Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 84: Janda Satu Anak


__ADS_3

"Aku mau makan disini, soto ayamnya satu ya Fat," pesan David, pria itu menunggu soti yang di buatkan dan kembali teringat akan pertemuan singkatnya. 


Flashback on


Fatim yang terjatuh karena kesandung kayu membuat kantong belanjaannya terlepas dari genggaman dan isinya terhambur kesana kemari, seorang bocah kecil berusaha membantu ibunya berdiri dengan susah payah. 


"Ayo ma, Jay bantu, haap …" tangan mungil bocah kecil itu dengan cekatan membantu sang mama walau badannya terhuyung dan tubuh sang mama belum juga bisa bangun karena rasa nyeri yang mendera di bagian engsel kakinya. 


David yang melihat hal itu langsung menepikan mobilnya dan menyusul kedua manusia beda generasi itu. Tanpa meminta persetujuan pria tampan itu dengan cepat mengangkat tubuh Fatim yang terduduk dan berusaha keras untuk berdiri.


"Mari saya bantu bu, nak kamu tolong bawa kantong belanjanya bisa?" Ucap David bersamaan dengan tangannya yang mengangkat tubuh ramping Fatim. 


"Huuufff, terima kasih pak, maaf jadi merepotkan anda. Sa-saya bisa kok jalan sendiri pak," ucap Fatim dengan berusaha menahan nafas demi merasakan sakit yang luar biasa. 


"Mari saya antar, ibu mau kemana?" Tanya David yang tidak menghiraukan ucapan wanita itu, karena jika David lepaskan pegangan tangannya bisa-bisa Fatim akan kembali jatuh. 


"Aaawwww, ssssshhh … ba-baiklah, bisakah bapak tolong antarkan saya ke warung? Disana ada kok yang bisa mijet kaki keseleo," kembali Fatim merintih kesakitan dengan suara yang tertahan karena kakinya menjejak tanah, dengan cepat wanita itu mengangkat kembali kakinya yang terkilir. 


"Baiklah, mari saya bantu," dengan tanpa rasa segan David menggendong Fatim yang sangat kesulitan berjalan, dan hal itu membuat wanita itu terkejut dan berteriak. Dengan cepat tangannya melingkar ke leher kokoh David. 


"Nak, ayo ikut, tolong buka pintu depan ya, dan kamu masuklah kedalam."


Titah David lembut dan senyum yang ramah, bocah kecil berwajah imut itu menurut, tangan mungilnya membuka pintu depan bagian penumpang dan dia pun membuka pintu belakang lalu masuk dan duduk dengan tenang.


Mereka berdua sama sekali tidak ada rasa curiga kepada David, menurut dan tidak banyak bicara. David memutari setengah badan mobil dan membuka pintu lalu mulai menyalakan mobil hitam itu. 

__ADS_1


Perjalanan tidak terlalu jauh, namun jika ditempuh dengan jalan kaki akan lumayan membakar banyak kalori, David, fatim dan Jay saling berkenalan. Mereka bertiga nampak saling akrab dan hal ini membuat pria itu merasa bahagia. 


Jay yang mudah akrab nampak senang saat bercanda dengan David. Pertemuan sederhana yang tidak disengaja itu membuat dunia David mulai berubah, muncullah ide untuk mendekati wanita itu setelah dia mengetahui kalau Fatim janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya dua tahun yang lalu. 


Flashback Off


"Mas, jangan ngelamun, ini sotonya," ujar Fatim dengan tersenyum manis, jalannya yang masih sedikit pincang membuat wanita itu agak kesulitan membawakan pesanan pelanggan. 


"Eh iya, makasih ya Fat, aku makan dulu." Sahut David yang tergugup karena ketahuan melamun. Warung sudah mau tutup, David sengaja menunggu Fatim berkemas. Entah apa yang membuat pria bule itu mengambil keputusan tergesa-gesa untuk mendekati janda satu anak itu. 


Fatim yang menyadari David menunggunya, mempercepat penutupan warung. Dua orang pekerja yang setiap hari membantu sudah berpamitan dengan Fatim dan tidak lupa membawa beberapa lauk pauk seperti biasa. 


Setelah dirasa nyaman, Fatim mengajak David mampir kerumahnya ynag ada di belakang warung, karena tidak nyaman berbicara di dalam warung yang tertutup. David mengikuti langkah wanita itu, Jay yang baru saja selesai mandi sedang bersiap untuk berangkat mengaji ke mushola di antar oleh asisten rumah tangga. 


