Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 65: Ingin Ke Belanda


__ADS_3

“Ibu Novi, maafkan saya, semua pasien saya tidak satupun saya sarankan untuk melakukan hal itu, satu hal yang saya khawatirkan ketika Tuhan murka kepada saya karena sudah mengambil haknya.” jawab Dokter Leo dengan wajah teduhnya, Pria itu bisa memaklumi kenapa Novi berpikiran seperti itu. Rata-rata pasiennya juga berpikir jalan pintas, dan hal ini sangat bertentangan dengan prinsip dokter Leo yang selama ini sangat taat dan takut akan kuasa Tuhan. 


Novi merasa kecewa, wanita itu tampak murung, jika dengan perjuangan normal maka akan lama menunggunya dan entah sampai kapan, wanita itu semakin khawatir dengan masa depannya kelak. Bisa saja dia akan dibuang oleh suaminya karena dicap mandul seperti Ngarsinah tempo hari. 


Suami istri itu sudah berada dijalan menuju rumah, kembali David banyak diam, sementara Novi sibuk dengan ketakutannya jika ditinggal oleh David. Jalanan yang selalu macet membuat David gelisah, Novi yang melihat itu juga bingung harus berkata apa. 


"Ehem, sayang bagaimana kalau kita bulan madu, agar program ini berjalan lancar kamu kan juga perlu istirahat. Mau ya?" Bujuk Novi berusaha untuk menarik perhatian suaminya, wanita itu juga sebenarnya ingin pamer di grup arisan kalau dia akan keluar negeri. 


Beberapa temannya kemaren saling bercerita perjalanan mereka yang mendampingi suaminya keluar negeri. David mengerutkan keningnya, di satu sisi pria itu juga ingin berlibur dan menuruti apa yang dikatakan dokter, tapi di satu sisi pria tampan itu merasa belum mencapai target bisnis yang dia inginkan. 


"Emang kamu mau kemana?" Tanya David datar, pria itu tidak melihat ke arah istrinya sama sekali. Novi sedikit kesal dengan perilaku David kepada dirinya, tapi wanita itu terus berusaha memasang wajah manis demi keinginannya dituruti. 


"Bagaimana kalau kita menemui nenek mu yang di Belanda sayang? Agar aku bisa lebih mengenal mereka," jawab Novi dengan senyum manis yang terus menghiasi wajahnya, alasan yang diutarakan Novi memang cukup masuk akal, karena keluarganya baru mengenal Novi lewat panggilan video. 


"Nanti aku pikirkan, bisnisku belum kokoh berdiri, aku masih malu untuk bertemu dengan keluargaku. Apalagi kamu belum juga hamil," ucap David datar. 


Glek!


Novi menelan salivanya yang mendadak susah untuk melewati tenggorokan. Sepertinya dia salah menyebutkan tempat, niat ingin pamer dan bergaya bisa bulan madu ke Belanda sekaligus memamerkan bahwa suaminya benar-benar keturunan Belanda. Gagal sudah, Novi berpikir keras, kalau hanya dekat-dekat sini mana bisa dia pamer dengan geng sosialitanya. 


'Issh David ini, kenapa nggak peka banget sih! Terus aku harus bilang kemana dong kalo dah di tolak begini,' keluh Novi dalam hatinya. 

__ADS_1


"Kamu ada ide nggak sayang?" Tanya Novi dengan niatan pantang menyerah. Mobil yang mereka kendaraan mereka sudah memasuki halaman rumah besar milik David dan Novi. 


"Akan aku pikirkan, ayo kita turun. Kamu harus banyak istirahat," ucap David dengan memberikan perhatian yang dirasa hambar oleh Novi. Dengan langkah kesal wanita cantik itu mengikuti suaminya memasuki rumah mereka. 


*****


Hari ini Yuni bertugas penuh di dapur karena Ngarsinah sibuk fitting baju dan menjemput anak-anak. Ningsih sudah memesan pada butik langganannya dan akan menunggu calon menantunya di butik sahabatnya itu. Sudah ada karyawan yang bertanggung jawab di kedai Roti, “Why A Bread and Cake’ kini semakin Ramai, sehingga Ngarsinah dan Yuni membeli satu kavling lagi tanah yang tepat berada di sebelahnya. Bram sudah mengurus semuanya, sudah tentu Yuni lah menjadi orang yang dipercaya Ngarsinah untuk mengurus semuanya bersama Bram. 


