Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 76: Novi & Arsi


__ADS_3

"Arsi?" cicit Novi dan menghentikan langkahnya, wanita itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, sontak antrian yang mengular itu berhenti. David yang juga terkejut dengan apa yang dilihatnya berusaha untuk mengendalikan diri. 


“Ayo, cepatlah jalan, orang-orang di belakang banyak yang ngantri. Kendalikan dirimu Nov,” ucap David lirih, pria itu mengencangkan genggaman tangannya. Telapak tangan Novi terasa dingin, kembali bayangan dimana dia ingin menjatuhkan Ngarsinah saat di restoran beberapa hari yang lalu, kembali menyeruak di pikirannya. 


Saat bersalaman dengan Rangga, Novi mengulurkan tangannya dengan senyum canggung yang menghiasi bibirnya, Rangga yang menyadari itu langsung menangkupkan kedua tangannya dan membiarkan tangan Novi menggantung di udara. 


“Terimakasih pak, bu, kalian sudah mau datang ke acara pernikahan kami,” Ucap Rangga ramah kepada David dan Novi, ketika David yang mengulurkan tangan, Rangga menyambutnya dengan sopan. 


Mempelai pria itu tahu mantan suami istrinya itu seperti apa, tapi dia berusaha tidak kenal, dan sepertinya David masih belum menyadari akan hal itu. 


“Selamat pak Rangga untuk pernikahannya, dan saya akan tetap menantikan dia untuk bisa kembali kepada saya,” ucap David lirih saat tubuhnya yang mendekat ke arah Rangga. Mendengar ucapan yang tidak biasa itu, Rangga tidak ingin terlihat berubah air mukanya, pria itu tetap mengembangkan senyum yang seolah tidak terjadi apa-apa.


“Terimakasih pak, berlian yang sudah dibuang jangan dipungut lagi, karena Berlian itu kini sudah berada pada mahkota saya.”


Balasan Rangga tetap dengan wajah yang ramah, dia sangat paham dengan apa yang sedang terjadi, Novi tidak bisa mendengar pembicaraan singkat kedua pria itu, karena saat ini dia sedang berhadapan dengan Ngarsinah yang nampak cantik dalam pandangannya. 


“Selamat ya Arsi, aku akui jeratmu luar biasa, bukan ikan teri yang di dapat tapi paus. Jangan senang dulu say, dia akan membuangmu saat kau tidak bisa memberikannya keturunan,” bisik Novi saat cipika cipiki dengan pengantin wanita itu. Ngarsinah yang sudah siap dengan mulut pedas Novi hanya tersenyum cantik dan tidak terpengaruh sama sekali dengan apa yang wanita ular itu katakan.


“Terimakasih doanya Novi, semoga kamu selalu bahagia,” jawaban singkat Ngarsinah membuat Novi kesal, entah kenapa wanita cantik yang kini sedang berbahagia itu tidak terpancing sama sekali dengan kalimatnya yang menyakitkan itu. 

__ADS_1


“Oh tentu, aku sangat bahagia dengan suami tampanku, dan akan lebih bahagia lagi saat nanti aku mendengar kejatuhanmu. Aku tidak sabar menunggunya say,” Ucap Novi yang melanjutkan aksi cipika cipiki dengan memeluk pengantin, persis seperti teman lama yang baru saja berjumpa.


“Aku sudah kau rendahkan, bagaimana aku bisa terjatuh, yang diatas harusnya waspada karena berpotensi akan jatuh say. Makasih ya udah mau datang,” balas Ngarsinah dengan mengurai pelukan mantan sahabatnya itu.


Theo yang di temani Arista ikut menyalami sepasang pengantin itu, gadis kecil itu bersikap layaknya seorang tamu yang datang dengan kekasihnya. Rangga yang melihat hal itu terbelalak kaget, bagaimana putrinya bisa seagresif itu, bergandengan tangan dengan bocah kecil seusianya yang terlihat tampan.


“Selamat ya uncle, aunty, semoga selalu bahagia. Ayo Arista aku pulang dulu ya,” pamit Theo kepada teman kecilnya yang sangat ramah itu. Arista menahan tangan Theo dan mengatakan sesuatu dengan tidak memikirkan banyak orang yang sedang mengantri di belakang mereka. 


