
Sarah benar-benar ingin menghajar Jack saja rasanya, gadis itu benar-benar sedang diuji kesabarannya. Menikah dengan bos nya yang dingin dan kaku, membuat gadis itu sering kali menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
“A-abang, maaf kalau rumah Sarah kecil dan membuat abang nggak nyaman. Baiklah … abang bersihkan diri dulu, Sarah akan siapkan pakaian abang.” Ucap Sarah lembut. Gadis itu tidak ingin lagi berdebat dengan suaminya, apapun kata sang suami, dia akan turuti. Saat ini pun rumahnya sedang ramai, karena sanak saudara Sarah kumpul semua.
Mereka yang datang dadakan otomatis tidak ingin langsung pulang, hal ini sudah diketahui oleh Jack melalui Rian yang mengabarkan kalau saudara nyonya mereka pada turun gunung semua dan menginap dirumah itu. Jack yang tidak terbiasa dengan suasana seperti itu, sudah bisa dipastikan dia tidak akan betah berlama-lama disana.
Sarah kebingungan bagaimana caranya dia berpamitan dengan keluarganya, sesaat dia berinisiatif untuk memanggil Arsi dan Fatim juga Yuni untuk meminta pendapat. Gadis itu sangat membutuhkan tiga srikandi itu untuk menjelaskan, keinginan suaminya kepada kedua orang tua dan saudara-saudaranya yang segambreng itu.
Tidak butuh waktu lama, mereka bertiga sudah berada di depan kamar Sarah. mereka pun siap mendengarkan kegelisahan sang pengantin baru, tadinya Ngarsinah sudah sangat khawatir terjadi apa-apa dengan Sarah. Tapi syukurlah di lihatnya sang pengantin wanita dalam keadaan sehat walafiat.
Sarah langsung mengutarakan maksudnya mengundang ketiga Srikandi itu, mereka bertiga pun mendengarkannya dengan seksama dan dengan kepala mantuk-mantuk.
“Jadi gimana mbak?” Tanya Sarah dengan mengarahkan pandangan kepada mereka bertiga secara bergantian. Arsi tersenyum bingung, begitu juga dengan Yuni dan Fatim, mereka menggaruk bagian kepalanya masing-masing yang tidak terasa gatal.
“Sarah, sebenarnya agak sungkan ya. kalo bapak ibu mu mungkin paham, tapi bude-bude mu, mbah-mbah mu, mereka akan merasa kecewa pastinya. Tapi demi keamanan dan kenyamanan bersama mau nggak mau kita mengalah saja, daripada suamimu ngeluarin taringnya. hehehe ….” Ucap Fatim sambil pada akhir kalimatnya.
“Ya udah kita bagi tugas aja, atau kita langsung bergabung sama keluarga mu. Langsung aja deh Yun, Fat kita jelasin. Ini orang pastinya udah gak betah, hawanya mau nyeruduk aja dia.” Ucap Arsi sambil menggoda Sarah.
“Hufff beda emang ya yang nikah bos besar, semuanya bisa diwujudkan tanpa perlu proses panjang. Padahal gadis ku ini kan punggungnya masih bolong,” Ucap Yuni kesal tapi juga menggoda Sarah. Mereka berempat pun tertawa bersama, sudah tentu dengan menutup mulut agar tidak mengundang perhatian yang lain.
“Makasih mbak-mbak ku semua, jasa kalian tidak akan aku lupakan. Tolong doakan aku ya mbak-mbak ku yang hebat.” Ucap Sarah dengan senyum lebar yang memamerkan gigi putihnya.
__ADS_1
“Udah buruan masuk kamar, bayi jumbo mu ntar nyariin Sar,” Ucap Fatim. Mereka berempat pun kembali tertawa. Tidak lama semuanya kembali pada tugasnya masing-masing.
“Kamu dari mana Sarah?” Tanya Jack.
“Astagfirullah abang, bikin kaget aja. Tadi minta tolong mbak Arsi, mbak Fatim dan mbak Yuni untuk menjelaskan ke ibu bapak juga saudara yang lain, Kalau kita malam ini tidak menginap disini. Sarah tidak ingin saudara yang lainnya salah paham Bang,” Ucap Sarah panjang lebar. Jack mengangguk, pria itu mendekati Sarah yang sedang menyaipkan pakaian santai untuk suaminya.
