Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 59: Nyumbang Telor


__ADS_3

"Tadi belanja di toko grosir yang sebelah mana mas?" Tanya Ngarsinah sambil menghidangkan cemilan untuk kedua pria yang tampak kelelahan itu. Rangga menatap ke arah Tomy, yang ditatap malah membuang muka, seakan tidak peduli dengan nasib bosnya yang meminta bantuan.


"Hmm iya di pasar, aku lupa nama toko nya kan cepet-cepet tadi sayang," jawab Rangga dengan senyum yang berusaha dibuat natural. 


"Bentar aku ambil dompet dulu mas buat gantiin uang kamu, sambil di makan mas cemilannya, ini aku bikin cepet-cepet aja tadi. Ayo mas Tomy dicicipi, ntar kasih nilai ya," ucap Ngarsinah yang langsung berdiri untuk menuju ke kamarnya tidak lupa senyum ramah yang dia berikan untuk kedua pria itu. Sebelumnya wanita cantik itu juga menyuruh tamunya untuk mencicipi hasil olahannya. 


"Iya Arsi, tenang aja ntar juga habis, ayo bos buruan di sikat!" Seru Tomy bersemangat, kedua mata pria itu sudah berseri-seri melihat cemilan yang beraroma manis itu. Rangga tetap mencomot cemilan lezat walau hatinya cemas, entah kenapa pria itu merasa takut mengecewakan wanita yang dia cintai. 


Arsi pergi meninggalkan mereka, nota belanja yang tadi dia pegang masih belum sempat dibacanya. Sesampai di kamar, dia mengambil dompet dan kembali melihat nota yang diberikan Rangga. 


Dahinya mengernyit bingung, berkali-kali dia mengulang untuk memastikan angka yang tertera. Merasa harga yang tertera tidak sesuai dengan yang dia ketahui, Ngarsinah keluar kamar untuk mencari Yuni di dapur yang sedang sibuk membersihkan telur.


"Yun, tadi seinget kamu harga telur berapa ya sekilonya?" Tanya Arsi dengan wajah masih mengingat-ingat, Yuni menghentikan sejenak aktivitasnya membersihkan telur. 


"Dua puluh tujuh ribu rupiah Si, kenapa? Eh iya tumben loh ini telor bersih semua, coba kamu liat sini," jawab Yuni dan menunjukkan kondisi telur yang membuatnya terheran-heran. Yuni berkata dengan pasti dan di balas anggukan oleh Arsi, Yuni mengangkat beberapa telur yang masih berada di raknya. Tidak pernah dia beli telur di grosir dalam keadaan sebersih ini. 


"Iya kah? Hmm bisa belanja di situ lagi kita, jd gak repot bersihinnya. Eeh tunggu … ini harganya tiga puluh dua ribu sekilo, haaahh nggak salah nih mas Rangga!" Pekik Arsi setelah menyadari apa yang terjadi pada telurnya. Yuni ikut membulatkan kedua bola matanya, gadis itu juga ikut terkejut mendapati harga yang mahal.


Hilang sudah rasa kagumnya terhadap kondisi telur yang bersih. Bergegas wanita cantik itu meninggalkan Yuni yang hanya bisa menggelengkan kepala. Karena telurnya tidak terlalu sulit untuk membersihkan, Yuni bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya dan mulai merebus telur-telur itu dalam sebuah panci besar.

__ADS_1


"Mas, jujur deh sama aku, dimana mas beli telurnya?" Tanya Ngarsinah dengan wajah kesal tidak bersahabat. 


"Uhuk … uhuk!" Rangga tersedak cemilan yang baru saja akan di melewati tenggorokannya. 


"Sabar bos, tenang, semua akan baik-baik aja. Kita akan lalui semuanya bersama bos," Tomy seakan paham apa yang sedang dialami oleh bos sekaligus sahabatnya itu. Rangga menatapnya dengan pandangan tak terbaca, habislah dia saat ini, itu yang ada dalam pikiran pria tampan berstatus duda itu. 


Rangga meminum air mineral yang ada di meja, setelah basah tenggorokannya barulah pria itu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya demi bisa menenangkan hati. Tomy ikut meminum air mineral mengikuti apa yang dilakukan oleh bosnya. 


