
“Iya nggak papa, saat ini kita nggak punya pilihan, daripada dia nangis lagi, kasian. Tapi apakah dia tidak mengganggu aktifitasmu Saras?” tanya Rangga.
Ngarsinah tidak pernah merasa direpotkan ketika dia membantu sesama. "Nggak kok mas, apa Arista terpisah tidurnya dengan Arya?" Tanya gadis itu, hal ini dia lakukan agar gadis kecil itu tidak menangis saat melihat sang kakak tidak ada bersamanya.
"Selama ini mereka biasa bersama, kita coba saja memisahkan mereka, menurutmu gimana?" Rangga membuat pilihan yang langsung tidak di setujui oleh Ngarsinah.
"Jangan mas, kasihan nanti dia nangis lagi. Biar aja mereka tidur dirumah saya," jawaban Arsi membuat Rangga iri terhadap anak-anaknya, mereka bisa sebebas itu memeluk dan tidur dirumah gadis
“Apa aku juga boleh ikut menginap di rumahmu?” tanya Rangga dengan senyum penuh arti, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari gadis itu. “Nggak bisa!” singkat padat dan jelas sekali penolakannya dan hanya di sahuti tertawa terbahak dari Rangga, modusnya terang-terangan ya pak duda satu ini hehehe.
Arista dan Arya akhirnya menginap di rumah baru Ngarsinah dan Rangga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ini semua dia lakukan demi anak-anaknya.
"Besok pagi aku jemput ya, hmm sekalian deh aku juga ikut sarapan disini," Rangga selalu saja mengikat untuk bisa selalu bersama dengan Nngarsinah.
"Iya silahkan mas, tapi maaf mungkin masakan saya tidak seenak dirumah mas," jawab Ngarsinah malu-malu.
"Nggak masalah, aku yakin masakanmu lezat, oya Arsi, sampai kapan kamu akan selalu berbicara formal kepadaku?" Ngarsinah hanya tersenyum, disatu sisi dia ingin sekali bisa mengikuti permintaan Rangga, tapi disisi lain dia takut perasaannya berkembang jauh.
"Kan sudah mas, di luar jam kantor saya memanggil mas, dan di kantor dengan panggilan bapak." Jawabnya tak ingin memperpanjang masalah.
"Baiklah, aku pamit dulu, titip anak-anak ya, dan kamu segera istirahat." Rangga segera masuk kedalam mobil nya dan melambaikan tangan sebelum kendaraan itu benar-benar hilang dari pandangan Arsi.
*****
Kedekatan Ngarsinah dan anak-anak semakin tidak bisa dipisahkan. Sekarang Arya pun mulai memiliki rasa ketergantungan dengan sang tante. Seperti hari ini, sepulang sekolah mereka berdua minta diantar ke kantor karena merasa kangen dengan sang tante dan ingin mengerjakan PR nya bersama.
Mereka meminta mang ijul untuk menemui Ngarsinah di kantor, sesampai di kantor resepsionis sudah mengenal si kembar dan menanyakan dimana ruangan Ngarsinah.
Dengan cepat mereka berdua memasuki kotak besi itu, mang Ijul menunggu di lobi, karena tidak diijinkan oleh kedua bocah itu untuk mengikuti mereka.
Dengan pelan mereka membaca satu persatu ruangan untuk mencari dimana Ngarsinah berada. Karyawan di lantai delapan kebingungan melihat ada bocah nyasar di kantor mereka, tapi melihat penampilan kedua anak itu mereka sudah menebak pasti anak salah satu dari petinggi di perusahaan ini, tapi kenapa nyasar ke lantai delapan, kenapa nggak ke lantai sepuluh. Itulah bisik-bisik yang berdengung.
__ADS_1
"Kakak itu bacaannya Ruanggan ke … uuuaangaan" bener kan kak?" Arista berusaha mengeja tulisan yang ada di atas pintu, dan meminta pendapat sang kakak.
"Iya bener dek, tante pasti ada didalam." Langkah kecil mereka pelan-pelan melangkah mendekati pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" Suara dari dalam ruangan membuat kedua bocah kecil itu saling memandang dan dengan perlahan membuka pintu. Sontak Candra dan Nia bingung kenapa ada anak kecil dengan seragam TK ada di kantor mereka, apakah kedua anak itu mencari orang tuanya disini? Tapi kan di ruangan ini semuanya belum ada yang menikah. Mereka masih belum tau jika Ngarsinah sudah menikah dan akan menjadi janda, jadinya mereka selalu merasa senasib sepenanggungan.
"Cari siapa dek?" Tanya Nia ramah dan mendatangi kedua bocah kecil itu yang saling bergandengan tangan dan nampak ketakutan. Mata mereka menyapu ruangan mencari sosok wanita yang sedari tadi menjadi tujuan mereka.
"Tante, kami mau ketemu mama Arsi," jawab Arista dengan tangan yang semakin erat memegang tangan sang kakak.
