Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 50: Perisai Rangga


__ADS_3

Dokter Dewa masih terus memeriksa dengan teliti, darah yang dimuntahkan Rangga, di ambil sedikit untuk diperiksa. Ngarsinah dan Bram masih setia menunggu, wanita cantik itu tidak melepaskan sedikitpun membaca ayat-ayat suci Al quran yang dia hafal. 


Tidak berapa lama Dokter dan timnya meninggalkan Rangga untuk menganalisa hasil observasi, Rangga tidak bisa menolak untuk dirawat di rumah sakit. Bram keluar untuk mengurus ruang rawat yang akan ditempati oleh sahabatnya itu. 


Ngarsinah menghubungi Ningsih dan berusaha menceritakan keadaan Rangga dengan hati-hati agar wanita paruh baya itu tidak khawatir. 


Rangga sudah di pindah ke kamar rawat VIP, Ngarsinah mengantarkan Rangga ke kamar, sementara Bram membeli makan karena mereka belum sempat makan sedari tadi. Beberapa menit kemudian, mereka berdua menikmati makan malam, sementara Rangga tertidur pulas. 


“Arsi, bisakah kamu jaga Rangga? aku akan ke rumahnya untuk mengambil pakaian dan kebutuhannya, juga mampir ke rumahmu untuk membawa ibu dan anak-anak pulang.” pinta Bram setelah menyelesaikan makan malamnya, Arsi sibuk membersihkan bekas makan mereka. 


“Iya mas, nggak papa, kalau anak-anak mau tidur dirumah saya, biarkan saja. Kalau mereka ingin kesini sebaiknya jangan mas, dan minta tolong juga bawakan pakaian ganti saya bisa kah mas? saya ingin menjaga mas Rangga disini.” jawab Ngarsinah dan tidak lupa meminta tolong kepada Bram. 


Bram tersenyum, pria itu melihat ketulusan di mata wanita itu. “Oke, biar nggak terlalu malam, aku berangkat sekarang ya, kamu kalau ngantuk istirahat saja. Aku akan menghubungi pak Boby dan teman-teman, Oya Arsi, tolong nanti kalau Dokter Dewa datang jangan lupa menanyakan detail tentang penyakit Rangga ya.” Jawab Bram dengan kalimat panjang nya. Ngarsinah tersenyum manis dengan perhatian kecil dari Bram membuat hatinya senang, Wanita cantik itu juga sedang sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan terhadap Rangga.


Tanpa membuang waktu lagi kini Bram meninggalkan Ngarsinah berdua dengan Rangga. Gadis itu memilih duduk di tepi ranjang yang sedang digunakan oleh Rangga. 


Sesaat wanita cantik itu menatap lekat wajah pria tampan dengan status duda keren itu, tidak bisa dipungkiri oleh Ngarsinah, kebersamaan mereka selama beberapa bulan terakhir ini mampu menghangatkan hatinya yang sedang terluka. 


“Apa yang terjadi padamu mas, beberapa waktu terakhir ini kamu bersikap aneh, dan puncaknya malam ini. Kamu orang baik, apakah kamu punya musuh di luar sana?” gumam ngarsinah lirih, Rangga kembali mendengar isi hati dan perhatian dari wanita cantik itu, Sekali lagi pria itu merasakan kebahagiaan dalam hatinya.  

__ADS_1


“UUuhhh …” Rangga mengeluh dan mengerjapkan matanya, pria itu bersikap tidak mendengar ucapan Ngarsinah barusan. Ngarsinah yang melihat rangga terbangun dengan cepat berdiri, dan mengambilkan air minum untuk pria itu.


“Mas haus?” Tanya Arsi perhatian.


“Iya, aku haus dan lapar,” jawab Rangga jujur, bibirnya terlihat pucat, duda tampan yang kini tampak menyedihkan itu berusaha tersenyum, walau dipaksakan. 


“Sini saya suapin,” jawab Ngarsinah antusias, wanita itu senang mendengar Rangga minta makan, karena selama ini dia merawat orang sakit hal yang paling sulit dihadapi adalah malas makan atau tidak nafsu makan.  


Rangga makan dengan semangat, pria itu merasa senang di suapi dan di perhatikan oleh orang yang dia sayangi. Ngarsinah melakukan semuanya dengan tulus ikhlas, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Tidak lama berlangsung makan malam Rangga sudah selesai, pria itu merasa sedikit lebih baik. 


Ceklek!


