
“Kau luar biasa, jangan panggil aku nyonya. Panggil saja Novi, tapi … bagaimana aku harus memakai bajuku?” kaisar melihat pakaian milik Novi sudah berhamburan ke sembarang arah dan hal itu membuat pria itu bangkit untuk mengambilkan bathrobe.
‘Gunakan ini dulu, aku akan belikan kamu baju.” Sahut Kaisar yang sudah membawakan bathrobe. Sementara dirinya hanya menggunakan handuk yang dililitkan pada pinggang untuk menutupi pusaka berharganya.
Dengan cepat pria itu memesan pakaian di butik sahabatnya dan tidak lama pesanannya pun datang. Novi sedang membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamar Kaisar. Kaisar ikut masuk dan tidak merasa sungkan sama sekali.
Entah mulai kapan hubungan kerjasama mereka tiba-tiba berubah seperti sepasang kekasih. Tidak ada lagi panggilan anda dan saya, kini hanya ada aku dan kamu, secepat itu semuanya berubah. Novi yang awalnya tidak mau, kini merasa candu dengan pelayanan Kaisar.
Kini Novi sudah tampak rapi dengan baju yang baru saja dibelikan oleh Kaisar, wanita itu tersenyum cerah seperti tidak pernah terjadi sesuatu pada dirinya.
“Aku pulang dulu, ingat dengan misi kita. Aku tidak ingin ada kabar kegagalan,” Ucap Novi dengan senyum termanisnya. Kaisar kembali meraih pinggang Novi, kali ini pria berwajah tegas itu semakin berani.
“Aku tidak akan menunda lagi untuk menyelesaikan misi itu, tapi satu hal berjanjilah padaku untuk besok kita akan melakukannya lagi. Aku tau kau menikmatinya honey,” ucap Kaisar lirih di telinga Novi. Pria itu terus mengusapkan bibirnya di telinga dan leher Novi, hingga Novi merasa merinding dengan perlakuan panas Kaisar.
“Sudah … berhentilah menggodaku, sebentar lagi David akan pulang. Aku tidak ingin dia marah saat aku tidak ada dirumah.” Sahut Novi sambil melepaskan pelukan Kaisar.
“katakan padaku besok kau akan kembali kesini,” Ucap Kaisar memaksa, pria itu mulai candu dengan wanita yang kini berada dalam pelukannya.
“Iya aku akan datang,” Sahut Novi dengan senyum manis menggodanya.
Cup!
Kaisar mendaratkan kecupan manis di bibir merah Novi dan melepaskan pelukannya. Novi tidak ingin membuang waktu dengan langkah cepat dia menuju lift dan langsung menuju parkiran.
Novi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, wanita itu masih saja tersenyum. Sesekali pandangannya melihat ke spion untuk memastikan kendaraannya berada di jalan yang aman.
__ADS_1
“kaisar, kenapa kau begitu pandai membuatku melayang … Ahh David, dasar laki-laki bodoh! kau pikir dengan menyingkirkan ku dengan membawa si janda itu masuk kerumah kita akan membuatku kehausan? kau salah besar David, hahaha!” racau Novi yang kini tawanya memenuhi ruangan mobilnya. Wanita itu tampak puas dengan kepintarannya, Dan dengan adanya kaisar yang siap memenuhi kebutuhan biologisnya membuat Novi sedikit tenang.
“Aku tidak lagi membutuhkan kehangatanmu David bo*doh! aku hanya membutuhkan uangmu, Ohh David sayang … aku akan menjadi ibu peri di pernikahan kalian dan kau akan tau seberapa cerdasnya seorang Novi. Dulu kau memang menggoda dan aku tergila-gila padamu, tapi jangan pernah berpikir kalau aku akan mengemis cinta dan kehangatan dari mu!” teriak Novi dengan memukul stir beberapa kali.
*****
Ngarsinah dan Yuni sudah selesai belanja dan kini Yuni ikut bersama Arsi. Saat berangkat tadi Yuni menggunakan taxi online dengan niat nanti pulang akan bersama dengan sahabatnya. Setelah keduanya memasuki mobil, Arsi tidak lupa meletakkan pashmina yang akan dia berikan kepada Yuni di depan. Hal ini agar tidak sulit nanti mencarinya, karena tertumpuk dengan barang yang lain.
