
Hari berlalu, saatnya suami istri itu pulang kembali ke rumahnya, seperti biasa anak-anak selalu bersama dengan Arsi, mereka berdua itu tidak mau langsung pulang ke rumahnya setelah pulang sekolah. Ke kedai dan mengikuti kegiatan Ngarsinah adalah kesenangan mereka.
Rangga pulang membawa beberapa bungkus makanan, pria tampan itu berinisiatif untuk membelikan istrinya cemilan, karena dia melihat beberapa hari ini sang istri sangat suka makan yang berat maupun makanan ringan.
Dengan cepat anak-anak mandi dan kini sudah berkumpul di ruang keluarga untuk menonton televisi, Arsi baru saja turun dari kamar untuk menyambut sang suami pulang kerja seperti biasanya.
“Sayang ini aku belikan cemilan, enak-enak loh. Ntar kalo kamu suka kita bisa beli lagi,” ucap Rangga sambil memberikan kantong belanja dan tas kerja juga jasnya kepada Arsi. Wanita yang terlihat lebih chubby itu menerima semuanya dan tidak lupa mencium punggung tangan Rangga.
“Dari aromanya enak mas, yuk kita cobain. Mas mau mandi dulu atau mau langsung ngemil?” Tanya Arsi dengan segera membereskan bawaan suaminya.
“Mandi dulu aja, udah lengket rasanya sayang,” jawab Rangga, Arsi hanya mengangguk dan menuju ke ruang kerja untuk meletakkan tas kerja suaminya. Sebelum meletakkan jas ke ruangan cuci, seperti biasa Ngarsinah memeriksa kantong jas. Sekarang ada secarik kertas nota belanja yang membuat matanya tiba-tiba membulat dan entah kenapa mendadak wanita itu merasa emosi.
“Mas, kue-kue ini kok mahal banget? ini pemborosan mas namanya. Kenapa kamu nggak beli di kedai ku, uang sebanyak ini kamu belanjakan di toko orang lain, kamu kok tega banget sih mas?!” Tanya Ngarsinah dengan emosi yang tiba-tiba saja membakar hatinya, Rangga yang baru saja sampai di ruang makan jadi bingung.
Biasanya sang istri akan senang jika di belikan kue dari toko lain, katanya waktu itu biar bisa mengikuti perkembangan jaman. Tapi sore ini, sang istri sepertinya sedang masa datang bulan jadi sangat mudah marah, sedih atau bahagia.
“Sayang, kan biasanya kamu suka aku kasih wacana baru, biar bisa berkembang ide-ide kamu. Kenapa sih sayangnya aku ini kok marah, hem?” tanya Rangga setelah menjawab dan mengingatkan kebiasaan istrinya.
“Iya itu dulu mas, tapi sekarang aku gak bisa kamu giniin … ini sama aja kamu nggak menghargai kedai ku, belanja di tempat orang lain. Uang sebanyak ini loh mas … Hiks … Hiks,” tengis Ngarisnah pecah untuk emosinya yang tak tentu arah, Rangga melihat hal itu jadi panik. Kenapa dengan istrinya sore ini?
__ADS_1
“I-iya sayang aku minta maaf ya, besok-besok aku akan belanja di kedai Why A. Mana ada sih kedai kue yang menandingi rasa, dari kedainya istri pak Rangga. Sudah-sudah cup …cup, jangan nangis ntar bulu matanya rontok loh sayang, hehehe,” ucap Rangga berusaha menenangkan hati sang istri. Tidak ingin semuanya semakin mendrama, pria itu memilih untuk meminta maaf.
Beberapa saat Arsi menangis di pelukan hangat suaminya, Setelah tenang kini mereka menikmati kue itu bersama-sama di ruang keluarga. Ajaib, Ngarsinah makan banyak sekali dan setelah dia merasa perutnya penuh barulah berhenti. Rangga melihat perubahan drastis istrinya, tapi takut mengatakan.
‘Bukannya ini sudah lewat ya tanggal Arsi datang bulan?’ gumam Rangga bertanya-tanya dalam hatinya. Rangga mengingat-ingat tanggal berapa biasanya dia puasa, dan setelah ingatannya terkumpul semua barulah dia menyadari kalau bulan ini istrinya belum datang bulan.
