Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 122: Berduka


__ADS_3

Arsi memaksa untuk pulang dan di rawat dirumah, kini wanita itu masih belum mau beranjak dari makam sang putra. Rangga dengan setia mendampingi sang istri, mata sembab pasangan suami istri itu masih saja mengeluarkan air mata.  


“Sayang, ayo kita pulang. Anak-anak nyariin mama nya,” Ucap Rangga lirih. Sengaja dia mengatakan anak-anak mencarinya, Rangga ingin Arsi tersadar dari keterpurukannya, Rangga tidak ingin Arsi melupakan dua bayi yang sangat membutuhkan dirinya. 


Ngarsinah menoleh dan kedua mata sembabnya tidak mengartikan apa-apa, di sana seperti ruangan kosong yang gelap. Ngarsinah berdiri dan mengangguk, wajahnya datar dan sesaat Rangga merasa takut dengan perubahan sikap Ngarisinah saat ini. 


Wanita itu tidak histeris dan tidak terlihat mengamuk, tapi dia seperti mayat hidup yang tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Rangga tersenyum dan dengan setia berjalan di belakangnya saat melewati makam-makam yang ada di sekitar makam putranya.  


Sesampai di rumah, Arsi berjalan dengan tatapan kosong dan tidak ada sedikitpun senyum di bibirnya. Ningsih yang mengerti akan hal itu, semakin merasakan kesedihan yang sangat dalam. Arsi masih belum bisa melupakan anaknya yang kini sudah berada di alam keabadian. 


“Arsi anak-anak ada di kamarnya,” Ucap Rangga saat mereka sampai di rumah yang masih ramai dengan keluarga dan tetangga yang turut merasakan duka di keluarga yang baru saja merayakan kebahagiaan. Bahagia dan derita datang dalam waktu yang bersamaan, Rangga hanya bisa mengikuti langkah kaki Ngarsinah, saat suaminya berusaha menanyakan tentang ini dan itu agar pikiran wanita itu tetap jernih dan bisa bersikap bijak dan ikhlas. 


“Iya mas,” Sahut Ngarsinah dan terus saja berjalan menuju kamar ke dua anaknya. Para tamu dan keluarga yang hadir tidak sama sekali disapa oleh wanita yang kini menyandang status ibu empat anak itu. Ningsih mengambil peran untuk membuat para tamunya tidak salah paham. 


“Maaf ya ibu-ibu, Arsi masih belum bisa melupakan anaknya. Mohon dimaklumi sikapnya tadi ya,” ucap Ningsih dengan senyum kecut menghiasi wajah cantiknya. 


“O … iya bu nggak papa, kalau saya ada di posisi mbak Arsi pasti akan merasakan hal yang sama. Semoga mbak Arsi segera ikhlas ya bu,” Sahut ibu RT yang sedari tadi ikut sibuk membantu Ningsih menjamu para pelayat yang datang. 


Di kamar bayi, sudah ada si kembar senior, Arya dan Arista. Mereka tampak bahagia bermain dengan adik-adik barunya. Dasar anak-anak tidak mengerti akan kesedihan orang tuanya, dan mereka pun belum menyadari kalau adiknya kurang satu. Rangga masih dengan setia mengekor di belakang tubuh gontai istrinya. 


Ceklek!

__ADS_1


“Mama, tadi dedek Boy bangun terus nangis ….” ucap Arista mengadu kepada Arsi. Suster yang menjaga si kembar mengangguk hormat, tetapi hanya menatap sekelilingnya dengan pandangan kosong. Wanita itu merasakan sesak di dadanya melihat kedua anaknya tertidur pulas. 


“Ma, kenapa nangis?” Tanya Arya yang bingung dan menggandeng tangan sang mama untuk mendekati kedua adiknya. Ngarsinah mengikut tapi kini terisak pilu. 


“Papa, mama kok diem aja sih? Emang mama nggak suka ya sama dedek boy dan dedek girl?” Tanya Arista polos. Mereka belum memberikan nama untuk si kembar. 


“Mama masih sedih sayang, tapi mama tetap seneng kok dengan kelahiran adik-adik kalian. Sayang … ayo duduk sini.” Rangga dengan telaten dan sabar menghadapi Arsi yang kini sudah berhenti menangis. Sesaat Arsi memejamkan matanya untuk membuat hatinya tenang, di titik kesadarannya wanita itu sangat sadar kalau kini keempat anaknya sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Suasana yang seharusnya bahagia kini berubah menjadi duka lara. 


