Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 119 : Air Ketuban


__ADS_3

Tomo yang berbaris di barisan laki-laki langsung menyahut ucapan Sumirah dengan tatapan tidak suka. Pria yang berstatus tunangan Sumirah itu pun langsung menegur sang kekasih yang mengatakan ‘ganteng’ pada laki-laki lain. 


Sumirah hanya cengar cengir dan menyelesaikan tanda tangannya. Fatim yang melihat itu hanya tersenyum cemerlang, setelah selesai semuanya urutan berikutnya pun dipanggil dan begitulah semuanya berjalan dengan lancar dan tidak mengalami kendala apapun. 


Semua pekerja mendapat notifikasi uang masuk ke rekening mereka satu persatu. Rasa syukur dan wajah-wajah bahagia kini menghiasi wajah lelah para pekerja di kebun milik David, Malam ini David dan Fatim akan menginap di desa. Rumah milik David walau sering ditinggal tapi tetap terawat karena sering dibersihkan.


Obrolan suami istri. 


“Sayang, Jay sudah tidur?” Tanya David yang tidak mendengar ocehan bocah kecil itu meramaikan rumah besarnya. 


“Sudah mas, dia sama mbak pengasuh tidur di kamar sebelah. Besok kita menyelesaikan pembayaran untuk para pekerja yang sudah pensiun ya mas.” Ucap Fatim yang kini sudah duduk di sofa. David ikut duduk di samping Fatim, pria itu merebahkan kepalanya di paha Fatim. 


“Iya setelah selesai semua tolong temani aku untuk menyelesaikan masalah dengan Novi mau?” Tanya David dengan kepala yang sedikit mendongak agar bisa menatap kedua netra Fatim. 


“Iya mas, aku ngikut saja. Urusan warung sudah aku percayakan sama anak-anak jadi nggak usah khawatir. Apakah rumah yang di kota akan di jual mas? Tanya Fatim hati-hati. 


“Kalau secara aturan memang itu harus dijual, agar uangnya bisa dibagi. Tapi kalau Novi ingin bagi harta dalam bentuk utuh aku tidak keberatan. Tapi rumah ini tidak termasuk kan, karena ini peninggalan mama dan papa ku sayang.” Ucap David dengan wajah sendu. 


Obrolan santai pun diakhiri dengan rasa kantuk yang tidak bisa di cegah lagi. 


*****


Di kedai kue Why A, Yuni dan Bram sedang bicara serius membahas tentang pernikahan mereka yang tinggal satu bulan lagi. Sesuai perjanjian aneh antara kedua sahabat itu dimana Yuni akan menikah saat Arsi sudah melahirkan dengan alasan Arsi ingin menggunakan seragam keluarga pengantin dengan keadaan perut yang sudah tidak buncit lagi. 


Yuni tidak bisa membantah, permintaan ibu hamil memang kadang suka aneh. Bram yang sudah tidak sabar untuk bisa hidup berdua dengan orang yang dia cintai, hanya bisa menggerutu tanpa berdaya untuk merubah isi perjanjian absurd itu. 


“Sayang, jadi yakin ya Arsi akan melahirkan di tanggal 2 Juni? dan tanggal 20 kita menikah.” Tanya Bram dengan wajah sendunya. pria itu ingin memastikan kembali setelah sekian banyak perubahan yang selama ini dia alami. 

__ADS_1


“In shaa Allah begitu sayang, jadwal dari periksa terakhir kemaren seperti itu. Kamu yang sabar ya mas,” Ucap Yuni tersenyum. Gadis itu sangat mengerti akan kegelisahan Bram. Obrolan terus saja berlangsung antara kedua manusia yang terikat dengan kata cinta itu.


***** 


Di rumah Rangga, Arsi yang beberapa hari belakangan ini sibuk membuat perutnya sering merasa kram. dan malam ini kembali perutnya mengalami kontraksi hebat. Rangga yang baru saja memasuki kamar langsung di buat panik karena istrinya terus merintih sambil mengusap perutnya. 


Rangga yang sudah lama tidak menghadapi istri melahirkan, sungguh membuatnya blank. Waktu kelahiran yang masih satu bulan lagi menurut perkiraan membuat mereka belum menyiapkan perlengkapan bayi yang siap diangkut. 