“Gimana sekarang rasanya pak Rangga?” Tanya dokter Dewa ramah, dokter senior itu selalu tenang dalam setiap sikapnya. Ngarsinah tidak berani menyela, dia mengambil sikap menyimak apa yang kedua pria beda generasi itu bicarakan. 


“Alhamdulillah enakan dokter, tapi saya sedikit bingung, apa yang terjadi pada saya, apa yang terjadi pada saya dokter?” jawab Rangga dengan senyum tipisnya, duda keren itu pun melayangkan tanya yang mengganggu pikirannya. 


Dokter Dewa menarik nafas banyak-banyak, lalu menghembuskannya beraturan, pandangannya mengarah ke arah Ngarsinah sesaat lalu kembali menatap Rangga, sebagai orang medis, dia seharusnya memberikan penjelasan secara ilmiah. Tapi saat ini dokter dengan banyak pengalaman itu harus mengatakan hal yang seharusnya dia katakan, agar pasiennya bisa mengambil tindakan untuk apa yang sedang terjadi pada dirinya.


“Secara medis penyakit anda tidak terdeteksi pak Rangga, bisa jadi ini sakit non medis.” Jawab dokter Dewa dengan nada yang berat dan tatapan mata yang penuh kegelisahan. Ngarsinah yang mendengarkan hal itu sontak kaget, hatinya sedih mendengar apa yang dialami bosnya itu. Prediksinya ternyata juga dibuktikan, bahwa tidak ada penyakit medis yang disandang Rangga, tapi kenyataan pahit harus ditelan nya karena Rangga sedang dalam kesulitan yang tak kasat mata. 

__ADS_1


***** 


Di tempat lain, Monic merasa kesal dengan putrinya yang tidak menjalankan rencana sesuai dengan apa yang dia perintahkan. Betty sendiri hanya bisa menekuk wajah karena ibunya tidak mau memahami kondisinya sehingga gadis itu tidak bisa menjalankan perintah sang ibu. 


“Betty! mama kan sudah bilang, jangan biarkan Rangga terpisah darimu, mama minta kamu membawanya makan malam kerumah kita agar apa yang sudah mama lakukan untuk mempengaruhi jiwa nya bisa terlaksana dengan sempurna, sekarang coba liat, kamu sungguh nggak berguna Betty!” teriak Monic kesal, Betty pulang dengan tangan hampa, bahkan belum sempat wanita itu beraksi sesuai perintah ibunya, Rangga sudah kembali berdekatan dengan Ngarsinah.


“Mama kenapa sih nggak mau dengerin Betty dulu, tadi itu kondisinya nggak seperti yang mama pikirkan, Rangga dalam kuasa ibu dan anaknya ma! kalau aku mendesak dia untuk memenuhi keinginanku, bisa-bisa apa yang kita rencanakan bubar!” jawab Betty dengan suara melengking tak kalah tinggi dengan sang mama. 


“Kamu kan denger sendiri kemaren apa yang dibilang mbah Mujo, perempuan kampung itu bisa menjadi perisai bagi Rangga. Makanya jangan sampai Rangga berdekatan dengan dia, maka apa yang kita sudah upayakan selama ini akan sia-sia.”  Ucap Monic mengingatkan putrinya yang sudah membuat nya marah luar biasa. 


“Terus kita harus gimana sekarang ma?” tanya Betty lirih, raut frustasi terukir di wajah wanita cantik itu. Monic mondar mandir berjalan di hadapan Betty yang terduduk lemas, wanita paruh baya itu tampak berpikir keras, bagaimana lagi cara untuk menguasai Rangga. 


Pikiran wanita itu sudah dikuasai oleh nafsu materi duniawi yang menjanjikan kehidupan mewah tanpa ada kesulitan sedikitpun. Rangga semakin berjaya dalam bisnisnya, dan satu hal yang disadari oleh Monic adalah perusahaan milik suaminya yang kian hari menunjukkan penurunan. Betty tidak bisa diharapkan untuk memimpin perusahaan, kehidupan serba manja membuat wanita cantik itu tidak bisa menjadi pengganti sang papa. 


“Menikahlah denganku, dan jadilah masa depan untuk ku,”


❤️❤️❤️


Waah gawaatt ini duo racun, semoga mereka bisa insyaf ya pemirsa...

__ADS_1


Yuukkk jempolnya di tempelin yg banyak, komen nya di ramein, vote+vote+vote. tengkyuuuhh pemirsa ❤️❤️😘🌹🌹


__ADS_2