Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 27: Meeting Dadakan


__ADS_3

Ngarsinah dan teman-teman satu ruangan sudah melakukan absen untuk pulang. "Sasa, Roni, Pia aku pulang duluan ya, kalian belum kelar?" Tanya Nia yang sudah siap keluar ruangan. Arsi dan Candra ikutan berpamitan dan melakukan absen sebelum keluar ruangan.


“Dikit lagi Nia, iya nggak papa kalian duluan aja, kan masih ada babang Roni yang jagain dua perawan ini,” jawab Sasa yang selalu mengidolakan Roni walau sampai sekarang belum bersambut, karena Roni yang super cuek. 


“aku percayakan kedua perawan itu sama kamu Ron, jangan sampe mereka ikutan membeku, secara yang nungguin freezer frozen food, hahaha” Candra tidak tahan untuk komentar. Sementara Roni hanya menaikkan satu sudut bibirnya, menanggapi teman somplaknya. 


“”Bro kalo senyum itu yang seimbang, jangan miring gitu napa,” Sasa merasa gemas dengan gaya Roni yang sama sekali tidak bereaksi walau sudah di bully sama temen-temennya. 


“Heem, udah sana pergi kalian, ganggu konsentrasi orang aja,” usir Roni dengan mata yang kembali menatap layar monitornya. “Arsi kamu jangan kaget ya, kami disini walau berasal dari planet yang berbeda, tapi saling menyayangi kok,” Nia menimpali dan memahami kebingungan Ngarsinah. 


“Iya, lama-lama aku juga bisa ikut ketularan aneh kalo kayak begini, hehehe,” jawab Ngarsinah yang mulai bisa mengadaptasi dengan lingkungan barunya. Hari pertama yang luar biasa, membuat gadis itu banyak belajar.


Tiga sekawan itu baru saja keluar dari ruangan mereka, tiba-tiba Tomy muncul dan buru-buru mendekat. “Jangan pulang dulu, kamu ikut saya ke ruang meeting,” dengan cepat pria tampan pengantin baru itu menggamit tangan Ngarsinah dan menariknya untuk mengikuti langkah yang tergesa-gesa itu. 


“Looh pak, anda jangan asal menculik anak gadis orang, kok kami nggak dibawa pak?!” teriak Nia yang terlihat bingung dengan sikap Tomy, Ngarsinah yang badannya diseret dengan terpaksa mengikuti langkah tomy yang sedikit berlari. Nia dan Candra yang hanya bisa melihat adegan itu hanya bisa saling pandang dan sama-sama menaikkan bahu mereka. Kedua sahabat yang sama gokilnya itupun terus melangkah menuju lift karyawan.


Gadis itu bingung dengan sikap Tomy tapi saat ini dia tidak berani bertanya, sementara kedua temannya juga tidak bisa lancang untuk menahannya. Perasaan Ngarsinah sudah tidak nyaman, ada rasa ketakutan apakah dia telah melakukan kesalahan?. 

__ADS_1


“Pak, ada meeting apa? kenapa saya dilibatkan? kan saya hanya staf aja pak?” pertanyaan Ngarsinah bertubi-tubi kepada Tomy. “Ini perintah bos, mbak Arsi ikuti saja, tadi bos menghubungi anda berkali-kali tapi tidak diangkat.”Jawab Tomy gelisah karena lift yang mereka tunggu lama sekali terbuka. 


“Astaghfirullah, maaf pak saya tidak dengar, karena setelah istirahat makan siang tadi saya mode silent hape nya, sekali lagi maaf ya pak,” jawab Ngarsinah merasa tidak enak, baru hari pertama dia sudah melakukan kesalahan dengan tidak mengangkat panggilan dari bos nya yang sudah baik selama mereka kenal. 


Sesampai di lantai sepuluh, kembali langkah T     omy tergesa-gesa dan Arsi pun mengikutinya dari belakang. Di ruang meeting sudah berkumpul beberapa orang direksi beserta staf dan sekretaris mereka masing-masing. Ngarsinah merasa canggung dan tidak percaya diri, Rangga yang melihat kedatangan Ngarsinah langsung meminta untuk duduk di sebelahnya. 


Sepanjang jalan yang dilalui oleh gadis itu semua mata mengarah kepada dirinya. Tomy yang sudah berjalan lebih dulu memberikan petunjuk dimana kursi yang harus diduduki Arsi. 