Nia dan semua yang ada di ruangan itu terkejut, mereka tidak menyangka kalau Ngarsinah sudah punya dua orang anak, Candra dan Roni saling bersilang pandang, sementara yang cewek-cewek shock berlebihan.
"Sebentar ya sayang, duduk di sofa itu dulu ya, tante panggilin mama Arsi nya." Nia berkata lembut dan ikutan memanggil sahabat barunya itu dengan sebutan ‘mama Arsi’. Gadis itu yang sedari tadi tidak sabar ingin memberondong Ngarsinah dengan pertanyaan mengenai kedua anak itu, langsung membalik badan untuk keluar ruangan dan menuju toilet.
"Arsi, kamu dicariin sama anak mu, kok kamu nggak bilang sih kalo dah punya anak?" Rasa kepo yang sudah meronta untuk menuntut jawaban itu tak mampu lagi ditahan oleh Nia. Ngarsinah menautkan kedua alis mata nya yang tebal, wajahnya bingung mendapat pertanyaan dari temannya.
"Anak? Anak siapa?" Tanya Ngarsinah heran, dan masih dihalangi Nia di depan pintu.
"Ada dua anak yang lagi nungguin kamu, cowok ganteng dan yang cewek cantik imut, itu anak kamu?" Nia masih menuntut jawaban. Ngarsinah menepuk jidat nya dan langsung menggeser Nia yang sedari tadi menghalangi jalannya. “Nia, besok kalo ada waktu aku jelasin ya ke ke kamu tentang mereka, jika perlu aku akan jelaskan kepada kalian yng ada diruangan ini, please jangan salah paham ya bestie,” dengan langkah tergesa Ngarsinah meninggalkan Nia yang setia mengekor dibelakangnya.
"Mama!"
"Tante!"
Kedua bocah itu langsung berhamburan untuk memeluk orang yang membuat mereka rindu. Sementara anggota Pawang Uang melihat adegan itu dengan mata membulat dan mulut terbuka.
__ADS_1
"Kakak, dedek, kalian ngapain kesini?" Tanya Ngarsinah, baru beberapa hari tak bertemu setelah mereka menginap di rumah Ngarsinah, kedua bocah itu belum bertemu lagi, sehingga mereka rindu dan memberanikan diri untuk mendatangi Arsi.
"Kami kangen mama, trus ini ada PR ma, dikumpulnya besok pagi, bantuin ya ma?" Pinta Arista dengan wajah memohon, sementara Arya manthuk-manthuk menyetujui apa yang dikatakan oleh adiknya.
Ngarsinah menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, dengan wajah bingung. Sebenarnya pekerjaannya sangat banyak tapi kedatangan dua malaikat kecilnya itu membuatnya bingung harus bagaimana.
Para anggota pawang uang sudah kembali bekerja, Candra mendekati kedua bocah kembar sepasang itu. "Kalian kok lucu-lucu gini sih sayang," Candra menoel-noel pipi Arista dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.
"Om jangan pegang-pegang adikku!" Kalimat datar Arya membuat Candra kicep. Arsi hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Ok kalian boleh ngerjain PR nya, nanti mama bantu yang nggak ngerti, sekarang mama harus bekerja dulu, gimana?" Jawaban Ngarsinah membuat kedua bocah itu tepuk tangan tanda senang keinginannya dikabulkan.
Mereka dengan ribut mengerjakan tugas, tapi itu justru membuat suasana ruangan keuangan menjadi hangat dan ceria. Karena sudah bisa beradaptasi si kembar pun bisa berakrab ria dengan teman-teman Arsi.
Jam pulang bekerja pun tiba. Setelah absen Ngarsinah mengantar kereka keruangan CEO di lantai sepuluh. Mereka berdua tadi juga meminta Ngarsinah untuk bertemu papanya sebelum mereka pulang. Mang Ijul sudah disuruh pulang duluan karena nanti si kembar akan pulang bareng sang papa.
Santi sang sekretaris sedang sibuk membereskan mejanya dan hanya sekilas menyapa kedua bocah kecil itu, dan dia tidak memperhatikan keberadaan Ngarsinah yang membersamai kedua bocah itu.
Braakk!
Pintu ruangan Rangga dibuka oleh Arya dan Arista, Ngarsinah berada di belakang kedua bocah itu.
"PAPA!!!"
Teriak kedua anak itu dengan suara melengking dan mata membulatmembulat sempurna, Arsi dengan cepat menutup mata si kembar dan memeluk mereka di kanan dan kirinya.
“Kamu baby sitter yang baru?”
❤️❤️❤️
Waduuhh siapa yang ada di ruangan Rangga? 🤔
__ADS_1
pemirsaku tercinta, maafkan ya rencana kemaren awal tahun ini bisa double up, tapi ternyata masih ada keriwehan yang sana sini.
Yuukk tinggalkan jejak kalian ya dengan jempol, komen, hadiah dan vote. tengkyuuhh pemirsa❤️🌹