Janda Mandul

Janda Mandul
126: Santi


__ADS_3

Arsi mengamati foto kedua orang calon suster anak-anaknya dan segera menjawab pesan yang diberikan oleh agen penyedia jasa tersebut. Sebenarnya Ngarsinah bisa saja meminta mereka yang datang, tapi kali pertama ini Ngarsinah ingin langsung datang ke kantor agensi suster tersebut agar tau akan kemana jika terjadi apa-apa dengan orang-orang yang dipekerjakan oleh mereka. 


“Mas, hari ini bisa gak temani aku ke agensi suster itu?” Tanya Ngarsinah penuh harap. 


“Iya sayang, ayo sekarang saja kita kesana.” Jawab Rangga dan dengan cepat pria itu berganti pakaian santai, Setelah itu dia pun menghubungi Tomi, si asisten pribadi untuk mengosongkan jadwalnya.


Tidak membutuhkan waktu lama kini sepasang suami istri itu sudah berada di kantor agensi yang terlihat bonafid. Tidak ada keraguan di hati Ngarsinah dengan tempat yang saat ini datangi, tidak butuh waktu lama sepasang suami istri itu sudah berhadapan dengan bagian pelayanan. 


Pembicaraan standard pun terjadi, Ngarsinah dan Rangga ingin mengetahui apa saja kesepakatan kerjasama yang dituangkan dalam perjanjian, setelah membaca semua, Rangga dan Arsi pun menyetujui. Sekarang mereka sedang berhadapan dengan Santi dan Erna. 


Arsi yang melihat langsung ternyata salah menduga, Santi bukanlah orang yang dia kenal, walau ada kemiripan dengan Novi, tapi warna kulit Santi lebih coklat dan ada tahi lalat di pipinya serta berkerudung.Setelah berkenalan Santi dan Erna langsung di boyong oleh Arsi menuju ke rumahnya. 


Santi merasa bahagia tapi sepertinya dia orang yang tertutup, sepanjang jalan Santi dan Erna tidak terlalu terlibat pembicaraan. Arsi sering bertanya tenang latar belakang mereka berdua dan hal itu dia lakukan untuk lebih bisa mengakrabkan diri dengan orang yang akan mengasuh anak-anaknya. 


Sesampai di Rumah Santi mengedarkan pandangannya, dan langkah kakinya mengikuti Arah Ngarsinah. Setelah diberitahukan kamar mereka masing-masing yang berada di belakang rumah utama dan mengenalkannya pada para asisten rumah tangga yang lain. Sri sekarang yang akan bertanggung jawab dengan Alino dan Santi akan bertanggung jawab dengan Alina. Erna akan bertanggung jawab pada Arya dan Arista. Setelah pembagian tugas Arsi pun terus memantau bagaimana para suster baru anak-anaknya bekerja. 


Mereka semua tidak ada yang membawa ponsel saat di rumah, hanya ada Handy Talkie untuk berkomunikasi. hanya saat keluar rumah bersama bos nya saja para suster akan dibekali ponsel yang disediakan oleh Arsi.  


Santi nampak gelisah ketika ponselnya kini di sita oleh kepala asisten rumah tangga, beberapa kali dia bertanya bagaimana dia kana menghubungi keluarganya kalau ponselnya di ambil. Arsi menjelaskan mereka semua akan menggunakan ponsel kepala ART, jika ingin menghubungi keluarganya. 


hari pertama bekerja, semua berjalan lancar, karena yang di asuh bayi, tidak ada kesulitan untuk beradaptasi dengan para pengasuhnya. Si kembar senior saja yang sering protes dengan suster Erna yang sering sekali lambat kalau berjalan. 


“Santi, Erna kalian bisa istirahat saat jam 6. Kalau ada acara keluar di jam kerja saya akan berikan bonus tambahan untuk kalian,” Ucap Ngarsinah dan saat ini sudah pukul 5 sore. 


“Iya bu, terimakasih banyak.” Sahut mereka berdua bersamaan. Sebentar lagi waktu istirahat dan hari ini Santi bermaksud untuk menghubungi keluarganya. 


“Bibi, saya mau pinjam ponselnya bisa?” Tanya Santi sopan. Wanita yang biasa di panggil bibi oleh semua penghuni rumah besar Rangga itu tersenyum ramah. 

__ADS_1


“Pakailah, dan jangan dihapus history nya ya.” Sahut bibi dengan senyuman. Santi pun mengangguk dan memilih taman belakang untuk tempat dirinya bicara dengan keluarga. Sesaat Santi memutar otaknya bagaimana dia harus bicara, peraturan super ketat di rumah Arsi di luar dari prediksinya dan hal ini membuat dia harus berhati-hati. Santi menekan sejumlah angka dan nada panggil pun terdengar. 


