
Ngarsinah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut putri kecil yang masih setia menggandeng tangan si pria kecil bermata biru itu. Setelah mencium punggung tangan sang mama.
“Mama kenalin ini temen baru dedek, dia baru aja pindah kesini, ma” ucap Arista dengan senang, Arya yang melihat pria kecil dalam gandengan sang adik sungguh tidak suka.
“Hay anak tampan, siapa namamu?’ sapa ngarsinah menuruti permintaan Arista berkenalan dengan Theo. Wanita itu berjongkok dan mensejajarkan diri dengan Theo.
“Hay tante, namaku Theo, tante namanya siapa?” jawab Theo ramah dan tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi berbaris. Anak jaman sekarang, diajak ngomong itu nyambung nya cepet, hehehe.
"Tante Arsi, kamu dijemput siapa Theo?" Tanya Arsi setelah bersalaman dengan teman putrinya itu. Sesaat Arsi mengedarkan pandangan, tidak ada satupun orang tua yang wajahnya bule.
Arsi, Arya dan Arista sepakat untuk menunggu orang tua Theo. Ruang tunggu sudah sepi, si kembar juga sudah mulai gelisah karena terasa lapar.
"Theo, sorry i'm late, are you okay?" Suara bariton dan langkah berat yang berlari membuat keempat orang itu terkejut. 'David? Ya Allah kenapa akhir-akhir ini selalu dipertemukan dengan dia' Arsi bergumam di dalam hatinya.
Dengan cepat wanita cantik itu berdiri dan memegang tangan si kembar di kanan, kirinya. Wanita cantik itu mengangguk ramah, dia tidak mau menunjukkan sikap tidak baik di depan anak-anak.
"Ya uncle, you are late," jawab Theo dengan kesal, pria itu sangat paham kalau teman wanita kecil nya itu sudah lapar karena ikut membantunya menunggu sang paman.
"Tante Arsi, terimakasih sudah menemani Theo, Arista, Arya terima kasih ya. Sampai bertemu besok." Ucap Theo sopan. Anak kecil itu tersenyum ramah. Arya memasang wajah datar saat David tersenyum dan mengangguk sopan ke arah sang mama.
"Hay Arya kita ketemu lagi," sapa David yang merasa kikuk dengan tatapan tajam anak kecil itu. Ngarsinah menyadari hal itu dan mengusap kepalanya lembut untuk melunakkan hati sang putra.
"Hay om David, kenapa om melihat mama saya terus?" Tanya Arya setelah dia menjawab sapaan hangat dari David. Pria bule bertubuh atletis itu tersenyum canggung, persis seperti orang yang ketahuan sedang mencuri.
__ADS_1
"Eh … nggak kok, maaf ya kalo om sudah melihat wanita istimewa mu, ayo Theo sekarang kita pulang."
David mengedipkan sebelah matanya ke arah Arya untuk menggoda pria kecil yang posesif terhadap sang mama itu, Arya semakin kesal, dia teringat beberapa tontonan anime di televisi. Makna dari kedipan mata itu artinya menggoda. Wajah bocah tampan itu mengeras, ingin rasanya dia memarahi pria dewasa yang berani menggodanya dan memandang mamanya itu.
Dalam perjalanan pulang Arista banyak bercerita, teman baru nya Theo anak yang suka makan, akhirnya hari ini Arista berbagi bekal dengan Theo. Ngarsinah menyimak sambil terus fokus menyetir mobil milik Rangga yang sekarang sudah terparkir manis di rumah nya.
*****
Malam ini Ngarsinah diundang oleh Ningsih dan Boby untuk makan malam dirumah mereka, Yuni tidak ikut karena harus mengerjakan pesanan pelanggan. Rangga baru saja pulang dari kantor, melihat semua sudah siap di meja makan, duda tampan itu segera membersihkan diri. Seperti biasa si kembar tidak mau jauh dari sang calon ibu sambung.
Makan malam berjalan dengan lancar, Ngarsinah sudah mulai terbiasa dengan keluarga Rangga. Setelah makan, mereka berkumpul di ruang keluarga.
“Rangga sudah sejauh mana progres acara pernikahanmu?” tanya Boby dengan menatap lurus ke arah putranya. Rangga memang sudah memilih WO untuk hari bahagianya itu. Hotel bintang lima menjadi pilihannya, karena Ngarsinah menyerahkan semua keputusan kepada Rangga, jadi wanita cantik itu hanya mengikuti saya apa yang diatur oleh calon suaminya itu.
