
"Maaf pak, saya sedang buru-buru kalau ada perlu bisa kita atur waktu lagi," jawab Ngarsinah yang sebenarnya sangat malas meladeni pria bule itu. David memutari setengah badan mobil sampai mendekat dan berhadapan dengan Ngarsinah.
"Arsi, tolong jangan bersikap formal begini, aku ingin minta maaf kepadamu dan …" ucap David yang merasa kali ini sangat gugup berhadapan dengan wanita kampung yang kini sudah menjelma sebagai wanita karir dan berpenampilan elegan.
"Maaf? Untuk apa pak? Anda tidak ada salah apapun, maaf pak saya harus jemput anak-anak. Silahkan bapak temui Yuni untuk atur waktu jika ingin bertemu. Maaf pak, permisi," ucap Ngarsinah setelah bertanya dengan nada mengambang dan menjelaskan bahwa tidak ada masalah dengan mereka.
"Hemm, baiklah Arsi maaf sudah mengganggu waktu mu," balas David lemah, pria tampan dengan perawakan tinggi itu pun mundur dan memberikan jalan untuk Ngarsinah masuk ke dalam mobilnya.
'Sialan! Aku nggak nyangka wanita kampung ini bisa berubah cantik dan bikin jantungku berdebar seperti ini dan gilanya, aku yang mengemis waktu sama dia, what the h***,' umpat David di dalam hati, entah seperti apa sekarang wajahnya.
Penolakan yang dilakukan Ngarsinah kepada David ternyata sempat dilihat oleh Bram yang entah kapan sudah berada di kedai kue Why A. Bram dan David memang ada janjian bertemu untuk membahas pekerjaan mereka, namun cara David mendekati Ngarsinah dan wajah datar wanita itu membuat Bram berpikir banyak tentang David.
David kembali masuk dan sedikit terkejut melihat mitra kerjanya yang sudah berdiri disitu. Sesaat pria tampan bermanik mata biru itu menarik nafas dalam dan melanjutkan langkahnya menuju meja dimana Bram sudah duduk disitu.
“Hey apa kabar?” sapa bram basa basi, pria itu sudah tidak sabar ingin tau ada urusan apa pria bule yang berstatus supplier di beberapa hotelnya dengan istri sahabatnya. Mereka bersalaman ala pria dan duduk saling berhadapan.
__ADS_1
“Baik pak, maaf membuat anda menunggu, apa anda sudah pesan?” jawab David dan bertanya sebagai pencair suasana. Pria tampan itu juga sedang berusaha keras untuk menenangkan jantungnya yang tidak kunjung reda debarannya.
“Ehem, maaf pak David apakah tadi anda ada urusan dengan bu Arsi?” tanya Bram yang sudah tidak tahan lagi menahan keponya, dia bukan tipe pria suka rumpi namun hal tadi sungguh mengusik pandangan dan pikirannya.
“Owh tadi, saya ada perlu sedikit dengan bu Arsi, tidak ada masalah pak anda jangan menatap saya seperti itu. Nampaknya beliau sedang sibuk karena mau jemput anak-anak katanya,” jawaban David dengan senyum terkembang dan tentu saja hal itu tidak bisa begitu saja diterima oleh Bram, dia cukup tau kalau David adalah mantan suami Arsi namun dia tidak menyangka kalau David masih berminat untuk berbincang dengan mantan istrinya itu.
“Ok, saya hanya ingin mengingatkan anda, jangan mengusik hidup Arsi. Rangga bukan orang yang gampang diam jika miliknya di usik,” ucap Bram dengan senyum namun tatapannya cukup tajam menghujam hingga ke jantung David. Sepertinya langkah tadi bisa saja mengundang bahaya untuk bisnis itu pun kehidupan pribadinya.
kedua pria tampan itu asyik membahas bisnis mereka dan akan membuat sebuah kerjasama saling menguntungkan antara keduanya. David merasa puas dengan pencapaian bisnisnya yang semakin meluas.