“Arsi semua sudah masuk ya, kamu nggak kecapekan nyetir sendiri? maaf ya Si, aku nggak bisa gantiin, nyetirku belum begitu lancar soalnya. Lagian kamu kenapa sih nggak mau disupiri? Tanya Yuni sambil memasang seat belt.
“Santai Yun, anak-anakku ini pada pinter semua, mereka tenang di dalam sini. Heeyy mana betah aku lama-lama di supiri, kayak nyonya besar aja pake supir segala.” Sahut Ngarsinah dengan tertawa lebar.
“Laah sekarang kamu kan sudah jadi nyonya Rangga, pengusaha sukses sekaligus mantan duda keren,” Ucap Yuni.
“Jiiaah ada gitu embel-embelnya mantan duda keren,” Sahut Ngarsinah.
“Yun, tolong buka lacinya, itu ada botol. Coba kamu liat apa isinya,” titah Arsi yang masih konsentrasi dengan jalan raya. Yuni dengan cepat mengambil botol yang dimaksud oleh sahabatnya. Sesaat Yuni memindai botol itu dengan kening berkerut, dan membuka tutupnya.
Aroma pedas menguar dari dalam botol dan membuat mereka berdua bersin-bersin. Dengan cepat Yuni menutup botol kembali dan sedikit membuka jendela agar rasa pedas yang keluar dari dalam botol bisa keluar.
“Ini bubuk cabe dan merica, buat apa Si?” Tanya Yuni heran, Ngarsinah juga merasa heran dengan pemberian tidak biasa dari Fatim. Tiba-tiba Ngarsinah merasa ada yang aneh dengan mobil di belakangnya, jalanan yang sudah tidak begitu ramai harusnya membuat mobil hitam itu leluasa untuk mendahuluinya.
“Yun, nanti aja kita pikirkan kenapa Fatim memberikan bumbu dapur itu, kamu lihat sepertinya mobil di belakang kita sedang mengikuti kita deh. Iya nggak sih?” Tanya Ngarsinah mulai cemas.
“Iya Si bener, kalo dia mau duluan kan bisa aja. Si buruan hubungi pak Rangga,” Jawab Yuni dengan wajah yang sudah ketakutan. Arsi mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Yuni, dia terus saja konsentrasi dengan jalanan.
__ADS_1
Yuni melakukan panggilan kepada Rangga dan meminta bantuan untuk melindungi mereka. Dengan Cepat Rangga melacak keberadaan sang istri dan menyuruh orang-orangnya untuk bergerak menyusul istrinya. Sementara dia sendiri langsung meninggalkan meeting dan melesat menuju posisi istrinya.
Ciiiitttt!
Braaak!
Mobil hitam yang mengikuti Arsi berhasil mendahului dan langsung menghadang mobil yang dikendarai oleh Ngarsinah. Seorang pria berbadan kekar keluar dari mobil hitam itu. Mereka berdua menuju ke arah Arsi.
“Keluar!” bentak pria bertato.
Arsi yang berada di dalam mobil memutar otak bagaimana cara menyelamatkan diri dari pria bertubuh kekar itu. Yuni sudah keluar keringat dingin namun wanita itu masih berusaha tenang. Dirinya memiliki bekal ilmu bela diri, tapi melihat musuh yang akan dihadapi sebesar itu membuat nyalinya sedikit goya.
“Yun, aku pakai dulu pashmina kamu. Berikan bubuk cabe dan merica itu. Cepat!” Perintah Ngarsinah dan langsung di turuti oleh Yuni. Dengan cepat Ngarsinah melakukan aksinya, Yuni menutup hidung agar tidak bersin. Dan sekarang kedua wanita itu keluar dari mobil. Ngarsinah mengingat kandungannya dan mengusapnya pelan.
‘Tenanglah nak, Kita akan selamat. Kalian baik-baik di dalam sana ya,’ Gumam Ngarsinah lirih. Tidak lupa wanita itu berdoa memohon perlingungan dari Allah. Jalanan yang mereka lalui saat ini sangat sepi, hal ini membuat suasana semakin tegang.
Brak!
Pintu mobil Ngarsinah ditutup dan melangkah pelan di samping mobilnya.
❤️❤️❤️
Ayo Arsi jangan lemah yaaa... semangaaattt !!!
Like, Komen, Vote dan hadiaahh ya, tengkyuuhh pemisaahh
__ADS_1
❤️❤️❤️💪💪💪🌹🌹🌹