“Nak Arsi ada usulan?” tanya Ningsih lembut dan menatap sang calon menantu dengan tatapan sayang. Wanita itu merasa senang, penantiannya akhirnya berakhir, cucunya kini juga terlihat sangat bahagia. Walau Ngarsinah sudah mengatakan tentang kekurangannya yang dinyatakan mandul, bagi Rangga dan kedua orang tuanya tidaklah masalah besar. Toh si kembar sudah sangat meramaikan rumah mereka.
“Arsi ngikut mas Rangga aja ma, karena Arsi sendiri kan nggak banyak yang diundang, keluar pun palingan kedua orang tua Yuni dan adiknya yang akan datang. Jadi selama menurut mas Rangga itu baik, Arsi akan ikut aja,” jawaban Arsi membuat Rangga senang bukan main.
Anak-anak tampak sudah tertidur di kedua belah paha Ngarsinah yang duduk di sofa panjang. Arsi duduk di tengah yang di apit oleh Arista dan Arya, menyadari kedua anaknya belum menggosok gigi, wanita cantik itu mohon izin kepada Rangga dan kedua calon mertuanya untuk menidurkan anak-anak terlebih dahulu.
“Kakak, dedek ayo kita bersihkan gigi dulu, pipis baru bobok,” ajak Ngarsinah yang dengan lembut dan sabar mematuhi perintah Ngarsinah walau mata mereka sudah sangat berat untuk dibuka. Rangga yang melihat hal itu tersenyum bahagia, hatinya menghangat. Duda tampan itu tidak menyangka akan mendapatkan istri yang sangat menyayangi kedua anaknya.
Arsi berlalu menuju kamar si kembar meninggalkan ketiga orang dewasa yang masih melanjutkan pembicaraan di ruang keluarga. Ningsih sangat terharu dan bahagia melihat Ngarsinah yang sangat telaten mengurus kedua cucunya dengan penuh cinta.
__ADS_1
“Rangga, kamu sangat beruntung nak, lihatlah Arsi, dia sangat tulus menyayangi si kembar. Kamu harus bisa membahagiakannya, jangan membuat dia sedih, mama yang akan kamu hadapi sampai kamu menyakitinya.”
Rangga yang mendapatkan ancaman dari wanita yang paling dia cintai itu, langsung membulatkan kedua matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
“Ma, belum nikah, udah dapat intimidasi kek gini, Kayaknya calon istri ku ini terlalu istimewa. Kemaren Arya yang membela Arsi dengan gagahnya, ee sekarang mama yang udah ngancem-ngancem aku,” gerutu Rangga pura-pura seakan dirinya sedang di dzolimi oleh putra dan mamanya.
Boby yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak. Pria itu tampak senang melihat sang putra yang akhirnya mau membuka hati dan menjatuhkan pilihan pada wanita yang tepat.
Pesta yang katanya Rangga sederhana itu pada akhirnya tidak seperti yang Ngarsinah bayangkan. Wanita cantik itu kembali bergabung setelah memastikan kedua anaknya tertidur dengan pulas.
“Loh mas, katanya sederhana, ini kok undangannya buanyak bangett?!” tanya Arssi terpekik, wanita itu melihat catatan Rangga tidak kurang dari seribu lima ratus orang yang diundang.
“Iya sayang, keluarga kita kan keluarga besar, kolega bisnisku, karyawan dan terutama readers kita. Jadi sederhananya ya seperti ini sayang,” jawab Rangga dengan senyum super tampannya.
“Temen-temen mama juga loh ya Arsi, jangan sampe nanti mama jadi oongan saat arisan. Bisa gawat kan,” sela Ningsih yang ternyata sudah menyiapkan nama-nama teman yang akan diundangnya.
Ngarsinah melongo dan tidak bisa membayangkan, tapi sepertinya dia sudah pasrah. Baginya yang penting Readers Janda Mandul di undang semua, itu sudah membuat wanita cantik berhati emas itu senang.
Kesibukan para readers sudah mulai terasa, mulai dari menyiapkan baju, aksesoris, dan tidak lupa tiket bagi yang tinggal di luar kota atau mungkin di luar negeri. Undangan segera dibuat oleh Rangga, dan akan siap untuk di sebarkan. Waktu semakin mepet, jadi semua harus beres tepat pada waktunya.
❤️❤️❤️
Yuuk buruan jait kebaya buat komdangan gaes. temen-temen Ngarsinah siapa aja ya yang di undang? mantan apa kabar niiih 😆
__ADS_1
Yuukk Like, komen, vote dan hadiaah nya ya pemirsa, tengkyuuhh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