Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 23: Permintaan Rangga


__ADS_3

Saatnya mereka semua berpisah, kini mobil Rangga yang sudah penuh dengan barang Ngarsinah melaju perlahan menyusuri jalan berbatu dan kembali kedua bocah itu tertawa karena tubuhnya terombang ambing kesana kemari. 


"Mama, nanti pulang kerumah dedek?" Tanya gadis kecil itu setelah mobil melintas di jalan aspal yang rata dan jalanan pun  tidak terlihat ramai. ‘Sepertinya gadis kecilku ini pantang menyerah untuk memintaku ke rumahnya, padahal tadi sudah di jawab, sekarang tanya lagi, hehehe dasar bocah, selalu aja minta dituruti kemauannya.’ Gumam Ngarsinah dalam hati, tapi bibirnya tidak melepaskan senyum manis yang menyejukkan untuk kedua bocah yang mulai menghiasi hari-harinya. 


"Mama langsung pulang kerumah ya sayang, besok kan mama sudah masuk kerja," jawab Ngarsinah yang sudah tau kemana arah pertanyaan anak gadisnya itu. “Papa juga harus bobok di rumah mama, kakak juga, jadi dedek bisa pamer sama Cintya kalo sekarang dedek punya mama dan papa,” Rangga memijit puncak hidungnya karena bingung harus bagaimana membantu Ngarsinah menjelaskan kepada gadis kecilnya yang selalu mendesak wanita cantik itu.


“Sayang, nanti kalo sudah beres rumahnya ya, orang sabar di sayang Allah, dedek mau kan jadi kesayangannya Allah?” Ngarsinah berusaha menenangkan hati sang bidadari kecil itu. “Tapi papa dan kakak juga ikut?” tetap saja dia memaksakan kehendaknya yang membuat Rangga dan Ngarsinah bertemu pandang untuk sesaat, lalu Rangga kembali fokus dengan jalan raya. 


“Dedek, kalo papa nginep di rumah mama nggak boleh, karena itu melanggar peraturan, dedek sama kakak boleh nginep disini, tapi harus sabar ya sayang,” bujuk Ngarsinah yang sudah mulai kewalahan menghadapi permintaan sang putri. Bibir mungil itu kembali manyun cantik, dan itu membuat Ngarsinah merasa gemas sekaligus tidak tega karena mata gadis itu mulai berkaca-kaca, mungkin karena kesal permintaannya tidak bisa diwujudkan. hanya anggukan saja yang menjawab perkataan si calon ibu masa depannya itu. 


Mobil Rangga memasuki halaman rumah Arsi dan memarkirkannya dengan manis agar memudahkan untuk mengeluarkan barang-barang yang tadi di bawa dari kampung. Dengan sigap duda tampan itu menurunkan semua barang yang memenuhi bagasinya. Kedua anak kembar itu sepertinya sudah terlelap karena mungkin terlalu lelah seharian ini. Setelah selesai, Rangga Pun berpamitan, sebelum pria itu masuk mobilnya, dia berbalik dan kembali mendekati Arsi yang berdiri di teras. 


“Apa ada yang ketinggalan mas?” tanya Ngarsinah bingung melihat Rangga yang kembali menghampirinya. “Mbak Arsi, bolehkan saya minta sesuatu?” tanya Rangga setelah berdiri berhadapan dengan wanita yang membuat jantungnya kini mulai jedag jedug. “Apa yang bisa saya bantu mas?” tanya Ngarsinah sopan sekaligus bingung. 


“Bolehkan saya memanggil nama saja? dan kita menjadi aku dan kamu?” 


Bluussshhh 

__ADS_1


Pipi Ngarsinah yang berkulit bersih itu merona, Rangga masih bisa melihatnya karena lampu teras yang terang, sehingga membantu mata rangga menikmati semburat cantik di wajah yang polos tanpa make up itu. 


“Ma–maksud mas gimana?” tanya Ngarsinah salah tingkah, tidak hanya karena permintaan Rangga, tapi juga dari cara Rangga menatapnya. “Arsi, aku ingin kita bisa lebih dekat, apalagi anak-anak merasa nyaman bersama kamu,” Rangga langsung mempraktekan apa yang tadi dia minta kepada Ngarsinah. 