‘Tapi kan dia sendiri yang bilang kalau dia tidak bisa hamil alias mandul? ah mungkin siklusnya maju mundur kali ya,’ gumam Rangga lagi, dan masih bertanya dan menjawab sendiri apa yang dia rasakan mengenai perubahan istri nya. Mata pria itu menatap bahagia melihat istri dan anak-anaknya bercengkrama dan saling menggoda. Tidak ada batasan lagi diantara ketiganya, ibu sambung rasa ibu kandung seperti itulah yang Rangga saksikan saat ini.
*****
Di rumah david, kedua manusia yang akhir-akhir ini jarang berinteraksi itu tampak akur di ruang keluarga. Novi tidak mengulah sejak kejadian satu bulan yang lalu, dia sudah menyelidiki dimana rumah calon madunya dan berusaha tetap terlihat baik sampai Fatim masuk ke dalam perangkap.
“Aku tidak masalah sayang, selama itu membuatmu bahagia aku akan setuju. Aku lihat Fatim wanita yang baik, lagian kamu hanya butuh anak kan dari dia. Selama cinta mu kepadaku tidak berubah, aku tidak akan mempermasalahkan madu ku seatap dengan kita.”
Jawaban Novi membuat David tersenyum senang, Pria itu tidak ingin mengulur waktu, dan program hamil untuk Novi kini dihentikan. David bukanlah orang yang mau berhitung rugi, beberapa lama ini sudah lumayan banyak dia menguras uangnya. Novi tidak sadar dengan sifat dasar suaminya, dia terlena dengan dunia sosialitanya sendiri.
“Baguslah, kamu bisa mengerti apa yang aku inginkan. Jika kamu mulai lelah, aku tidak keberatan untuk melepasmu, karena dulu pun kita berjalan atas dasar sama-sama menerima. Aku harap kamu bisa mengerti itu,” ucap David menanggapi kalimat Novi, pria itu sudah memberikan pilihan kepada sang istri, bukan tidak cinta lagi, tapi David tidak akan memaksakan orang lain untuk bertahan disisinya ketika tidak ada kesanggupan.
“Kenapa kamu bilang gitu sayang? a-apa kamu sudah tidak cinta lagi sama aku?” tanya Novi dengan tatapan nanar menyapu wajah suaminya. Wanita itu merasa tercubit hatinya, entah kenapa bayangan beberapa tahun lalu menghantui pikirannya.
__ADS_1
Saat-saat dirinya berusaha membuat rumah tangga Arsi, menjadi neraka karena hasutan dirinya kepada David. Berbagai macam cara dia lakukan untuk mendapatkan pria berdarah campuran Belanda itu, kini keadaan itu sedang dia hadapi. Hanya saja bukan Fatim yang berusaha mendapatkan suaminya, tapi suaminyalah yang berusaha keras mendapatkan hati janda satu anak itu.
Sakit yang luar biasa kini dia rasakan, ingin menuduh Fatim sebagai pelakor tidak bisa, karena semuanya terang-terangan dia ketahui bahwa janda satu anak itu diminta secara terhormat oleh sang suami.
Luka yang tak berdarah, dendam yang tak jelas kemana arahnya. Seperti inilah saat ini yang Novi rasakan, marah dan sedih menguasai hatinya yang kini patah. Harus bertahan dengan tiap hari mendapatkan luka, bayangan kemesraan sang suami dengan istri barunya, akankah dirinya mampu bertahan? ingin mengadu pada kedua orang tuanya, tentu akan membuat dirinya malu. Mengadukan hal ini kepada Peter, saudara dari David tentu tidak mungkin. Mereka tidak ada yang peduli dengan kehidupan orang lain, Novi merasa sendiri.
❤️❤️❤️
Naaahh ... kan ... kan, emang sih Nov, luka paling sakit itu saat dalam dilema, aaiisshh 😆.
Pemirsah tercintah, jangan lupa mampir ke karya sahabat othor ya.
jan
Cuuusss Like, komen, vote dan hadiaah ya pemirsaaahh, tengkyuuhh pemirsah tercintaah
❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹
__ADS_1