Rangga sudah mendapatkan wedding organizer yang tepat, malam ini rencananya dia dan Arsi akan meeting membahas konsep pernikahan, mulai dari A sampai Z. karena pernikahan akan diadakan dua minggu lagi tentu saja WO yang ditunjuk akan kerja keras menyiapkan semuanya. 


“Assalamualaikum ma, maaf Arsi terlambat ma, tadi ada ngurus kedai sebentar. Mama udah lama nunggu?” Sapa Arsi merasa tidak enak dengan calon mertuanya yang sudah lebih dulu sampai, tidak lupa wanita cantik itu menanyakan sang mama. 


“Iya nggak papa sayang, mama sambil temu kangen nih sama tante Tiyas, ayo kenalin dulu. Tiyas ini teman mama sejak SMA, saat kuliah dia lanjut ke Paris,” jawab Ningsih sambil cipika cipiki dengan Ngarsinah setelah punggung tangannya dicium takzim oleh sang calon menantu. 


“Arsi tante,” ucap Ngarsinah ramah dengan senyumnya yang selalu menawan. 


“Tiyas, panggil aja tante tiyas, kamu cantik sekali sayang. Beruntung Rangga mendapatkan wanita secantik kamu,” sambut Tiyas ramah dan tidak ketinggalan pujian tulusnya kepada Ngarsinah. 


Arsi tertunduk malu dengan pujian yang dirasanya sangat berlebihan itu. Mereka berbincang sejenak lalu sibuk memilih model yang disukai oleh Arsi, setelah puas memilih dan Tiyas dengan cepat mendesain apa yang diinginkan Ngarsinah di kertas sketsanya. 


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah mendapatkan gambar yang pas, Arsi langsung menjepretnya dengan kamera ponsel dang mengirinkannya kepada Rangga. 

__ADS_1


Ngarsinah memohon izin dulu kepada calon mertuanya dan tante Tiyas, saat ini sudah saatnya dia menjemput si kembar, entah sejak kapan, anak-anak Rangga tidak mau lagi di jemput supir. Sesibuk apapun Arsi, wanita itu akan menjemput kedua malaikat kecilnya itu. 


Sesampainya di sekolah, Ngarsinah nampak tergesa menuju ke ruang tunggu, anak-anak memang hanya dibolehkan pulang, jika yang menjemput sudah mengisi absen orang tua dan sudah menunggu di ruangan. 


Arya keluar terlebih dahulu dan langsung menuju ke tempat mamanya, tapi tidak dengan Arista, entah kemana gadis kecilnya itu. Arsi mendekati Arya berdiri, setelah mencium punggung tangan calon ibu sambungnya, tidak lupa pria kecil itu mencium kedua pipi Ngarsinah. 


“Dedek kemana kak? kok nggak bareng keluarnya,” tanya Ngarsinah bingung, wanita itu melihat sang kakak yang cemberut dan nampak sudah tidak sabar. 


“Masih di dalam ma, kakak sebel sama dedek,” rajuk Arya dengan wajah masamnya, Arsi berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan bocah lelaki itu. 


“Emang Dedek masih belum selesai mengerjakan tugasnya kak?” tanya Arsi lagi dengan lembut dan mengusap keringat di dahi sang putra sambung dengan tisu. Arya senang mendapatkan perhatian seperti itu dari sang mama.


“Dia lagi nungguin Theo yang belum kelar mewarnai ma,” Arsi mengajak Arya untuk duduk dan bersabar menunggu, karena Ngarsinah tidak bisa menerobos masuk kedalam. 


Tidak lama kemudian, wajah si mungil yang sedang ditunggu pun muncul, dengan senangnya dia berlari kecil sambil bergandengan tangan dengan seorang pria tampan berwajah bule di sampingnya.


“Mamaaaaaa …! mama maafin dedek ya keluarnya terlambat, ini kenalin ma temen dedek namanya Theo,”


❤️❤️❤️


Waduuhh si dedek udah udah deket aja sama si bule, siapa ya theo? 🤔🤔🤔

__ADS_1


Dear pemirsaku tercinta, author sangat senang sekali dengan komentar-komentar yang membangun dan lucu2. Author harap pemirsaku yang baik bisa sopan dan bijak ya dalam berkomentar, terimakasih pemirsaku tercinta. ❤️❤️🌹


cuuuss yuukk pemirsa Like yang buaanyak, komen yang seru, vote dan hadiah. ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹


__ADS_2