Tuuut … Tuuut. 


“Halo ….” Sahut suara pria di ujung sana. 


“Hallo pakde Regang, ini aku Santi. Ini nomor kepala ART pakde,” Sahut Santi dengan hati-hati. 


Pria di ujung sana terdiam sebentar, tampak kerutan di keningnya. tapi tidak lama kemudian pria itu pun tersenyum. 


“Ahh … iya ndok, gimana kabarmu disana? berapa lama kamu bekerja disana?” Tanya pria yang dipanggil Regang oleh Santi. 


“Aku sehat pakde, rumahnya sangat besar, pagar tembok keliling dan aku suka disini. Oya aku tiga bulan di sini pakde,” Jawab Santi. 


“Berarti ada satpamnya ya ndok?” Tanya Regang lagi. 


Tidak berapa lama mereka bicara, santi pun segera masuk ke dalam dan memberikan ponsel kepada bibi. Wanita itu mengucapkan terimakasih dan kini masuk kedalam kamarnya. 


Senyum yang lebih menyerupai seringai itu membuat wajahnya terlihat mengerikan, wanita berjilbab itu kini sudah berada di dalam kamarnya dan bersiap untuk membersihkan diri. 


Di sudut lain kota besar ini, seorang pria tampak sedang berhadapan dengan wanita cantik berhati iblis. Betty menghisap rokoknya dalam dan membuang asapnya ke wajah Gareng. 


“Katakan bagaimana kerjamu,” Ucapnya dingin. 


“Santi sudah masuk ke rumah Rangga Nona, dan dia tidak leluasa untuk menghubungi kita karena peraturan di sana sangat ketat.” Sahut Gareng. Pria itu melihat traut kekesalan di wajah wanita yang selama ini dia kagumi karena kekejamannya. 


“Apa saja yang dia laporkan?” Tanya Betty lagi. 

__ADS_1


“Rumah itu dikelilingi pagar tembok yang tinggi, penjagaan 24 jam dan Santi tidak bisa menggunakan ponselnya. Misi yang dia targetkan selama 3 bulan.” Jawab Gareng dengan jelas. Pria itu terus menatap ke arah Betty dan sesekali menelan saliva nya dengan susah payah, karena penampilan Betty yang sangat menggoda di pandangan Gareng. 


Betty yang merasakan tatapan Gareng berbeda, dia pun merubah posisi duduknya dan mematikan rokok yang masih setengah. Wanita itu tampak berpikir dan sesaat senyumnya terbit. 


“Katakan pada Santi jika dia bisa menyelesaikan misinya dalam 2 bulan, aku akan berikan satu unit rumah untuknya. Dan untuk mu, ada apa dengan tatapan matamu Gareng?” Tanya Betty yang sangat paham dengan arti tatapan pria berwajah tegas namun cukup mempesona itu. 


Gareng yang mendapatkan pertanyaan itu langsung menunduk dan merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia kebablasan saat menikmati wajah cantik sang bos yang selama ini memberikan bayaran mahal untuknya. 


“Maaf Nona, saya tidak ada maksud apa-apa. Maafkan saya,” ucap Gareng gugup. Dia tidak ingin wanita cantik ini salah paham dan mengulitinya tanpa ampun, Betty sangat mudah melakukan hal itu untuk orang yang tidak dia sukai. 


“Apa kau paham dengan perkataanku?” Tanya Betty lagi. 


“Baik Nona nanti akan saya sampaikan kepada Santi dan akan membantunya menyelesaikan misi ini seperti yang Nona inginkan. Saya juga akan mengingatkan Santi untuk berhati-hati dengan penyamarannya, Rangga bukan orang yang bodoh hanya sekarang sepertinya fokus pria itu sedang penuh kepada kebahagiaan rumah tangganya.” Jelas Gareng panjang lebar dan Betty pun mengangguk. 


“Aku ingin dia menyerahkan perusahaannya kepadaku, dan membuat dia mengemis di kakiku karena jatuh melarat. Hahahahaha!” Tawa Betty menggema dan membuat Gareng merinding mendengarnya.


❤️❤️❤️


Siapakah Santi??? 🤔🤔


Yuuukkk jempolnya pemirsaahhh , komen yang rame, vote, subscribe dan hadiah yaa... maaf author minta nya banyak ya. 🤭


Jangan lupa main ke novel author yang baru ya.


PASHMINA UNTUK KUPU-KUPU.


Seorang wanita yang bersuamikan ustad kondang, tetapi memiliki hubungan terlarang dengan bos tempat di bekerja. Mampukah sang ustad membawa istrinya ke jalan yang benar???

__ADS_1


❤️❤️❤️🤔🤔🤔🌹🌹🌹


__ADS_2