
Waktu berlalu, Arsi sudah menyiapkan wedding cake sederhana namun cantik dan yang pastinya membuat wanita kuat itu bahagia. Sejak malam tadi Ngarsinah sudah tidur di hotel, tempat mereka akan mengadakan pernikahannya, Yuni sahabat yang sudah seperti saudara selalu setia mendampingi.
Selesai sholat subuh, mereka berdua bersiap-siap untuk di rias. MUA yang diminta Rangga datang lebih awal kini sudah siap di depan pintu kamar Arsi, Yuni yang mendengar bel berbunyi, bergegas membukakan pintunya.
"Silahkan mbak," ucap Yuni ramah, mereka pun masuk bersama-sama. Ngarsinah yang sedari tadi gugup menjadi tidak tenang, ini bukan pernikahan pertamanya, tapi tetap saja membuat dirinya gugup.
Di kamar sebelah, si kembar yang sudah bangun jadi rewel ingin di rias bersama wanita yang sebentar lagi akan sah menjadi mamanya. Arista yang cengeng pun membuat neneknya kewalahan, dan akhirnya menyerah, seperti itulah selalu yang terjadi.
Arya ikut juga dengan alasan akan menjaga Arsi, padahal sudah diberi tahu bahwa di kamar itu hanya ada perempuan, tapi bukan Arya namanya kalau dia tidak berkeras dengan maunya.
"Mamaaaa…." Teriak Arista yang langsung berhamburan ke pangkuan Arsi, seperti anak yang bertahun-tahun tidak bertemu dengan ibunya. Yuni yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Dedek udah mandi belum? Tanya Ngarsinah yang tidak leluasa memangku putri kecilnya itu. Arista menggeleng dan tersenyum. Ngarsinah menutup hidungnya.
"Dedek baauu, ayo mandi dulu, mama kok belum siap-siap?” Tanya Arsi melihat calon mertuanya yang belum berdandan.
Arista turun dari pangkuan sang mama dan langsung meminta suster untuk minta dimandikan, Arya sudah selesai mandi, dan kini gantian dengan sang adik. Kamar luas itupun ramai dengan suara mereka berdua.
"Mama nggak bisa siap-siap Arsi, anakmu rewel aja dari tadi minta kesini. Kamu bersiaplah, jam 9 penghulunya sudah ada di sini," ucap Ningsih setelah menjawab pertanyaan calon menantunya, Arsi yang masih di make up pun menahan tawanya, mendengar keluh kesah sang mama yang di buat heboh oleh si kembar.
“Yaudah mama balik ke kamar ya, papa kamu juga udah beres tuh, Rangga juga. Kamu nggak papa anak-anak disini Arsi?” tanya Ningsih sebelum berpamitan. Ngarsinah tersenyum dan memberi kode kepada mbak yang meriasnya untuk berhenti sejenak.
“Nggak pa-pa ma, kan ada suster juga, mereka berdua yang penting deket aja sama induknya ini, tenang sudah. Mama nggak usah khawatir ya,” jawab Arsi kepada calon ibu mertuanya yang disahuti dengan gelak tawa semua yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
*****
Rangga sudah bersiap duduk di depan penghulu, keringat bercucuran di keningnya, Duda beranak dua itu memang sudah pernah menikah, tapi pernikahan kali ini terasa baru lagi baginya. Dari kejauhan dia melihat Ngarsinah yang berjalan anggun dengan balutan kebaya dan hijab dengan warna senada.
Semua tamu undangan mengalihkan pandangan mereka ke arah Ngarsinah, pujian cantik meluncur dari mulut para hadirin yang bersedia hadir di acara akad nikah Rangga dan Arsi. tidak terkecuali Reader Jandul, yang berdecak kagum dengan aura kecantikan dari dalam yang memancar ke wajah Arsi.
“Loh yang dinikahi pak Rangga janda beranak dua kah?” Tanya salah satu tamu yang bingung melihat kedatangan Ngarsinah. Tidak banyak yang tau wajah si kembar, mereka kebanyakan taunya Rangga duda punya anak.