Dag dug dag dug


Ngarsinah yang mendengarkan perubahan panggilan itu merasakan desiran aneh di hatinya. ‘Mas Rangga ingin kami lebih dekat, tapi aku takut terlibat hubungan hati dengannya, aku harus sadar diri dengan keadaanku. Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita mandul sepertiku.’ gumam Ngarsinah yang membuat wajahnya mendadak mendung. Hal ini di tanggapi salah oleh Rangga, dia mengira Arsi keberatan dengan permintaan yang mungkin terlalu cepat. 


“Ar–Arsi maaf kalau aku sudah lancang meminta hal yang tidak bisa kamu penuhi, tapi tolong berikan kesempatan untuk aku bisa mengenalmu lebih jauh,” Rangga yang merasa bingung tapi tidak ingin menunda waktu untuk meminta Ngarsinah membuka hati untuknya. 


“Pelan-pelan saja Arsi, biarkan takdir yang bekerja, kita hanya berusaha, sekarang kamu istirahat sudah malam, aku permisi pulang dulu, Assalamualaikum Arsi,” pamit Rangga dengan senyum terkembang dan hati yang berbunga-bunga. Mobil mewah itu pun berjalan perlahan meninggalkan halaman parkir rumah Ngarsinah, 


Gadis itu buru-buru mengunci pagar. “Mas Rangga, apa maksud kalimatmu? takdir yang bekerja, kita hanya berusaha, Kita? itukan permintaanmu mas, aku belum menginginkan menjalin hubungan dengan siapapun saat ini,” Gumam Ngarsinah yang mendadak pusing mengingat kalimat yang tadi di ucapkan orang yang akan menjadi bosnya besok. 


*****


Ngarsinah baru saja membersihkan tubuhnya dan naik ke tempat tidurnya. Baru saja tubuhnya lurus, tiba-tiba ponsel pintarnya berbunyi. Rumah baru itu masih berantakan, Rencana Ngarsinah akan membereskannya secara bertahap. Dengan malas Ngarsinah mencari ponselnya di dalam tas yang tadi dia letakkan di antara barang yang masih berhamburan.

__ADS_1


"Yuni, ya Allah aku sampai lupa belum ngabarin ibu dan keluarga disana," Ngarsinah menepuk jidatnya pelan, lalu buru-buru menggeser tanda hijau dan panggilan video pun tersambung. 


"Hallo Assalamualaikum Yuni, ibu, bapak maaf Arsi baru sampe langsung mandi, jadi belum sempet telpon ke rumah sana," sahutku langsung menjelaskan keadaanku. Yuni yang berada di tengah sedikit menjauhkan ponselnya agar bapak dan ibu bisa masuk dalam tangkapan kamera. 


[Waalaikumsalam ndok, Alhamdulillah kamu sampe dengan selamat, waahh anak ibu sekarang sudah resmi jadi orang kota ya, jangan lupa sama kami ya ndok,] bu Yem tersenyum hangat, pak Slamet tampak hanya bisa memandangku dengan senyum yang menenangkan.


"Arsi tetap aja orang desa Rorocobek tercinta bu, mana bisa jadi orang kota, hanya kerja aja di kota bu. Yun, kamu kenapa sedih gitu mukanya? Kangen aku ya, hehehe" jawab Ngarsinah meyakinkan bahwa dia tetaplah orang desa dan bangga dengan desanya. Tapi gadis itu merasa ada yang berbeda dengan wajah Yuni. 


[Arsi aku sudah diskusi sama bapak dan ibu, aku mau mengadu nasib juga di kota bersama mu, apa boleh? aku ingin bisa move on, kalo disini terus dan akan sering ketemu dengan Joko, aku akan sulit untuk move on. Gimana Arsi?] permintaan Yuni sebenarnya membuatku merasa senang, karena di rumah sebesar ini sendirian membuatku tidak nyaman dan kesepian. 


“Ibu dan bapak apa setuju?” tanya gadis itu hati-hati


❤️❤️❤️


Hmm kalo Yuni bisa bareng sama Arsi makin seru nih hari-hari mereka, semoga mereka bisa cepet move on ya 🤭.


Mana jempooll nya pemirsa.. di tunggu juga komen nya dan vote juga subscribe ya, eeiitts jangan lupa hadiiaahh nya. tengkyuuhh pemirsa, ❤️selautan buat semuanya 😘😘🌹

__ADS_1


__ADS_2