
Rangga suda sangat kacau saat ini penampilannya, rambut acak-acakan dan baju yang sudah tidak rapi lagi, sebagian keluar dari celana panjangnya. Tidak ketinggalan luka cakaran yang membuat tangan pria tampan itu semakin memprihatinkan, namun si pria tampan dan berkantong tebal itu sudah tidak lagi memikirkan penampilan. Hanya ada Arsi dan keselamatan ketiga anaknya yang selalu memenuhi kepalanya.
Arya dan Arista tinggal di rumah dan akan berkunjung setelah semuanya tenang. Sampai di rumah sakit, Rangga keluar dari mobil tanpa meninggalkan sepatah katapun dan hal itu membuat Ningsih dan Boby saling pandang. Sementara Ngarsinah yang merasakan kontraksi luar biasa tidak lagi dengan keadaan sekitarnya.
Andai saja saat ini Ngarsinah tidak mengandung pasti wanita itu sudah mengikuti Rangga dan memarahinya sampai hari berganti. Terlihat Rangga berbalik dan membukakan pintu untuk istrinya.
“Maaf sayang aku lupa kamu masih di dalam,” Ucap Rangga dengan wajah panik dan takut dimarahi oleh sang mama. Arsi sudah dibawa ke ruang persalinan. Dokter dan para asistennya sudah siap, sementara Rangga ikut menunggu di dalam atas permintaan Arsi.
“Ayo bu, tarik nafas lalu hembuskan dan jangan menaikkan bokong ya. Alhamdulillah ibu bisa melahirkan normal, ini bukannya sudah cukup.” Ucap Dokter yang menangani. Ngarsinah mengikuti arahan yang diberikan oleh sang dokter. Rangga terus memberikan suport untuk sang istri yang kini sudah mulai pucat.
‘Saaakiit mas … Allahu Akbar!” Jerit Arsi.
Tap!
“Heeekk, Heeeekkk!”
Arsi menancapkan kukunya yang tidak panjang tapi tetap saja menyakitkan bagi rangga yang memberikan tangannya untuk menjadi tempat pelampiasan sang istri dalam menyalurkan rasa sakitnya.
Arsi Kembali mengejan karena ada dorongan dari dalam perutnya. Tidak lama Keluarlah seorang bayi tampan. Dengan cekatan sang dokter mengeluarkan bayi pertama, Rangga meneteskan air mata bahagianya.
“Oeeekk … oeeekkk!” Tangisan bayi itu terdengar lantang dan hal itu membuat Ngarsinah meneteskan air mata bahagia dan penuh syukur. Tidak lama kembali perutnya terasa mulas dan kontraksi hebat pun terjadi, Dokter kembali siaga di posisinya untuk menerima kelahiran bayi kedua.
“Ayo bu, berjuanglah lagi. Ini kepalanya sudah ada di jalan lahir. ikuti arahan saya ya untuk mengejan. Satu … Dua … Tiiii-gaaa!” Ucap Dokter.
__ADS_1
“Heeeeekkkk!” Arsi mengejan panjang. Dengan segala syukur kepada Allah bayi kedua pun lahir dengan selamat. Rangga yang bahagia sekaligus lemas karena ini adalah pengalaman pertamanya melihat proses kelahiran.
“Oeeeekk … oeeekk!” Tangis sang bayi cantik.
“Selamat pak Rangga kali ini yang lahir bayi cantik.” Ucap sang dokter.
“Terima kasih dokter, Terima kasih sayang. Kamu hebat sayang, berjuanglah sayang untuk bayi ketiga kita.” Ucap Rangga dengan raut wajah yang tidak bisa lagi diterjemahkan. Arsi tidak bisa menjawab apa-apa, tubuhnya terasa lemah dan hanya bisa mengangguk..
Sebagai seorang ibu, Arsi tidak akan menyerah dan akan terus berjuang demi buah hatinya yang masih tertinggal satu di dalam. Dengan segala tenaga yang tersisa wanita itu kembali berusaha untuk bisa mengeluarkan sang buah hati.
‘Heeeekk!” Arsi kembali mengejan. Setelah sekian lama proses nya kini sang bayi laki-laki sudah berhasil keluar dari rahim sang mama. Ketiga bayi itu di bersihkan dan Rangga langsung mengadzaninya. Arsi di bersihkan dan kini sudah berada di ruang perawatan.