"Jadi gini sayang, aku belanja tadi di supermarket, dan itu sudah dapet diskon loh, kan aku tau banget pasti kamu pengusaha kue yang paling suka diskon," jawab Rangga dengan senyum lebar yang menambah nilai ketampanannya.


Saras menatap geram ke arah pria berbadan atletis itu, dan menarik oksigen sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya dengan kasar. untuk sesaat wanita itu menata kalimat dalam pikirannya sebelum dia keluarkan untuk Rangga.


"Yaahh, nggak papa sayang, nggak kamu ganti juga nggak papa kok. Ini kan orderan pertama kamu, jadi aku ikut partisipasi mendukung lewat telor," jawab Rangga senang, pria itu mendapatkan celah untuk selamat dari omelan sang wanita tercintanya. 


"Hmmm yakin mas nggak mau di ganti?" Tanya Ngarsinah meyakinkan dirinya. Walau bagaimanapun Ngarsinah orang yang mengerti dengan perhitungan bisnis, dan kedua wanita yang sedang merintis usaha itu tidak ingin di kasihani dalam menjalankan bisnis mereka. 


"Ya itung-itung aku nyumbang telor lah untuk usaha perdana kamu," jawab Rangga dengan rasa bangga. Arsi yang mendengar kata sumbangan sontak membulatkan matanya


"Maas! Aku nggak nerima sumbangan, batal deh kalo gitu aku nerima telornya," rajuk Arsi dengan wajah yang kembali cemberut. Rangga mengusap wajahnya kasar, mimpi apa dia semalam kenapa hari ini kesalahannya bertubi-tubi dan dia tidak kuasa melawan sang calon istri. Sementara Ngarsinah sebenarnya sedang bersorak soray di hatinya kerena bisa ngerjain Rangga dan membuatnya kelimpungan. 

__ADS_1


“Maaf sayang, bukan begitu maksudnya, yaah jangan marah dong. Ntar cantiknya pindah ke telor loh,” canda Rangga yang di sahuti tawa tertahan sang sahabat. Tomy melihat bagaimana rangga sang pengusaha yang disegani lawan bisnisnya bisa kicep saat dimarahi oleh seorang wanita desa sederhana. 


‘Bener-bener cinta bikin pria kehilangan wibawanya, si bos yang punya bisnis dimana-mana sekarang harus ribet hidupnya hanya masalah telor.’


Tomy bergumam dalam hatinya, kali ini dia sedang menikmati drama secara live tanpa jeda iklan. Tampak Rangga masih terus berusaha membuat hati wanitanya berdamai dan mau menerima telor yang dia hadiahkan untuk mendukung usaha sang calon istri.  


Setelah memastikan Ngarsinah bisa kembali tersenyum akhirnya Rangga dan Tomy pamit pulang. Ngarsinah melanjutkan kegiatannya di dapur, kedua wanita beda status itu berjibaku menyiapkan bahan untuk besok mereka olah menjadi hidangan yang lezat.


Di jalan Tomy dan Rangga asik berbincang membicarakan tentang nasib rangga di tangan seorang janda cantik, yang sudah dia ikat untuk menjadi istrinya setelah masa iddah selesai. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, jalanan cenderung sepi dan membuat mereka melajukan kendaraannya dengan lancar. 


“Bos terkadang kita terpeleset itu bukan karena batu yang besar, tapi justru karena batu yang kecil, itulah nasib bos saat ini. Asli gue salut sama lo bos, seorang pengusaha yang disegani, bertekuk lutut di kaki seorang janda, hahahaha!” tawa Tomy pecah sejadi-jadinya, pria beristri itu belum pernah melihat sekalipun Rangga dalam kondisi seperti ini. 


“Mas, kata bu Puji aku harus taruh jaminan dulu kalau mau jadi vendor di perusahaan kamu,”


❤️❤️❤️


Akhirnya Rangga klepek-klepek juga sama Arsi 🤣🤣🤣


Yuukk like nya yang buaanyak ya pemirsa, vote, hadiah dan komen yaa, tengkyuuuh pemirsa ❤️❤️❤️🌹😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2