“Maaass … sshhh, Sa-sakit mas … apa ini pertanda mau melahirkan ya mas?” tanya Arsi dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Rangga dengan cepat memanggil kedua orang tuanya dan memanggil semua asisten rumah tangganya untuk membantu menyiapkan semua perlengkapan Ngarsinah.


“Sabar sayang, bala bantuan akan datang. Mana yang sakit sayang?” Ucap Rangga yang mulai kacau tata bahasanya. 


“Kita nggak lagi perang maaasss, ssshhh … aadduuuhhh mas sakiiiit!” Teriak Arsi yang tidak terasa air matanya menetes karena menahan sakit. 


“Aku pijetin ya sayang pinggangnya,” ucap Rangga yang tidak kalah bingung. Para asisten rumah tangga ikutan panik menyiapkan apa saja yang dibawa. Ningsih dan Boby sudah datang, melihat sang menantu sudah pucat dengan kesal Boby membentak Rangga.


“Aaaawwwww … maaaass Ranggaaaa!” teriak Arsi dan langsung menangkap tangan Rangga, wanita cantik itu mencengkram tangan suaminya dan entah seberapa kuat dia melakukan itu sehingga Rangga hanya bisa meringis. 


“Ma-maaf sayang … aku nggak sengaja, lagian papa kenapa ngagetin pake marah gitu sih. A-air ma! itu airnya banyak keluar ….” Ucap Rangga dengan terbata dan bingung. Ningsih melihat hal itu dan meminta Rangga segera membawa Ngarsinah ke mobil. 


Karena perut yang sangat besar membuat Ngarsinah kesulitan jalan. ketuban telah pecah dan itu artinya Ngarsinah sudah siap melahirkan walau waktunya belum tiba. Rangga sudah duduk di belakang kemudi dan Boby menemaninya duduk di depan. Ningsih menemani Ngarsinah duduk di bangku belakang. 


“Sabar ya nak, ambil nafas dalam-dalam sayang … Huuuu haaaa, Huuuu haaa.” Ucap Ningsih berusaha menenangkan Ngasinah. Ngarsinah berusaha mempraktekkan apa yang diarahkan Ningsih. 


“Huuu haaa, Huuu haaa … Heeekkk, Allahu Akbar!” Tiba-tiba Ngarsinah mengejan dan itu tidak dia rencanakan karena terjadi begitu saja seolah ada dorongan dari dalam perutnya. 


“Cepat Ranggaaa! kenapa jalan mu seperti kura-kura! Arsi sudah mengejan!” Teriak Ningsih dan membuat Rangga semakin panik, dengan reflek pria itu menginjak gasnya dan mobil pun langsung melesat. Boby hanya bisa berpegangan dan tidak bisa berpikir apa-apa lagi. 

__ADS_1


“Pa, tolong telpon rumah sakit dan segera siapkan ruang bersalin untuk Arsi.” Ucap Rangga sambil melempar ponselnya ke arah Boby tanpa sopan santun lagi. Dengan cepat ayah satu anak itu melakukan perintah putranya. Selesai menghubungi rumah sakit, ponsel Rangga kembali berbunyi dan itu dari Tomi Asistennya. 


“Jangan hubungi aku sekarang Tom, Istriku mau melahirkan!” 


Tuut tuuut


Dengan tanpa aturan lagi dengan cepat Rangga menjawab panggilan sahabat merangkap asistennya itu, tanpa mendengar dulu berita apa yang akan disampaikan oleh asistennya. 


Kriiing


Kriiing


“Astaghfirllah apa lagi sih Tomi ini.” Gerutu Rangga.


“Aaaawwww Sakiiiittt … Cepaatt Maaaass, Sssshhh!” Teriak Arsi memuat Rangga semakin panik dan dengan cepat pria itu melempar ponselnya kebelakang. Nasib baik Ningsih dengan sigap menghindar dan ponsel itu pun mendarat di bagasi belakang dengan sangat manis. 


“Sabar sayang sebentar lagi kita sampai. Aaawwww!” Teriak Rangga yang kini rambutnya di jambak Arsi demi menyalurkan rasa sakit yang kini dia rasakan. 


“Heeeeekkk … Mama … ini mau keluar!”


❤️❤️❤️


Jangan sampe lahiran di jalan ya Arsi... author ikutan tegang ini sambil nulis 😰🥶🤕


Yuukk Like, komen, vote dan hadiah ya, tengkyyuuhh pemirsaaahh.


❤️❤️❤️😰🥶🤕🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2