
Samira yang kini sedang berdiri berhadapan dengan istri sah kakak nya, mendadak canggung. Entah apa yang membuatnya memiliki perasaan seperti itu, tapi yang jelas saat ini Samira sedang salah tingkah
"Kak Fatim, silahkan kak. Kak Dave ada di dalam," ucap Samira dengan senyuman yang manis.
Deg!
'Dave? Owwh jadi panggilan wanita ini untuk suamiku sudah ada, baiklah kalau begitu.'
Fatim hanya bisa berkata dalam hatinya dan memberikan senyum kecut yang dipaksakan.
"Bisa aku bertemu dengan Mas David? Emmm maaf saya harus panggil apa?" Tanya Fatim beruntun. Samira tersenyum, dengan santun dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Aku Samira kak, sepupunya kak Dave," jawab Samira. Fatim hanya mengangguk sopan, wanita itu berusaha menekan segala rasa sakit di hatinya. Seorang wanita kini ada di dalam rumahnya, sesaat Fatim teringat masa lalu tentang dirinya.
'Ya Allah dulu aku datang ke rumah ini untuk membuka kebusukan Novi, mantan istrinya mas David yang saat itu masih berstatus istrinya. Dan kini aku pun digeser dengan kehadiran wanita lain, yang berstatus saudara sepupunya. Ya Allah berikan aku kekuatan dan tunjukkan aku jalan yang benar,' ucap Fatim dalam hatinya.
"Mari kak, masuk," ajak Samira sopan. Wanita itu berusaha untuk tidak terlihat gugup, melihat sikap Fatim yang berwibawa membuat Samira takut untuk berakrab ria.
Langkah Fatim seakan berat, wanita itu berusaha mengendalikan debaran jantungnya. Apalagi saat melihat David sedang bermain dengan Viona, bayi mungil yang belum mengenal kejamnya dunia.
Sekilas bayangan David sedang bercanda dan bermain dengan Jay, membuat wanita itu harus menghirup udara sebanyak-banyaknya demi mencukupi oksigen dalam paru-parunya.
__ADS_1
Saat pandangan Fatim beralih ke sekeliling rumah, kedua alisnya terpaut, ada yang aneh. Semua foto kebersamaannya dengan David ternyata sudah tidak ada, jadi wajar kalau Samira tadi seperti tidak mengenalnya.
"Kamu sudah datang Fatim, duduklah dulu. Samira bawa Viona kedalam ya, aku mau bicara dengan Fatim."
Samira yang mendapat perintah itu pun mengangguk dan langsung membawa bayi kecilnya masuk ke kamar tamu, Fatim memperhatikan interaksi mereka.
Fatim sudah merasa jadi orang asing saat ini, raut wajah David pun datar saja. Pria itu mengambil duduk di sofa single, tidak ada pertanyaan tentang kabar atau apapun. Sungguh membuat Fatim merasakan nyeri di hatinya.
Begitu mudahnya rasa itu hilang, baru beberapa saat rasanya mereka masih saling mesra tapi kini semua seakan tidak pernah ada. Fatim berusaha menguatkan hatinya, sesat wanita itu menarik nafas dalam untuk memulai pembicaraan.
"Mas David, aku tidak ingin berlama-lama disini. Besok aku berencana mengajukan gugatan cerai," ucap Fatim dengan pandangan menunduk. Jantungnya berdebar hebat, matanya mulai kabur karena cairan bening itu sudah mulai mendesak keluar. Tapi dengan sekuat tenaga wanita itu menahannya, jari tangannya saling bertautan menandakan dirinya sedang gugup.
"Maaf mas David, aku mungkin bukan wanita yang mampu berbagi hati. Aku memilih mundur mas," sahut Fatim dengan suara yang mulai bergetar.
'bagaimana bisa dia menawarkan hal seperti itu, sementara jejak keberadaan ku sebagai nyonya rumah saja sudah tidak ada.' Fatim hanya bisa bergumam dalam hati.
David ternyata tidak pernah berubah, Fatim tidak bisa berjuang sendirian kalau sudah begini keadaannya. David menatap lurus ke arah Fatim yang masih tertunduk. Pria itu tidak sedikitpun merasakan sakit yang diderita Fatim saat ini, keinginannya untuk punya keturunan sudah sangat memenuhi pikiran dan hatinya.
"Baiklah Fatim, aku tidak akan mempersulit. Agar prosesnya lebih cepat, aku yang akan mengurusnya. Aku tidak ingin membuatmu repot Fat," ucap David seakan berempati. Fatim mengangkat wajahnya dan saat ini tatapan mereka bertemu, luka yang tak berdarah kini menganga di hati wanita itu.
"Ba-baiklah mas, terimakasih. Aku pikir tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, sebaiknya aku pamit."
__ADS_1
Fatim berdiri dari duduknya dan bersiap untuk melangkah ke arah pintu. David tiba-tiba meraih tangan Fatim, secara otomatis wanita itu pun berhenti. Jantungnya berdebar hebat saat ini, dia tidak ingin lagi menoleh kebelakang, tapi ternyata kenyataan tidak sesuai dengan keinginan.
Greebb!
Tiba-tiba David menarik tubuh Fatim dan memeluk wanita itu dengan begitu erat. Tubuh Fatim menegang, entah sudah berapa lama dirinya tidak merasakan pelukan itu. Untuk sesaat mereka hanya diam dan merasakan perasaannya masing-masing.
"Maafkan aku Fatim, aku akan tetap ada untukmu. Jangan ragu untuk menghubungiku jika suatu hari kamu membutuhkan bantuanku," bisik David. Pria itu mengecup lama puncak kepala wanita yang pernah mengisi hari-harinya.
Fatim tidak kuasa menahan air mata yang sedari tadi sudah ingin keluar, tanpa terasa tangan wanita itu pun melingkar di tubuh pria yang pernah bertahta di hatinya. Tangisan Fatim pun pecah, rasa yang kini ada hanyalah sakit dan sakit.
Setelah beberapa saat mereka saling berpelukan, Fatim pun segera mengurai kedekatan fisik mereka. Tidak ingin lagi berkata-kata wanita itu pun pamit dan segera meninggalkan David yang masih berdiri di depan pintu.
Tidak ada sahutan dari Fatim atas ucapannya, wanita itu pun pergi tanpa sepatah kata. Dari sudut ruangan Samira memperhatikan apa yang tadi terjadi, wanita itu buru-buru masuk kembali kedalam kamar saat David kembali masuk kerumah sebelumnya tidak lupa pria itu Mengunci pintu.
"Huuff … Fatim,"
❤️❤️❤️
Asliiii episode ini mengandung bawang sekaligus rasa kesal ya pemirsaaahh…
Yuukk like, komen, vote dan subscribe. Jangan lupa hadiahnya ya pemirsaahhh, love all pemirsaaahh ❤️🌹
__ADS_1