
Samira membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di ruangannya, di bawah guyuran air dingin wanita itu merenungi perkataan terakhir David.
"Apa maksud kak David sebenarnya? Kenapa perasaanku jadi tidak nyaman," gumam Samira lirih. Wanita itu tidak mau menjadi duri dalam daging, Fatim adalah wanita baik. Walaupun dia belum mengenal siapa istri kakak sepupunya itu, tapi dari cerita David, Samira bisa menyimpulkannya sendiri.
Sementara Samira sedang istirahat, David sudah berada di jalan raya. Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, tujuannya ingin ke kantor tetapi tiba-tiba dia mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit.
David berharap Fatim masih mau menunggunya, walaupun dia sudah bilang kalau tidak bisa menjemputnya. Kali ini David benar-benar tidak konsisten dengan ucapannya semula, David pun sampai di rumah sakit dan memarkirkan mobilnya di area parkiran pengunjung.
Langkah pria itu nampak tergesa-gesa, setelah sampai di depan ruangan Fatim, David mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan.
Ceklek!
Pintu ruangan pun terbuka dan pandangan David pun mengedar. Pintu kamar mandi terbuka, itu tandanya sudah tidak ada orang disana. Ruangan yang kosong dan tampak rapi itu menandakan kalau penghuninya sudah tidak ada lagi.
"Apakah dia sudah pulang? Kenapa dia tidak menghubungiku? Apa dia lupa dengan kewajibannya sebagai istri?" Tanya David entah pada siapa. Pertanyaan demi pertanyaan tetap tidak ada yang menjawabnya, dengan langkah kesal pria itu meninggalkan ruangan dan berniat untuk kembali ke parkiran.
Di waktu yang hampir bersamaan, Fatim masuk ke sebuah mobil mewah yang letaknya bersebelahan dengan mobil milik David. Wanita itu tidak memperhatikan sekitarnya, karena saat ini dia sedang sibuk membujuk Yash yang rewel karena tidurnya terusik.
Balita itu tadinya di gendong sang Nany, tapi karena terbangun Yash pun menangis dan mencari Fatim. Tepat di saat Fatim sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan memangku Yash, David pun membuka pintu mobilnya dengan perasaan kesal.
__ADS_1
Jika saja David sempat menoleh ke arah kiri, mungkin pria itu masih bisa menemukan sang istri. Tapi takdir berkata lain, walau dekat jika Allah tidak mengijinkan bertemu, maka pertemuan itu tidak akan terjadi.
Brak!
Pintu mobil sudah di tutup, Raziq duduk di sebelah supir, sementara Fatim dan Nany duduk di belakang dengan posisi Yash dalam pangkuan Fatim. Bocah itu sangat pintar mengikat Fatim untuk bisa berdekatan lebih lama, entah dari mana bocah itu berpikir tentang trik seperti ini.
"Nona, maaf jadi merepotkan anda. Saya akan mengantarkan anda pulang terlebih dahulu, biar nanti Yash di pangku Nany."
Raziq merasa sedikit sungkan dengan wanita berparas ayu dan keibuan itu, jangan ditanya tentang keadaan jantung Raziq saat ini. Sudah bisa dibayangkan kalau sang jantung sedang berdendang dengan irama yang lebih cepat.
"Saya antarkan dulu saja Yash sampai ke rumah anda tuan, kasihan kalau nanti dia nangis lagi karena terganggu tidurnya. Setelah itu saya bisa pulang dengan taxi," sahut Fatim. Tangan wanita itu mengusap kepala Yash yang terlelap dalam mimpi indahnya.
Mobil pun terus melaju dengan kecepatan sedang, setelah kurang lebih 45 menit akhirnya mereka pun sampai di halaman luas rumah Raziq. Fatim yang memang masih merasa lemas, tanpa sadar tertidur dengan memeluk tubuh mungil milik Yash yang damai dalam pelukan wanita yang baru saja di klaim nya sebagai mama.
Nany dan supir sudah turun untuk mengeluarkan barang-barang bawaan mereka, yang tersimpan di bagasi sedan mewah itu. Tinggalah Raziq, fatim dan Yash yang masih tertidur pulas. Sesaat Raziq tertegun melihat pemandangan menyejukkan yang ada hadapannya saat ini, pria itu merasa enggan untuk mengusik tidur wanita berparas ayu dan putranya yang terlihat damai dalam pelukan wanita itu.
"Uuuhhh … mama," Yas mulai terbangun dari tidurnya. Bocah itu menggeliat manja sambil menduselkan wajahnya ke dada Fatim, karena pergerakan itu Fatim pun terbangun. Raziq tidak ingin ketahuan karena sudah menikmati pemandangan mania itu, dengan segera dia pura-pura membnagunkan Fatim.
"Nona, kita sudah sampai. Ayo bangun," ucap Raziq dengan senyum yang menawa.
__ADS_1
"Ya Allah, maafkan saya tuan … saya ketiduran. Sayang, ayo bangun … kita sudah sampai."
Fatim memberikan senyum terbaiknya kepada Raziq, untuk megurangi kecanggungannya wanita itu membangunkan Yash yang masih mengumpulkan kesadarannya.
"Mama …." Gumam Yash pelan.
"Iya sayang, ayo mama antar kedalam. Heem Yash sayang, mama mau sekalian berpamitan untuk pulang ya. Kasihan kakak Jay dirumah nungguin," ucap Fatim pelan. Mereka bertiga masih setia di dalam mobil, Fatim tidak ingin memberikan harapan palsu pada bocah tampan yang baru saja dia kenal tapi hati mereka berdua seakan sudah menyatu dan tidak merasa asing.
"Nona, masuklah dulu. Mari kita bahas di dalam," ajak Raziq lembut. Pria itu sangat paham dengan kesulitan putranya untuk melepas Fatim, tapi dia pun tidak ingin hal ini menjadi beban bagi wanita itu.
Apalagi Raziq masih belum mengenal Fatim, siapa tahu wanita itu sudah bersuami. Hal itu akan menciptakan masalah besar antara Fatim dan suaminya, seperti itulah pikiran Raziq saat ini. Jauh dilubuk hatinya, dia berharap Fatim wanita single.
"No mama, papa … ajak aja kakak Jay ketini ya. Bial mama ama kak Jay tinggal sama kita,"
Glek!
❤️❤️❤️
Haayoooo, Dapiiitt bakal nyeseell ntar looohh. Belum jande udah ada yang ngegaett niihh 🤭😅
__ADS_1
Haayuuukk like, komen, vote dan subscribe ya pemirsaaahh. Tengkyuuuhhh ❤️🌹