
Kaisar berhasil lolos dari ruang penyekapan, pria itu berusaha sekuat tenaga berlari dan menahan rasa sakit diseluruh wajah dan tubuh bagian atasnya. Setelah merasa aman dan tidak ada yang mengejarnya, pria itu berjalan menyusuri jalan raya sampai dia melihat ada sebuah truk sayuran dan sejenak Kaisar berpikir untuk menumpang dengan cara bersembunyi di dalam bak truk. Beruntung truk itu mengurangi kecepatannya, karena jalan yang sedikit menanjak dan hal itu dimanfaatkan Kaisar untuk melompat ke dalam bak truk dengan mudah.
Tap!
Dengan satu kali lompatan cepat, Kaisar sudah berada di dalam tumpukan sayur. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan dirinya aman dan tidak ada orang lain selain dirinya di dalam bak tersebut.
“Sebaiknya aku istirahat dulu, sampai di warung peristirahatan aku akan turun dan berjalan kaki. Aww … sshhh, bengkak sekali ini,” Gumam Kaisar sambil meringis menahan sakit dari wajahnya.
Untuk sesaat Kaisar memejamkan matanya dan merebahkan tubuhnya, rasa lelah merayapi seluruh tubuhnya dan hal itu membuat rasa kantuk mulai menguasai dan tidak butuh waktu lama pria itu kini sudah terlelap.
Tanpa terasa Truck sudah berhenti di sebuah warung nasi pinggir jalan dengan sajian khas warung yang menghidangkan makanan lahir batin. Kaisar terbngun dan mengintip lewat calah celah body truck. Merasa tempat tujuannya tidak jauh dari lokasi itu, Pria dengan wajah yang mulai bengkak itu turun dengan mengendap-endap.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, Kaisar sampai di sebuah rumah sederhana yang tampak sudah tua tapi sangat bersih. sebuah perkampungan dengan rumah-rumah yang berjarak saling berjauhan. Kaisar mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati yang masih tampak kuat itu.
“Masuklah, aku sudah mengetahui kedatanganmu, nak.” Ucap seseorang yang berada di dalam rumah. Kaisar membuka pintu dan segera masuk, seorang pria dengan wajah keras dan berkulit coklat terbakar matahari sedang menghirup rokok lintingan kesukaannya.
“Pak Joyo … saya berhasil melarikan diri, dan sekarang saya mohon perlindungan dari bapak.” Ucap Kaisar dengan wajah tertunduk memohon. Pria paruh baya yang dipanggil pak Joyo menatap nanar ke arah Kaisar dan melihat luka serta wajah yang bengkak.
“Kau terluka? kau terlalu gegabah Kaisar, jangan menganggap musuhmu orang yang lemah, agar kamu tidak seperti ini lagi. Jangan seperti orang lain kepadaku, kau bukan orang asing disini. Tinggallah disini selama yang kau mau, Sumi akan menyiapkan kamarmu. Bersihkan dulu tubuhmu dan aku akan meracik obat untuk semua lukamu,” Ucap Joyo dengan senyum terkembang dan menampilkan giginya yang menguning karena terlalu banyak menghisap tembakau.
“Sumi, siapkan kamar Kaisar dan berikan makanan untuknya, aku akan pinggiran hutan untuk mencarikan bahan obat untuk lukanya. Ingat Sumi, jaga batasanmu.” Ucap Joyo.
“Iya Abah, saya paham.” Ucap Sumi, wanita muda, cantik dan bertubuh seksi itu adalah istri Joyo. Sebenarnya Sumi lebih pantas menjadi anaknya tapi semua terjadi begitu saja dan Sumi bersedia menjadi istri dari seorang Joyo.
__ADS_1
Kaisar melihat Sumi yang mulai sibuk menjalankan perintah dari Joyo, sementara matanya tidak beralih sedikitpun dari sosok cantik yang menggiurkan. Beberapa kali Kaisar menelan salivanya dan akhirnya pria itu memutuskan untuk segera mandi ke pancuran di belakang rumah.
Setelah membereskan diri, Kaisar bermaksud menghubungi Novi dengan ponsel biasa agar tidak ada yang bisa melacaknya. dan Sambungan telepon pun terhubung.
Pembicaran di telepon.
“Hallo, Siapa ini?” Tanya Novi.