Ngarsinah berjalan dengan pendamping kedua malaikat kecilnya, Arista dan Arya, hal itulah yang membuat para tamu undangan salah paham. Bisik-bisik itu pun terdengar di telinga Ningsih, wanita itu hanya tersenyum saja dan lebih memilih untuk menikmati wajah wanita cantik yang beberapa menit kedepan akan menjadi menantunya yang sah.
“Iya–ya, kok anaknya pak Rangga kok malah nggak muncul? jangan-jangan anaknya pak Rangga nggak setuju ya?” balas salah satu temannya yang diajak berbisik. Gosip pun terjadi, dimana-mana memang menggosip itu susah ditolak ya magnetnya hehehe.
Ngarsinah sudah duduk tepat di belakang Rangga, kedua bocah itu tetap tidak mau menjauh dari sang mama, padahal kursi mereka sudah disiapkan dan akhirnya posisi tempat duduk pun diubah. Bu Yem dan pak Slamet, sebagai wakil dari keluarga Ngarsinah, yang seharusnya mendampingi Ngarsinah, kini beralih ke kursi yang bertuliskan nama kedua bocah tersebut.
Selesai pengajian, acara akad nikah pun siap untuk dilaksanakan. Rangga mengusap kedua telapak tangannya sebelum menjabat tangan sang penghulu.
“Sabar pak Rangga, sebentar lagi kok, yang tenang. Si nyonya nggak kemana-mana,” seloroh penghulu yang di sahuti gelak tawa tamu undangan. Rangga yang memang gugup hanya tersenyum malu.
Rangga dan penghulu berjabat tangan, Ngarsinah yang yatim piatu juga tidak memiliki wali, maka wanita cantik itu pun menggunakan wali hakim untuk menikahkan dirinya dengan pria pilihannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Ngarsinah binti sulaiman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai, saaahh!" Ucap Rangga mantap, dan langsung di di sambut gelak tawa para tamu yang tadinya hening karena prosesi sakral itu akan segera di mulai.
Rangga yang belum menyadari apa yang terjadi membuka matanya, dia baru sadar, kalau penghulu belum mengucapkan akad, tetapi malah dia duluan yang mengucapkannya dan di sah kan sendiri.
__ADS_1
"Nampaknya pengantin pria nya sudah tidak sabar ya, jadi main samber aja, hehehe," ucap penghulu yang membuat wajah Ngarsinah merona. Berbeda dengan Rangga, pria itu seakan tidak mempermasalahkan apa yang barusan terjadi tadi.
"Maaf pak, saya sudah kebelet nikah," ucap Rangga dengan wajah konyolnya, demi menghilangkan kegugupannya, pria itu pun semakin membuat tamu undangan tertawa.
"Mari kita lakukan akadnya sekarang, nanti jangan di sah kan sendiri ya pak Rangga," kelakar penghulu, agar Rangga tidak kembali tegang. Ngarsinah ikut berdebar, wanita cantik yang anggun itu tidak berhenti berdoa memohon ridho Allah untuk pernikahannya yang kedua ini.
Saat penghulu memulai mengucapkan akad nikah antara Rangga dan Ngarsinah, Rangga sempat terdiam sejenak.
"Haduuh anak ini, apa lagi yang dia tunggu? Tadi mendahului penghulu, sekarang malah terdiam tidak menjawab. Minta di jewer nampaknya anakku ini," gerutu Ningsih lirih, namun masih bisa didengar oleh Ngarsinah yang tersenyum mendengar omelan mama mertuanya.
"Saya terima, nikah dan kawinnya Ngarsinah binti Sulaiman, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tuuunaaii!" Ucap Rangga lantang dalam satu tarikan nafas.
"Sah?" Tanya penghulu kepada saksi, dan para saksi serta tamu undangan, bersama-sama mengucapkan secara serentak.
"SAAHHHH!" tepuk tangan pun terdengar meriah, Rangga tanpa sadar berdiri dan langsung berlari kecil menuju tempat Ngarsinah duduk, pria tampan itu berniat menjemput sang istri.
"Stop!"
❤️❤️❤️
Alhamdulillah akhirnya Saahh, yuukk siap-siaap resepsi, author udah kelar masak niihh 🥰🥰
Boom like dooong pemirsa, komen, vote dan hadiah yaa, tengkyuuuhh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹
__ADS_1