“Oya pak Bram dua hari lagi istri saya berulang tahun, dia akan mengadakan acara disini, saya harap pak Bram bersedia datang dan saya sebenarnya ingin mengundang pak Rangga. Apakah saya bisa minta tolong anda untuk mengundang beliau? Karena saya tidak punya nomor kontaknya,” ucap David sebelum mereka mengakhiri pembicaraan bisnis. Pria bule itu sangat ingin menjalin hubungan kerja di perusahaan Rangga yang sudah menggurita, dengan menjalin bisnis dengan perusahaan besar maka usaha miliknya pun akan ikut melejit.
“Owh begitu ya, baiklah pak semoga suatu hari nanti saya bisa bertemu satu meja dengan pak Rangga. Jujur saja saya ingin membangun kerjasama dengan beliau,” jawab David dengan nada yang sedikit kecewa. Pria itu kecewa dengan dirinya sendiri yang sudah salah membuang Arsi hanya karena hasil pemeriksaan dokter wanita itu mandul dan lebih memilih Novi namun sampai sekarang harapannya ingin memiliki anak pun belum juga terkabul. Saat ingin bertemu Rangga kembali David harus kecewa karena pria itu akan memadu kasih dengan mantan istrinya.
‘Arsi, apakah kamu bahagia bersama pria itu? apakah dia tau kalau kamu mandul? jika suatu hari nanti dia membuangmu, aku ingin kembali padamu,’ gumam David dalam hatinya. Pria itu seperti mengalami jatuh cinta lagi dengan wanita yang kini semakin cemerlang itu, bisnis yang dibangun Arsi semakin berkembang dan ternyata hal ini yang tidak dia sadari dulu saat masih menjadi suami wanita kampung itu.
__ADS_1
Sesaat mereka menghabiskan pesanan dan saling berpamitan. David keluar lebih dulu, sementar Bram masih ingin bertemu sang calon istri di kedai Why A. Pria tampan itu masuk kedalam kedai dan sudah dilihatnya Yuni yang menunggu kedatangannya.
“Mas, mau sekalian makan siang disini?” tanya Yuni dengan senyum yang terus menghiasi wajah cantiknya. Bram yang melihat itu semakin jatuh hati dengan wanita yang mampu menggetarkan hatinya.
“Kamu masak apa dek?” tanya Bram dengan wajah yang tak kalah berseri, pria itu merasa sudah sangat lapar, karena tadi dia hanya memesan minuman dan makanan kecil sebagai teman bicara dengan David.
“Masak sayur lodeh, ayam goreng sama teman-temannya, mas masuk gih tu sudah siap di meja makan.” ajak Yuni kepada Bram yang sekarang memang sudah jadi langganan tetap makan siang di situ. Tidak perlu ditawari sampai dua kali, pria itu langsung menuju meja makan seperti biasanya.
"Dek, aku tadi di undang sama pak David ke acara ulang tahun istrinya disini, katanya dua hari lagi ya?" Tanya Bram yang sudah selesai mencuci tangan di wastafel, sementara Yuni dengan telaten mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk calon suaminya. Beberapa karyawan yang berseliweran mengangguk hormat kepada Bram yang sudah sangat mereka kenal.
"Iya mas, Novi kan? Eh tau nggak tadi ada hal seru disini mas. Bininya si bule itu ternyata nggak tau kalo Arsi yang punya kedai ini, jadilah dia anggap Arsi karyawan biasa dan mak lampir itu menghina Arsi," jawab Yuni dan langsung saja mode rumpi nya aktif, sementara Bram yang mendengar nampak serius menyimak lalu berakhir dengan tawa yang berderai karena membayangkan apa yang tadi terjadi.
"Terus, digampar gak dia sama Arsi, dek?"
❤️❤️❤️
__ADS_1
Ternyata si bebeb Bram hoby ngerumpi juga yak 🤣🤣🤣
Yuukk langsung jempooll diangkat semua yuk, komen, vote dan hadiahnya yaa pemirsaahh, tengkyuuuhh ❤️❤️❤️🤭🌹🌹🌹