
"Fat …."
David memasuki ruangan Fatim dengan wajah datar, tatapannya kini terkunci pada Arsi. Wanita itu cepat mengalihkan pandangannya, entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak.
"Sejak kapan disini Arsi?" Tanya David canggung. Pria itu merasa canggung saat melihat Ngarsinah, padahal sebelum-sebelumnya mereka sudah sangat akrab.
"Sudah lumayan, emm David … sebaiknya aku pamitan sekarang. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan, Fatim aku pamit dulu. Kabari aku ya," ucap Ngarsinah dengan sedikit memberi penekanan pada kalimat terakhir.
Fatim mengerti dengan situasinya, dia pun mengangguk dan tersenyum ke arah Arsi. Obrolan mereka tadi sudah bisa membuat Fatim merasa lebih baik, tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Takdir apapun kini sudah siap dia hadapi, itulah yang ada di benak Fatim.
"Hati-hati di jalan Arsi, terimakasih sudah datang kesini."
David berbasa basi, sambil mengantar Arsi ke arah pintu. Wanita itu tersenyum ramah, entah kenapa saat ini perasaannya sedang tidak nyaman dengan David.
"Sama-sama, tolong kabari aku jika Fatim sudah bisa pulang. Oya aku ingin mengajak Jay menginap dirumah boleh?" Tanya Ngarsinah yang tiba-tiba mendapat ide.
David sedikit mengerutkan keningnya, tapi karena mereka sudah seperti saudara, pria itu tidak merasa keberatan dengan ide Arsi.
"Ya … tidak masalah, dia ada dirumah dan kebetulan ini sedang libur. Kamu mau menjemputnya?" Tanya David.
"Ya sekalian aku akan menjemputnya, Arya sudah menunggu Jay untuk bermain. Aku permisi dulu David, Assalamualaikum."
Arsi pun berlalu, David menjawab salam dari Arsi dengan suara yang lirih. Kini pria itu sudah kembali dan tidak lupa menutup pintu. Fatim sedang memejamkan kedua matanya, bukan karena mengantuk, dia hanya ingin memantapkan hati.
__ADS_1
"Fatim, apakah kamu sedang tidur?" Tanya David. Pria itu yakin kalau istrinya belum tertidur, tapi dia harus bertanya dulu untuk memastikan.
"Belum mas, aku hanya sedikit lelah. Kamu dari mana tadi?" Tanya Fatim memberanikan diri. David menarik nafasnya pelan, dirinya mengambil posisi duduk di kursi yang tersedia.
"Dari taman, apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya David. Sesaat Fatim merasa senang karena David masih perhatian dengannya, tapi entah kenapa perasaannya sekarang sedikit resah.
"Masih terasa sakit mas, maafkan aku … aku sudah membuatmu kecewa. Aku–" ucapan Fatim terputus karena tangan David terangkat. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun, hal itu membuat hati Fatim semakin kecut.
"Tidak usah dibahas, aku tidak apa-apa. Jangan dibahas lagi, mungkin inilah murka Tuhan kepada ku. Sudahlah … aku ingin istirahat, kamu juga harus istirahat," ucap David datar. Hati Fatim jangan ditanya lagi bagaimana sakitnya, David hanya mengusap pelan puncak kepala Fatim.
"Selamat beristirahat Mas," sahut Fatim yang berusaha menyamankan posisinya. Sementara David memilih Sofa sebagai tempat istirahatnya.
*****
Hari ini Jay pun ikut dalam rombongan anak-anak Arsi, pulang sekolah mereka sepakat untuk bermain di kedai.
"Alhamdulillah, aku tidak menyangka kedai kita sekarang akan menambah cabang lagi Yun. Ini benar-benar prestasi luar biasa untuk semua teman-teman yang sudah membantu, lalu bagaimana dengan pekerja di cabang baru?" Tanya Arsi.
"Sudah aku siapkan semua, tapi ada satu kendala. Sarah ingin sekali terlibat membantu kita, sementara dia kan sedang hamil. Aku gak berani menerima atau menolak istri bos besar itu Si," sahut Yuni yang nampak kesal sekaligus bingung.
Bagaimana dia tidak bingung, keinginan Sarah akan sangat sulit untuk diterima mengingat Jack yang sangat posesif. Bisa digantung hidup-hidup dia jika Sarah lecet sedikit saja.
"Huufff kenapa juga ngidam nya si nyonya besar itu seperti ini, abang pasti akan uring-uringan kalau sudah begini. Aku akan bicara dengan abang," sahut Ngarsinah yang sedang memijit keningnya pelan.
__ADS_1
Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan mengenai apa saja yang akan dipersiapkan, bisnis kedai kue milik Arsi memang tidak melibatkan para suami mereka. Alasan utamanya adalah, wanita muda, wanita yang berkarya.
"Yun, aku tadi mengunjungi Fatim. Aku lihat ada yang tidak beres dengan hubungannya dengan David, Yun … Fatim ternyata menyimpan cerita yang membuat aku ikut merasakan sakit yang dia derita selama ini."
Yuni menatap Ngarsiah dengan tatapan menyelidik, ada apa sebenarnya dengan sahabatnya itu.
"Ada apa Arsi? Apa yang terjadi pada Fatim?" Tanya Yuni bertubi-tubi. Arsi menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Arsi pun menceritakan apapun yang tadi disampaikan oleh Fatim, Yuni mendengarkannya dengan tekun.
"Ya Allah, ujian apalagi ini? Baru saja selesai permasalahan mu, kini Fatim yang dirundung duka. Dulu kamu yang dianggap janda mandul, sekarang kisah itu terjadi pada Fatim. Apakah Fatim akan kembali menjadi janda?" Tanya Yuni.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini Yun, kita hanya bisa menjalani hidup ini. Kita hanya bisa mendoakan mereka," ucap Arsi sendu.
Ping!
(Arsi, apakah aku salah jika ingin pergi?) Sebuah pesan Masuk pada aplikasi hijau.
"Fatim …."
❤️❤️❤️
Haduuuhh apa lagi ini?
Yuukk like, komen, vote dan hadiahnya ya pemirsaahh. Jangan lupa subscribe yaaa. Tengkyuuhh 🌹❤️
__ADS_1