Suster membawa kedua bayi yang tampak cantik dan tampan, semua keluarga tidak terkecuali Bram dan Yuni kini sudah datang untuk melihat keluarga baru mereka. Arsi merasa ada keanehan, kemana bayinya yang satu lagi.
“Mas kok bayinya cuma ada dua?” Tanya Ngarsinah kepada Rangga yang sedari tadi sibuk mondar mandir untuk mengurus semuanya. Bayi ketiga mereka berada di ruang tindakan, setelah dibersihkan bayi ketiga mengalami kejang dan kesulitan dalam bernafas. Dokter sudah menjelaskan kepada Rangga dan hal ini membuat Rangga sulit untuk menjelaskannya kepada sang istri.
“Aku ingin melihat putra ku mas,” Ucap Ngarsinah dingin. Ningsih dan Boby mendekati brankar Ngasinah. Yuni dan Bram menjaga kedua box bayi yang penghuninya masih beradaptasi dengan dunia.
“Sayang, kamu yang sabar ya nak, putra mu sedang ditangani oleh ahlinya. Mama sudah minta untuk melakukan yang terbaik untuk cucu mama,” Ucap Ningsih.
“Oeeeekk … oeeekkk!” Tangis kedua bayi itu pecah dan membuat Arsi tersadar bahwa sedari tadi dia belum bertemu dengan kedua anaknya. Pikirannya malah terfokus pada si bungsu yang belum terlihat olehnya.
“Bu Arsi, silahkan di susui dulu anak-anaknya. Ibu jangan jangan sedih ya, hal itu bisa mempengaruhi kualitas ASI nya. Mari bu saya bantu,” Ucap sang dokter yang masih dengan sabar mengajarkan Arsi bagaimana menyusui bayi untuk pertama kali. Bayi pertama dengan cepat bisa mencari sumber kehidupannya, Bayi laki-laki memang sangat kuat minum susunya. Setelah kenyang bayi berpipi gembul itu pun tertidur nyenyak.
__ADS_1
Kini giliran si bayi cantik yang menyusu, dengan gerakan kalem bayi cantik itu menghisap air susu sang mama. Hati Ngarsinah menghangat, wanita itu merasa sangat bahagia dan untuk sesaat dia bisa mengalihkan pikirannya kepada sang putra yang sedang bertarung untuk bisa hidup. Semua orang yang berada di ruangan itu merasa sangat bahagia melihat perubahan di wajah Ngarsinah yang mulai tersenyum.
“Selamat ya bu bos, sekarang sudah menjadi ibu. Duuh jadi pengen cepet-cepet punya anak deeh ….” Ucap Yuni yang kini sudah berada di dekat Ngarsinah. Setelah menyusui, wanita itu memberikan anaknya kepada sang mama mertua.
“Yuk sekarang yang,” Sahut Rangga dengan semangat.
Plak!
“Aawww … Sakit yang, kamu kok menganiaya aku sih” Ucap rangga kepada Yuni yang dengan geram memukul lengan pria yang kini menguasai hatinya itu.
“Halalin dulu tu anak orang, jangan yak yuk, yak yuk aja!” Ucap Rangga yang langsung di sahuti tawa oleh semua orang yang berada di ruangan itu.
‘Ya Allah … tolong selamatkan anakku, bagaimana dia sekarang ya Allah. Aku tidak ingin melihat Arsi bersedih,’ Gumam Rangga dalam hatinya, saat ini dia berusaha menghibur sang istri agar tidak selalu terpikirkan tentang putra bungsu mereka.
Ceklek!
Seorang perawat datang dan mengangguk hormat kepada semua orang yang sedang berbahagia di dalamnya. Semua pun mengangguk sopan.
“Maaf … Pak Rangga, anda diminta Dokter anak untuk ke ruang tindakan sekarang,”
❤️❤️❤️
Semoga si Bungsu selamat ya 🤲.
__ADS_1
Yuuukk like, komen, vote dan hadiahnya ya, jangan lupa subscribe. tengkyuuuuhh pemirsaaahh.
❤️❤️❤️👶👶👶🌹🌹🌹