“Theo, nanti kalo kita sudah besar, jadi pengantin juga ya?” tanya Arista polos dan di sahuti senyuman tampan dari seorang Theo. Terlihat bocah cilik itu memang lebih dewasa dari usianya, hal itu bisa dilihat oleh Rangga dari raut wajah dan sorot matanya. 


“Iya nanti kita akan seperti papa dan mamamu,” ucapnya singkat, Rangga yang melihat romantisme versi anak bawang itu langsung menepuk jidatnya, kenapa dengan putri kecilnya itu? Sungguh membuat sang ayah dan bundanya malu namun tidak berdaya. 


Geeerrrrr!


“Mas, si dedek ada-ada aja deh,” ucap Ngarsinah di sela-sela dirinya yang sambil terus menyalami para tamu dan mengucapkan terimakasih. Rangga yang mendengar suara bisik-bisik dari istrinya tersenyum kecut, pria tampan itu menaikkan kedua bahunya dan saat memiliki kesempatan dia pun merapatkan bibirnya ke telinga sang istri.


Anak gadis kita nampaknya akan cepat dewasa,” ucap Rangga singkat, mencuri waktu dan kesempatan, para tamu masih terus mengantri dan semakin mengular. beberapa kali pengantin itu harus rela untuk meluangkan waktu hanya untuk berfoto. 


Acara demi acara kini sampailah pada acara puncak dimana semua tamu sudah banyak yang kembali pulang kerumahnya masing-masing. Ngarsinah yang tampak lelah meminta izin kepada suaminya untuk lebih dulu istirahat, namun Rangga tidak ingin melepaskan sang istri. 

__ADS_1


“Sudah kalian langsung saja istirahat, biar nanti si kembar mama dan papa yang urus, biarin mereka main dulu sampe capek. Sebentar lagi juga bakalan ngantuk, hihihi,” titah Ningsih yang sudah paham akan perubahan wajah sang putra, mereka bukan pengantin baru, sebagai pengantin baru yang berpengalaman pastinya kedua insan itu akan segera menunaikan hak dan kewajibannya. Itulah yang ada dalam pikirann Ningsih. 


“Iya ma, kami duluan ya ma,” jawab Rangga bersemangat, penat yang tadi sudah bersarang di kedua kakinya kini menguap tiba-tiba. Dengan semangat pria itu menggandeng tangan sang istri untuk segera meninggalkan pelaminan. 


Sampai di kamar, aura canggung segera menyelimuti mereka berdua, tidak ada yang membuka pembicaraan, kamar luas dan mewah itu mendadak senyap. 


Ngarsinah membuka heelsnya dan meletakkan pada tempatnya, karena tadi dia sudah pernah membuka hijab di depan suaminya, kini dia pun melakukannya  dengan tidak merasa sungkan. wanita cantik itu duduk depan meja rias dan mulai melepaskan satu persatu hiasan yang menempel pada hijab cantiknya. 


Rangga yang mengetahui istrinya akan lama untuk membersihkan riasannya, dengan cepat pria itu melesat ke dalam kamar mandi mewah itu untuk membersihkan diri. 


“Kenapa dia buru-buru mandi? huuff dasar laki-laki tidak punya perasaan, main tinggal aja, bukannya bantuin ngelepasin banyaknya jarum pentul di kerudung ini. Ihh susah banget sih,” gerutu Ngarsinah yang sudah pasti tidak akan mendapatkan jawaban ataupun tanggapan, satu-satunya yang dia lihat hanya pantulan dirinya di cermin. 


Ceklek!


“Sayang, aku udah mandi, udah wangi, udah seger!” seru Rangga dengan tidak peduli dengan keadaan istrinya yang masih saja berkutat dengan kerudung yang ternyata sangat rumit sekali, wanita itu sudah menekuk wajahnya karena merasa kedua tangan ramping itu pegal tidak karuan. 


“Mas, kok malah seneng-seneng sendiri sih, bukannya bantuin aku!”  


❤️❤️❤️

__ADS_1


Waahh Rangga bener-bener ya, jadi gemeess deh liat si manyan duda itu 😆😤


Yukk pemirsaahh boom like, komen, vote dan hadiiiaahh nya ya... tengkyuuhh pemirsaaahh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹


__ADS_2