Arsi membuka kedua matanya dan dia melihat kedua malaikat kecilnya kini duduk di samping kanan dan kirinya dengan tatapan tidak mengerti. Arsi berusaha keras untuk tersenyum dan merangkul kedua anak sambung yang terasa seperti anak kandung baginya.


“Maafin mama ya sayang, sudah bikin kalian khawatir. Mama sangat bahagia dengan kehadiran si kembar, kalian senang?” Tanya Ngarsinah dengan wajah yang kini tampak kembali berseri. Kedua anak polosnya itu hanya serentak memeluk sang mama, ada rasa hangat yang menjalari hatinya dan akhirnya Ngarsinahpun membalas pelukan si kembar senior. 


‘Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah, hamba sudah mengingkari nikmat mu. Aku terlalu larut dalam kesedihanku akan berpulangnya putra kami tercinta, sampai hamba lupa engkau memberikan 4 malaikat kecil untuk aku jaga dan aku sayangi. Hamba ikhlas ya Allah, Engkaulah sang pemilik kehidupan dan Engkau pula yang berhak mengambilnya. Aku akan menjaga dan merawat serta mendidik amanah paling membahagiakan ini ya Allah, ampunilah aku atas khilafku.’ Doa Ngarsinah yang hanya bisa dia suarakan dalam hati dan menghayati tiap kalimat taubat yang dia ucapkan. 


“Aku ikut mas Rangga aja deh, pastinya mas udah nyiapin jauh-jauh hari kan?” Tanya Ngarsinah dan dijawab dengan anggukan oleh Rangga yang kini tersenyum bahagia. 


“Aku berencana memberikan namanya Alino dan Alina. Bagaimana menurutmu sayang?” Tanya Rangga. Arsi tersenyum bahagia, nama yang cantik dan keren.


Oweeekkk … oweeekkk!


Si kembar junior terbangun dan karena suara Alino yang berisik, membuat Alino terusik, dan tanpa di komando si bayi cantik itu pun ikutan nangis. Kamar yang tadinya penuh haru dan kesedihan kini berubah menjadi keceriaan. Ngarsinah masih belajar menyusui dan Rangga meminta bidan untuk standby merawat sang istri serta memberikan pencerahan tentang apa-apa yang masih belum diketahui. 

__ADS_1


Ngarsinah belum punya pengalaman sedikitpun dalam merawat bayi, apalagi ini kembar dan hal itu membuat Ngarsinah bisa melupakan duka laranya karena ditinggal berpulang oleh sang putra bungsu yang saat meninggal masih belum sempat diberi nama. 


“Mama, sekarang jangan panggil Dedek lagi sama Arista ya, karena sekarang Arista sudah naik pangkat!” Ucap Arista riang. Gadis itu sudah tidak sabar untuk menyandang status kakak, dia akan memamerkan adik-adiknya kepada teman-teman sekolahnya. Cintiya pun sudah ada dalam daftarnya untuk kabar bahagia ini. 


“Duuuhh yang udah naik pangkat … Emang mau dipanggil apa ni anak papa?” Sahut Rangga menggoda sang putri tercinta.


“Hmmm … Kakak Ita. dan Kakak Arya. Gimana ma, pa?” Tanya si cerewet yang merasa idenya cukup cemerlang. Arya tampak menautkan kedua alisnya, tanda bocah kecil itu sedang berpikir keras. 


“Jangan panggil kakak Arya, gak mau!” Seru Arya yang membuat mereka bertiga menatap ke bocah taman itu. 


“Kakak Boy,” Jawab Arya dengan senyum paling tampan yang dia berikan dan kepala yang sedikit diangkat serta alis yang dia naik turunkan.


❤️❤️❤️


Author gak bisa ngomong apa2 lagi, bravo Arsi, kamu memang mama idaman.


Yuuukk like, komen, vote dan hadiah ya pemirsaaahh..


Jangan lupa mampir ke karya baru author.


PASHMINA UNTUK KUPU-KUPU. tengkyuuuhh pemirsaaahhh...

__ADS_1


❤️❤️❤️👶👶👶🌹🌹🌹


__ADS_2