
Mobil mewah rangga melaju kencang membelah jalanan yang mulai berkurang kemacetannya, kedua anaknya kini sudah berhenti menangis Tubuh Ngarsinah yang duduk di bangku depan dengan sandaran kursi yang direbahkan dan bangku penumpang yang disetel mundur membuat kaki jenjangnya bisa nyaman.
Mobil memasuki halaman rumah sakit dan langsung berhenti di depan UGD. Dengan teriakan yang membuat para perawat disana kaget, dan dengan cepat mengambil Brankar untuk menjemput pasien.
“Dokter tolong lakukan yang terbaik, dan tolong juga selamatkan nyawanya,” pinta Rangga dengan raut wajah khawatir. Pakaiannya ikut terkena darah Ngarsinah karena dia tadi menggendong tubuh gadis itu. Si kembar menyusul ayah dan dengan raut wajah sedih kedua bocah itu menuju kursi tunggu. Mereka berdua hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Rangga masih mondar mandir karena resah yang melanda, sampai-sampai duda beranak dua itu lupa akan keberadaan anak-anaknya.
“Pak, maaf tolong mobilnya di parkir yang bener, karena akan menghalangi ketika ada ambulan atau mobil lain yang membawa pasien." Ucapan satpam rumah sakit itu membuyarkan lamunan Rangga.
"Iya pak,terimakasih sudah mengingatkan saya." Jawab Rangga dengan senyum ramah yang dipaksakan. Pikiran pria beranak dua itu tidak lepas dari Ngarsinah yang sudah satu jam lebih masih belum juga ada kabar.
"Kakak, dedek,kalian tunggu disini ya, papa mau markirin mobil kesana." Pinta Rangga dengan jari telunjuknya mengarah ke sebuah area parkir yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang. Rangga berkata lembut kepada anak-anaknya yang hanya dijawab dengan anggukan lesu oleh si kembar.
Tidak ada pembicaraan apapun di antara Arya dan Arista, mereka berdua sama-sama memandang satu titik dengan tatapan kosong. Rangga sudah kembali dari memarkirkan mobilnya, tidak lupa sang papa membelikan air minum mineral dan beberapa cemilan di kantin yang ada di dekat area parkir tersebut. Melihat kedua malaikat kecilnya itu masih bermuram durja, hati sang ayah pun merasa sedih dan berpikir bagaimana membuat kedua anak itu tidak lagi seperti saat ini.
Tapi buntu, dia sangat tahu kalau sekarang anak-anaknya sedang memikirkan wanita yang baru beberapa masa ini membuat hidup mereka kembali merasakan kasih sayang tulus seorang ibu. Dengan lesu pria dewasa itu duduk di sebelah Arista. Rangga tidak ingin menyerah, pria dewasa yang tampan itu sangat menyadari saat ini kedua anaknya sedang marah dan kesal kepadanya, karena Betty.
"Dedek, kakak, mau minum?" Tanya Rangga dengan takut-takut, bayangan kejadian tadi sangat membuat pikirannya kusut. Tidak ada sahutan, tapi seperti di komando kedua bocah berusia lima tahun itu menggeleng. Sebenarnya Arista haus tapi gadis kecil itu merasa hatinya sakit seperti diremas, mengingat kejadian tadi yang membuat gadis itu kesal, sang kakak juga tidak kalah kesal.
"Dek jangan diemin papa dong, kakak juga nih, kok pada kompak sih diemin papa." Rangga memohon untuk bisa berdamai dengan anak-anaknya. Disaat hatinya sedang kacau, si kembar malah bikin aksi mogok damai.
__ADS_1
Siing!
Arya menoleh dan menghujam sepasang netra sang papa bak sebilah pedang yang tajam. Rangga merinding, jantungnya berdetak keras dan ada rasa nyeri yang menggigit jantungnya. Melihat tatapan membunuh dari sang putra tercinta, pria tampan itu pun mengusap belakang lehernya yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin.
“Kami nggak mau papa dekat sama tante sihir itu!” jawab Arya dingin. Sungguh tajam ucapan Arya, putranya itu memang hemat dalam berkata-kata, tapi sekali bicara dia mampu membuat musuhnya tidak berkutik.
"Kakak, boleh papa minta waktu untuk menjelaskan yang kalian lihat tadi sore?" Tanya Rangga hati-hati. Pria penyayang keluarga itu berharap bisa menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi kepada anak-anaknya.