David dan Fatim berbincang di ruang tamu, mereka yang baru saja berkenalan hari itu tampak cepat akrab dan tanpa terasa hari pun berganti malam. Sebelum Ashar David berpamitan pulang dan Fatim mengantar, sekilas ada segaris senyuman yang sulit untuk diterjemahkan.


Malam berlalu dengan cepat, para menikmat tidur kini terjaga dengan aktifitasnya masing-masing. Ngarsinah yang sedang berkemas sibuk sedari hari masih gelap, hari ini mereka berdua akan berangkat bulan madu. Meninggalkan kedua buah hatinya bukanlah hal yang mudah, kekhawatiran terus saja merongrong perasaannya mulai semalam. 


"Maa … kata suster mama mau pergi pagi ini ya?" Tanya Arista yang baru saja terjaga karena mendengar suara adzan dari masjid komplek. 


"Iya sayang, dedek dirumah sama kakak ya. Nggak lama kok sayang," ucap Ngarsinah lembut sambil mengusap surai hitam bergelombang milik putrinya. Arya yang mendengar pembicaraan mereka ikut terbangun. 


"Mama, kami iku?" Tanya Arya yang sudah mengumpulkan semua nyawanya. Bocah kecil itu mengerjap lucu dan pertanyaan itu tentu saja membuat sang mama sambung jadi berpikir lagi untuk pergi berbulan madu. 


"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya Rangga yang tiba-tiba masuk ke kamar si kembar, dan menyadari tatapan tak terbaca kedua anaknya, membuat pria itu dengan cepat menutup mulut.

__ADS_1


"Eh anak-anak papa sudah bangun, yuk kalian siap-siap kita kerumah nenek. Suster tolong bantu kakak dan adek ya," titah Rangga kepada suster yang biasa membantu kedua anaknya. Arista yang masih nyaman dalam pelukan sang mama mengurai pelukan dan menatap ke arah netra ibu sambungnya. 


"Mama juga ke tempat nenek? Nggak jadi jalan-jalan sama papa kan?" Tanya gadis kecil itu memastikan, otak kecilnya berpikir bahwa mereka berempat akan menginap di rumah sang nenek. 


"Sayang, nanti kakak sama dedek bobok di rumah nenek, mama dan papa keluar kota dan mungkin sampai Tiga hari. Eemmm dedek mau dibawain apa?" Bujuk Ngarsinah sebelum gadis kecilnya itu merajuk. 


"Kakak mau ikut ma," Arya membuka suara dan hal itu membuat Arsi dan Rangga saling menatap satu sama lain. Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


'Gimana mau bulan madu kalo pembukaan acaranya sudah seperti ini,' gerutu mantan duda itu yang tiba-tiba saja blank. Arista menoleh ke arah sang kakak dan sepertinya dia setuju dengan pemikiran Arya.


"Iya kak, dedek juga ikut kalo gitu, nanti kita ajak nenek sama kakek sekalian kak. Seru kak, suster juga ikut yeeeeyyy kita liburaaan!" 


Plak!


Rangga menepuk jidatnya sendiri, pria itu menatap sang istri memohon pertolongan agar anak-anaknya mau diajak kompromi dan mengerti kebutuhan penagntin baru itu.


"Dedek, kakak, gini aja kita akan liburan minggu depan kan ada tanggal merah yang berurutan tuh. Biar semua bisa ikut, ya?" bujuk Ngarsinah yang merasa idenya cukup cemerlang. Rangga tersenyum lebar karena merasa akan menang. Arya dan Arista saling pandang, tidak butuh waktu lama, gadis kecil itu turun dari ranjang dan menuju meja belajarnya.


Entah apa yang diambil gadis itu namun tiba-tiba dia mengambil kalender duduk dan mulai corat coret sambil membelakangi tiga orang dibelakangnya.


"Taraaaa ... tanggalnya sudah merah ma senen, selasa dan rabu,"


❤️❤️❤️


Kalah cemerlang ide emak dan bapaknya si kembar 🤣🤣🤣

__ADS_1


Yuukk mana jempoollnya pemirsaaahh, komen, vote dan hadiah ya. Tengkyyuuhhh ❤️❤️❤️🤣🤣🌹🌹🌹


__ADS_2