Rangga mendekatkan wajahnya ke arah Arsi dan berbisik, “Tolong dampingi saya dan pelajari apa saja yang mereka sampaikan, besok kamu akan ikut saya meeting besar pemegang saham di kantor besar,” 


Deg!


hampir satu jam lebih meeting berlangsung dan akhirnya berhenti saat adzan magrib berkumandang, yang suaranya masih bisa di dengar walau mereka berada di dalam gedung megah berlantai sepuluh itu. 


Rapat berakhir dengan banyak hal yang sudah Ngarsinah dan Tomy serap. Bagi Tomy ini sudah hal yang biasa baginya tapi bagi Arsi ini adalah hal baru dalam hidupnya. “Meeting hari ini cukup dan besok saya akan undang kalian ke kantor besar jam sepuluh, jangan ada yang terlambat, dan persiapkan diri kalian. Terimakasih atas kerjasamanya dan selamat malam.” hari memang sudah gelap dan Ngarsinah yang baru saja hidup di kota besar merasa sedikit khawatir karena harus pulang malam.


Setelah semuannya bubar, kini tinggal Rangga, Ngarsinah dan Tomy yang berada di ruangan itu. Rangga memberikan pemahaman kenapa Ngarsinah di pilih untuk mendampinginya, sementara gadis itu orang baru, bahkan ini adalah hari pertamanya bekerja. 

__ADS_1


“Arsi aku aku ini orang bisnis yang sedikit banyaknya memiliki pandangan yang tajam dalam menilai kemampuan seseorang, dari lamanya kita sering bersama sebelum kamu bekerja disini, saya sudah menilai kamu” jawab Rangga dengan tatapan yang dalam hingga membuat Ngarsinah serba salah. 


“Pak, ini sudah masuk sholat magrib, mau sholat dulu apa mau langsung pulang?” tanya Tomy menginterupsi. ‘Ini si Tomy ganggu aja orang lagi pendekatan,’ geram Rangga dalam hati. Ngarsinah yang merasa tidak nyaman dengan situasi di ruangan dimana dia hanya perempuan sendirian, memilih untuk berpamitan. 


“Pak, saya pamit duluan, sudah malam.” pamit Ngarsinah yang siap melangkah. “Arsi kita bareng aja ke bawah, kamu pake apa?” tanya Rangga yang buru-buru mencegah Ngarsinah untuk keluar. “Saya bawa motor pak,” jawab Ngarsinah singkat, kakinya terasa sudah gatal ingin melangkah segera dari ruangan itu. Langkah kaki mereka yang santai membuat jarak antara mereka dan pintu seakan jauh. 


“Bareng aja, biar motor kamu taruh di kantor,” tawar Rangga tidak ingin kehilangan kesempatan berdua dengan orang yang sedang diincarnya. “Lah besok saya naik apa pak? nggak papa belum terlalu malam juga, biar saya naik motor aja pak,” jawab gadis itu sungkan. 


“Kamu tidak boleh menolak, ini semua demi kebaikan kamu. Tom, tolong bilang sama Security yang jaga malam, motor Arsi nginap di kantor.” kali ini Rangga betul-betul tidak ingin di bantah. Ngarsinah yang melihat bosnya bersungguh-sungguh tidak punya cara lagi untuk menghindar, akhirnya gadis itu pun setuju untuk diantar Rangga. 


Tomy sudah berada di mobilnya, dan langsung melesat meninggalkan dua insan yang sedang bersiap untuk pulang. Mobil bergerak pelan karena jalanan yang macet, Ngarsinah hanya terdiam tidak memiliki ide untuk membuka pembicaraan. 


Tatapannya lurus menikmati indahnya kerlap kerlip lampu yang membuat mata kampungnya merasakan hal yang baru dan membuatnya kagum. senyum manis tidak lepas dari bibir gadis itu. “Ternyata tinggal dan bekerja di kota itu rasanya seperti ini ya,” Gumamnya lirih, tapi masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Rangga. 


“Anak-anak kangen sama kamu, apa kamu nggak kangen mereka?”


❤️❤️❤️

__ADS_1


Nah nah nah, jerat babang duda, bikin gemess deh 🤣🤣


Hayoo mana jempolnya pemirsaah, aku merindukan kalian, dukung terus ya novelku komen yang rame, vote juga jangan lupa, hadiahnya mak author tunggu ya, tengkyuuhh pemirsa, ❤️selautan untuk kalian semua 😘


__ADS_2