"Tante Arsi masih belum keluar pa," jawab Arya, kalimat itu cukup dipahami oleh Rangga, sang putra tidak ingin mendengarkan apa-apa sebelum sang tante bisa dilihatnya dalam keadaan baik-baik saja.
Rangga hanya bisa tertunduk dan mengangguk kecil, pria cerdas itu sangat mengerti apa yang dimaksud oleh sang putra. Tiga orang beda generasi itu duduk terdiam dengan pikirannya masing-masing. Arista mulai terasa kering tenggorokannya, gadis itu tampak gelisah, ingin mengambil minum yang tadi di tawarkan sang papa, tapi gadis kecil itu merasa gengsi.
Rangga tersenyum dengan memalingkan wajahnya, lucu sekali kedua anaknya ini, gemas rasanya Rangga ingin memeluk mereka dan mengejek apa yang barusan Arista dan Arya lakukan barusan. tapi keadaan sekarang tidak memungkinkan.
Ceklek!
Pintu ruangan UGD terbuka, seorang perawat keluar dari ruangan. “Keluarga nyonya Ngarsinah,” panggil perawat itu dengan suara yang sangat jelas didengar oleh Rangga dan kedua bocah kembar. Rangga dengan sigap berdiri dan berlari kecil mendatangi sumber suara.
“Saya suster, bagaimana keada–” belum selesai Rangga bicara Suster yang terlihat terburu-buru itu langsung memotong kalimat Rangga.
__ADS_1
“Istri anda kritis pak, silahkan temui dokter Agnes di ruangannya,” jawab Suster yang bernama Susan, tertera di papan nama yang ada di dada kirinya. Suster yang berwajah datar itu menunjukkan ruangan yang di depan pintunya bertuliskan nama Dr. Agnes.
“Terimakasih dokter,” Rangga tidak ingin membuang waktu, dan langsung berlari menuju ke ruangan yang ditunjukkan, perawat tersebut hanya mengangguk kecil tanpa senyuman, dan kembali masuk kedalam ruangan yang didalamnya ada Ngarsinah yang sedang berada di ambang hidup dan mati.
“Ya Allah, aku sampai lupa, kakak, dedek ayo ikut papa,” panggilnya kepada kedua bocah yang masih setia menunggu di bangku yang tadi mereka tempati. Arista dan Arya melompat tulun dan berlari dengan cepat mendekati sang papa, Rangga yang tadinya sempat lupa bahwa ada kedua anaknya disitu, dengan segera mengajak mereka untuk masuk keruangan dokter yang tadi menangani Ngarsinah.
Setelah bertegur sapa dengan perasaan yang tak karuan, Rangga tidak sabar menunggu jawaban dari sang dokter. Kedua bocah itu masih tetap setia mengunci bibir mereka, tidak hanya terhadap Rangga, kepada dokter yang ada di hadapan mereka pun si kembar tetap diam tapi menyimak dan memperhatikan.
“Istri anda mengalami kehilangan banyak darah, dan kepala bagian belakang mengalami pendarahan hebat. Benturan yang terjadi tidak hanya karena membentur lantai, tapi sempat membentur benda lainnya yang mengakibatkan luka dalam di tengkorak bagian belakang. Keadaan istri anda saat ini masih kritis, dan setelah sadar nanti baru saja bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.” Sang dokter yang sudah tidak muda lagi tapi masih cantik itu menjelaskan panjang lebar tentang keadaan Ngarsinah yang membuat dada Rangga sesak.
“Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk Arsi, apapun itu, berjanjilah kepada saya bahwa anda akan mengobatinya dan membuatnya kembali kepada kami,” pinta Rangga dengan mata yang sudah memanas dan mulai mengembun. Pria itu sangat terpukul dengan apa yang terjadi.
Arista yang mendengarkan itu dengan pemahaman yang berbeda, gadis itu merasa bersalah dengan apa yang dialami oleh Arsi saat ini. Tubuh gadis kecil yang berada di pangkuan sang papa itu bergetar halus, matanya sudah menyumber cairan bening yang tidak perlu diperintah sudah luruh duluan.
“Mama, ini salah dedek, bangun ma … bangun ma!”
❤️❤️❤️
Yang sabar ya dedek, kita semua ikut mendoakan mama Arsi kok.
__ADS_1
Yuukk jempolnya, kalo ikutan mewek jangan lupa jempol, komen, vote dan hadiaah nya ya saayy. Otor mau nangis dulu ya, tengkyuuhh pemirsa ❤️❤️🌹