.
"Yash …."
❤️❤️❤️
Yeeeyy mereka ketemu… bisa jadi adek kakak gak ya?? 🤔
__ADS_1
Yukk like, vote, subscribe, komen dan hadiahnya ya pemirsaah. Tengkyuuhh. ❤️🌹