“Ini aku, Kaisar. Aku berhasil lolos, tadinya aku sempat tertangkap oleh Rangga. Sekarang aku ada di pinggiran desa,” Jawab Kaisar dengan suara yang sangat pelan.
“Syukurlah kau selamat, aku sempat melihat aksi perempuan edan itu menghajarmu. Hubungi aku beberapa hari lagi, dan tetaplah bersembunyi di sana.” Sahut Novi.
“Oke, kau tidak usah berbuat apa-apa dulu. Karena mereka sempat membuatku mengaku siapa orang yang sudah menyuruhku,” Ucap Kaisar. Mata Novi membulat sempurna dan ingin sekali menumpahkan amarahnya kepada pria bodoh di seberang sana. Tapi semua itu jelas saja percumah, sekarang ini yang terpenting bagi Novi Kaisar bisa lolos.
*****
Hari berganti, dan tibalah saatnya Fatim menikah dengan David. Ngarsinah datang bersama Rangga dan si kembar, Yuni datang bersama Bram dan mereka pun saling memberikan dukungan untuk saling menguatkan.
Novi berusaha tegar dan tidak mengambil hati kehadiran Fatim dalam kehidupan rumah tangganya. Yang terpenting baginya saat ini adalah fasilitas dan uang yang masih terus mengalir untuk memenuhi keinginannya.
Fatim sudah duduk di sebelah David untuk proses ijab Qabul, Janda beranak satu yang sebentar lagi akan melepas masa jandanya itu tampak cantik dan anggun. Untuk sesaat kedua netranya berserobok dengan Novi yang hari itu tampil cantik dan elegan.
‘Bersiaplah Fatim, Jangan sampai lengah.’ Gumam Fatim dalam hatinya. Wanita itu sudah menyiapkan semua untuk membongkar kebusukan Novi di hadapan David. Pria blasteran itu tidak mudah percaya, jika ada orang yang berkata buruk tentang orang yang sedang dalam ikatan dengan dirinya.
__ADS_1
Dengan lancar David mengucapkan kalimat demi kalimat dan akhirnya kini mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Fatim meneteskan air mata bahagia, beberapa kali dia melangitkan doa agar rumah tangganya di ridhoi Allah.
Novi orang yang pertama kali menyalami Fatim dan sesaat memeluknya, senyum Novi tampak tulus. Setelah itu dia pun menyalami David dan memeluknya. Semua tamu undangan yang hadir nampak terharu dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka. Perbincangan antara tamu undangan pun terjadi.
“Salut ya jeng sama Novi, wanita berhati mulia yang mau berbagi suami. Kalo aku wooohh sudah tak pecel itu istri mudanya,” Ucap wanita dengan bulu mata jungkir baliknya.
“Iya, aku nggak habis pikir loh jeng sama pemikirn pak David. Dia kan sayang bener sama si Nopi,” Sahut wanita bergaun merah membara.
“Eeehh tapi kalo dilihat lagi sebenarnya bini mudanya pak David nggak buruk loh jeng. Dia punya usaha sendiri, warung soto yang larisnya nggak ketulungan. Wong saya aja salah satu langganan dia,” Ucap wanita dengan dandanan meriah.
“Duuhh yang langganan soto, jadi ngebelain banget … tapi aku setuju kok jeng. Jadi sebenarnya kan si Nopi nggak perlu khawatir jatah bulanannya berkurang, si Patim kan punya duit juga.” Sahut wanita berkebaya hijau dengan konde seperti ban vespa.
Seperti itulah obrolan yang terjadi di tempat para tamu undangan, Sepertinya mereka cukup mengenal Novi dan salah satunya ada yang mengenal sosok Fatim.
Acara inti sudah selesai dan kini Novi sendiri yang menghidangkan minuman untuk David dan Madunya, Fatim melihat gerak gerik Novi dan tidak menemukan kejanggalan disana.
“Fatim minumlah, ini sebagai simbol aku menerimamu di dalam kehidupanku.” Ucap Novi dengan senyum manis dan terlihat tulus.
❤️❤️❤️
Haduuuhh hati-hati Fatim, jangan di minum ... 😰.
Yuukk like yang buaanyaakk pemirsaahh, komen, vote dan hadiah ya, tengkyuuuhh pemirsaaahh.
__ADS_1
❤️❤️❤️😱😰🌹🌹🌹