
Ngarsinah dipindah ke ruangan ICU, dengan dibantu berbagai selang yang menghiasi tubuhnya, membuat Arsi bisa bernafas dengan baik dan teratur. Karena desakan dan rengekan kedua bocah berusia lima tahun itu akhirnya pihak rumah sakit membolehkan untuk Rangga dan kedua anaknya masuk keruangan Ngarsinah.
Arya tidak bisa membendung rasa sedihnya, air mata pria kecil itu menetes deras, Arista yang paling merasa bersalah pun kini mendekati tubuh lemah dan berwajah pucat itu.
Rangga hanya bisa menatap Ngarsinah dengan perasaan yang kacau, dia teringat tadi saat Ngarsinah memergokinya, perasaan baru tadi, dia melihat wanita yang menguasai hatinya itu membawa kedua bocah di atas motornya, sekarang wanita itu tertidur dalam ketidak sadarannya.
Arya mengusap tangan Ngarsinah yang terasa dingin. Pria kecil berwajah tampan itu tergugu melihat wanita yang hanya terdiam dan tidak terusik sama sekali saat tangan mungilnya mengusap punggung tangan itu.
“Mama, bangun ma …” Arista yang yang mendengar suara Arya terkejut dan menoleh ke arah sang kakak. Rangga pun tak kalah terkejutnya, anak laki-lakinya yang biasa memanggil Ngarsinah dengan panggilan tante, kini dengan lembut membangunkan wanita cantik yang sederhana itu dengan panggilan mama.
“Mama, kakak belum makan, tadi katanya mama mau masakin kakak sama dedek,” Arya berusaha menggapai alam bawah sadar Ngarsinah, tapi wanita itu tetap tidak mau bangun. Rangga terkesiap mendengar kalimat anaknya, spontan dia melihat benda bulat dan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. jam menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, dan anak-anaknya juga dirinya belum makan apapun.
Arsi yang mendengarkan perkataan kakaknya kembali teringat peristiwa di dapur tadi, membuat tangisnya kembali pecah dan hal itu membuat mereka di tegur oleh perawat, dan akhirnya mereka bertiga diminta keluar.
“Kakak, dedek ayo kita makan dulu, jangan sampai kita sakit, nanti mama Arsi sedih.” Bujuk Rangga kepada putra dan putrinya. Sepertinya kedua anak itu mulai luluh hatinya atau mungkin karena sudah lelah dan mengantuk. Rangga berusaha membujuk anaknya untuk pulang dan dia akan kembali lagi kerumah sakit untuk menemani Ngarsinah. Seperti itulah rencananya.
“Iya pa, dedek laper,” jawab Arista dengan isak tangis yang masih terdengar. Rangga tersenyum dan mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongannya.
“Kakak juga lapar pa,” Jawab Rangga mengikuti adik kembarannya. Sepertinya mereka memang benar-benar sehati dan sejiwa, hampir semua pilihan mereka sama selera dan keinginan.
__ADS_1
“Baiklah, sekarang kita urus dulu administrasi mama, dan setelah itu kita makan dan pulang, setuju?” tanya Rangga dengan berusaha merubah suasana menjadi ceria, walau dia tau bahwa hati kecil kedua orang anaknya itu sedang bersedih.
Rangga mengurus seluruh Administrasi untuk keperluan perawatan Ngarsinah, termasuk ruang rawat VVIP juga sudah disiapkan jika nanti Ngarsinah sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat.
Ayah dan kedua anak kembarnya itu pun kini sedang menikmati makan malamnya dan tidak banyak berbicara karena pikiran mereka yang masih saja tertinggal di rumah sakit dan tubuh yang lelah membuat bocah umur lima tahun itu terlelap di perjalanan mereka menuju rumah.
Bu Ningsih dan pak Boby belum tidur, sepasang suami istri yang selalu romantis di usia mereka yang sudah senja itu sedang bercengkrama di ruang tengah. Rangga menggendong Arya yang sudah tertidur pulas, Asisten rumah tangga mereka langsung menyambut tuan nya dan mengambil alih tubuh mungil itu, Rangga kembali ke mobil dan mengambil tubuh Arista. Kembali tubuh kecil itu disambut oleh pengasuhnya untuk direbahkan di kamar mereka.
dalam gendongannya Arista mengigau dan itu cukup bisa di dengar oleh kedua orang tua Rangga. Mereka berdua saling menoleh melihat anak dan cucunya tampak kusut dan sedih.