Sarah yang belum sadar dengan penampakan Jack saat ini, masih santai saja. Dan saat tangan kekar Jack melingkar di pinggang nya sontak tubuh Sarah meremang. Ingin berontak, takut Jack marah dan tersinggung. Tapi bila di biarkan Sarah belum siap.
“A-abang, jangan begini, Sarah ….” Ucap Sarah terputus.
Cup!
Jack mencium pipi Sarah dan dengan pelan tapi pasti pria itu memutar tubuh sang istri dan kini mereka berhadapan. Sarah yang baru menyadari jack hanya menggunakan handuk dan bertelan*jang dada, sontak membulatkan matanya.
“Heemmfff … Abang ….” Ucap Sarah yang mulai tersengal. Jack mengurai sesaat pagutannya dan menghapus jejak saliva di bibir sang istri, Sarah menunduk malu dan wajahnya merona.
“Sarah, aku sudah tidak tahan untuk segera memakanmu, segeralah bersihkan diri dan bersiap. Jangan sampai kamu membuatku gila karena menahan ini semua,” Ucap Jack kaku. Maksud hati pria itu ingin sedikit bercanda dengan sang istri, tapi sorot matanya yang tajam dan wajahnya yang memerah, membuat Sarah takut.
Gadis itu menuruti permintaan suaminya dan tidak ingin membuat Jack menunggu lama, Sarah mempersingkat ritual mandinya, sesaat dia berpikir nanti di hotel dia akan mandi lagi. Dengan cepat gadis itu bersiap dan tidak butuh waktu yang lama kini sepasang pengantin baru itu sudah keluar dari kamar. Sarah mendorong travel bag yang berisikan pakaiannya beserta pakaian suami, Dengan langkah gugup Sarah berjalan beriringan dengan Jack.
Keluarga yang sudah berkumpul di ruang tengah itu pun menoleh ke arah pengantin baru itu. Rangga, David dan Bram yang melihat hal itu pun dengan sigap memberikan penjelasan kepada kelompok bapak-bapak yang tengah menikmati hidangan. Sementara kelompok ibu-ibu sudah di handle oleh 3 srikandi yang siap menangkis jika ada pertanyaan dari kaum emak-emak itu.
__ADS_1
“Ehem … Bapak, ibu. Saya minta ijin untuk membawa Sarah menginap di hotel. Saya harap bapak dan ibu tidak keberatan, begitu juga dengan keluarga yang lainnya.” Ucap Jack berusaha ramah dengan kedua orang tua Sarah dan juga keluarga lainnya.
“Iya nak Jack, nggak papa. Bagaimana baiknya saja, yang penting nak Jack nyaman.” Ucap Sumi. Wanita paruh baya itu sudah paham karena tadi sudah dijelaskan oleh Arsi, Yuni dan Fatim.
“Loh mantennya kok malah ninggalin keluarga, sini loh nak Jack kita kan belum ngobrol-ngobrol.” Ucap salah satu bude Sarah.
“Eemm … anu Bude, besok aja kita ngobrolnya. Sarah juga sudah kecapekan,” Sahut Sarah. Gadis itu tidak ingin membuat suaminya bingung sendiri dan berakhir dengan kemarahan . Gadis itu berusaha tersenyum walau tiba-tiba luka bekas tembakan peluru itu kembali nyeri. Sarah baru ingat kalau jam segini dia belum juga meminum obatnya.
beberapa saudara pun ikut menimpali perkataan yang diajukan para saudaranya, yang baru saja menunaikan permasalahannya. Beberapa kali kalimat candaan kembali membuat Jack merasa kesal.
“Looh Sarah, kamu itu kok nggak nawarin nak Jack makan dulu? Makan dulu Sarah, nak Jack. Makan lah dulu, pengantin baru itu harus banyak makan.” Ucap salah satu bude Sarah yang berbadan melar.
“Saya tidak selera makan yang ada ini Bude, saat ini saya sudah sangat ingin makan Sarah. Jadi mohon pengertian semuanya,”
Gubraaakk!
❤️ ❤️ ❤️
Wesss rusuh wesss … Jack ini rem nya kemana ya? 😅 🤦
Like, komen, vote, hadiah dan subscribe ya pemirsaaah, tengkyuuhh.
__ADS_1
❤️ ❤️ ❤️ 😅 🤦 ❤️ ❤️ ❤️