“Mama, ini salah dedek, bangun ma … bangun ma!” racau Arista dengan matanya yang terpejam, jejak air mata masih saja menggenang di sudut matanya.
Rangga yang Melewati ruang keluarga membuat Ningsih terkejut melihat baju Rangga yang ada noda darah, kini sudah mengering. Dengan alis mata yang saling bertaut membuat wanita paruh baya itu tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada sang putra.
“Rangga, kamu kenapa nak? itu baju kamu kenapa?” pertanyaan Ningsih beruntun membuat Rangga menghentikan langkahnya sebentar untuk menjawab pertanyaan sang ibu.
“Arsi jatuh di dapur rumahnya ma, kepalanya luka dan sekarang keadaannya kritis, maaf ma Rangga mau mandi dulu ya, nanti kesini lagi.” jawab Rangga singkat. Ningsih dan Roby yang melihat hal itu kaget bukan kepalang. Gadis baik yang mereka sukai dan juga disukai si kembar sekarang sedang tidak berdaya.
Rangga yang sudah selesai mandi dan berpakaian rapi kini duduk bersama kedua orang tuanya. Pria itu berniat untuk kembali ke rumah sakit. Menceritakan apa yang terjadi membuat kedua orang tua itu merasa bersalah, karena menjaga kedua cucunya akhirnya Arsi mengalami hal seperti ini.
__ADS_1
Rangga hanya menceritakan perihal itu saja, dia tidak menceritakan perihal Betty yang sudah menjadi penyebab terjadinya nya itu, bukan hanya Betty, ralat tepatnya dia dan Betty. Rangga paham benar ketidak sukaan Ningsih kepada wanita agresif itu, dan jika dia ceritakan juga maka semua akan semakin kacau, mamanya bisa saja murka dan hal itu yang sangat dihindari oleh Rangga.
Rangga berpamitan kepada sang mama dan papa untuk kembali ke rumah sakit, untuk menjaga Ngarsinah, Ningsih mengizinkan karena memang itu menjadi tanggung jawab mereka. Boby sedang berpikir bagaimana untuk bisa mengabari orang tua angkat Ngarsinah di kampung, dia sangat mengetahui kedua orang yang sudah seperti orang tua bagi Ngarsinah itu sangatlah menyayangi gadis berhati bidadari itu.
Pagi menjelang setelah mengantarkan si kembar sekolah, Ningsih dan Boby berangkat kerumah sakit untuk melihat kondisi Ngarsinah. Rangga yang baru selesai menemui dokter, melangkah lesu dengan wajah yang suram. Ngarsinah mengalami koma, gadis itu masih juga belum ada kemajuan sejak penanganan pertama, sementara dokter masih terus observasi untuk tindakan selanjutnya.
“Ma, pa, Arsi sudah dipindah ke ruang rawat, ayo kita kesana,” ajak Rangga saat bertemu orang tuanya yang baru saja sampai. “Bagaimana keadaan Arsi Ga?” tanya Boby kepada putranya yang tampak muram.
“Arsi Koma pa, tapi Dokter yang menanganinya berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ngarsinah.” Jawab Rangga dengan terus berusaha untuk optimis.
“Pa, kita belum mengabari keluarga Arsi yang di kampung, nanti kalo kita nggak ngabari segera, malah mereka marah sama kita lo pa,” ucap Ningsih dengan kekhawatiran dan kebingungan, ada rasa takut yang menjalari hatinya, Mengingat kejadian ini terjadi karena ulah cucunya.
“Nanti kita pikirkan lagi ma, sekarang kita lihat dulu keadaan Arsi bagaimana, mama yang tenang ya,” jawab Boby yang sebenarnya tidak kalah bingung, Pria tua yang masih saja tampan itu berusaha untuk menenangkan hati istrinya.
“Maaf pak, kami sudah berusaha maksimal di batas kemampuan kami, tapi sepertinya Tuhan lebih menyayangi istri anda, maafkan kami.”
❤️❤️❤️
Ya Allah, Arsi kenapa dok? 😭😭😭😭
__ADS_1
Yuuk jempolnya yuk, komen dan vote jangan lupa ya, hadiah dari kalian juga otor tunggu. tengkyuuuhh pemirsa. 🌹🌹🌹❤️