Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 25: Kedatangan Betty


__ADS_3

Arsi hanya bisa tertunduk malu dan tersenyum tipis, rasa malu menjalari seluruh relung hatinya dan membuat wajahnya terasa panas, pasti sekarang wajahnya sudah memerah. ‘Mas Rangga tolong jangan memberikan harapan apapun kepadaku, aku saat ini takut menjalani hubungan dengan embel-embel cinta,’ guman Ngarsinah dalam hatinya.


Gunawan dan Ngarsinah sudah keluar dari ruangan Rangga dan mengikuti Gunawan ke lantai delapan untuk langsung bekerja. 


Tomy masih berada di ruangan bos nya itu, dan sudah siap untuk menggoda si duda ngenes. “Pak sepertinya nanti anda harus memeriksakan kesehatan anda ke dokter,” ucap Tomy dengan senyum penuh arti. 


“Apa lo pikir gue sakit karena abis salaman sama Arsi?” jawab Rangga sewot tidak terima dirinya dibilang sakit. “Sepertinya anda harus divaksin pak, agar virus cinta tidak menyerang jantung anda, apalagi sekarang kan sedang banyak virus berbahaya yang gentayangan mencari mangsa pak.” Kembali Tomy mempertahankan pendapatnya untuk membawa Rangga ke dokter, yang akhirnya membuat Rangga tertawa terbahak-bahak, Tomy pun sudah tidak tahan lagi menahan rasa geli di hatinya. 


“Tom, gue harus gimana? lo kan sudah senior nih masalah begini?” tanya Rangga yang merasa bingung dengan hatinya dan mengingat permintaannya tadi malam kepada Ngarsinah untuk ingin lebih dekat dengan gadis itu. 


“Lah dianya gimana? masak lo udah berapa hari ini runtang runtung sama dia nggak tau gimana dia ke lo?” tanya Tomy yang tampak bengong, di bilang senior, laah kan lebih senior Rangga secara sudah ada barang buktinya, yaitu si kembar. Sementara Tomy belum menghasilkan apapun, jadi yang di bilang senior itu yang mana? Tomy menggaruk kepalanya yang kali ini benar-benar gatal. 


“Lo kan ngalamin proses pacaran sama Fla, sementara gue dulu kan nggak, Tom. Semalem sih dia bilang ke gue kalo dia merasa rendah diri dan sekarang kan gue statusnya bos dia, dia nggak pengen ada masalah di kerjaan,” Rangga memulai sesi curhatnya, dia tidak tahan untuk tidak bercerita kepada sahabatnya itu. 


“Waah Serangga emang payah, itu artinya dia masih membuka hati, tinggal lo nya aja yang berjuang untuk bikin dia nyaman di kantor. Jangan lo buat hidup dia dalam masalah, dan lo selalu ada di setiap kesulitan dia, gue jamin hati dia bakal luluh tuh,” Tomy menjelaskan pendapatnya dan hal ini membuat wajah sang sahabat berseri-seri mengalahkan mentari pagi.


“Tomblok, lo serius kan ngomongnya?” Rangga ingin memastikan lagi, dia tidak ingin sahabatnya ini hanya membuat hatinya senang saja, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Saat ini entah kenapa hatinya gundah gulana tapi bahagia, yah pokoknya rasanya seperti manis, asam, asin.


Ceklek!

__ADS_1


“Sayaang, kangeeeen!” 


Rangga dan Tomy tersentak kaget mendengar suara pintu yang terbuka dan teriakan dari wanita yang sangat dikenalnya dan sebenarnya membuat Rangga malas untuk bertemu.


“Hai Betty, apa kabar?” Rangga berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tapi apa yang dilakukan Betty sungguh di luar dugaan. 


“Sayaang, begitu sampai aku langsung ke sini lo, sampe belum sarapan ni. Kangen berat sama kamu, kita sarapan bareng ya,” kedua tangan Betty yang melingkar erat di pinggang rangga dan tubuhnya menempel rapat pada tubuh tinggi dan atletis milik si duda. Rangga menoleh ke arah Tomy dengan wajah mengiba, tapi Tomy hanya menaikkan kedua bahunya tanda pasrah. Pandangan Rangga mendadak horror menatap ke dua netra milik Tomy, dan si empunya mata memilih untuk segera angkat kaki sebelum diberikan tugas tambahan dari sang bos.


“Pak, saya permisi karena masih ada pekerjaan lain.” Tomy tak mau berlama-lama dalam situasi tak menyenangkan itu. “Iya mas Tomy yang baik hati, makasih ya udah pengertian ngasih waktu aku berdua aja sama calon suami ku ini,” Betty menyahut tanpa peduli dengan keadaan Rangga.


“Uhuk … Uhuk!” Rangga tersedak dengan salivanya sendiri, yang hanya di tanggapi tertawa yang ditahan oleh Tomy. “Betty tolong lepaskan tangan kamu, ini di kantor dan tolong jangan ulangi lagi seperti ini.” Rangga yang sedari tadi diam kini mulai protes dengan aksi yang dilakukan Betty. 


Rangga kembali ke singgasananya dan bersiap kembali bekerja, Betty mengekor dari belakang, seakan tidak menyerah dengan apa yang dilakukan Rangga kepadanya. Kembali aksi luar biasa Betty membuat Rangga ingin sekali mengusir wanita yang selalu membuatnya jengah itu. Betty langsung duduk di pangkuan Rangga dan hal itu sungguh membuat duda beranak dua itu kesal.


“Betty, aku tidak suka dengan caramu seperti ini! tolong pergilah dari sini Betty, sebelum kesabaran ku hilang!” Rangga sudah kehilangan kesabarannya, mengusir Betty adalah cara terbaik yang harus dia lakukan. Betty selalu menjadikan mamanya sebagai senjata untuk membuat Rangga patuh kepada keinginannya. Betty sepupu jauh nya Rangga, dan mama Betty memang meminta Rangga untuk menjadi menantunya, setelah Betty menyelesaikan pekerjaannya di luar negeri. Tante Monik akan meminta Rangga menikahi Betty, itu pun setelah sang tante mengetahui istri Rangga meninggal dunia.


***** 


Ngarsinah sudah sampai di ruangan bagian keuangan, ada lima orang dalam ruangan staf itu. Dengan hadirnya Ngarsinah genap sudah anggota bagian keuangan itu menjadi enam orang. Pak Gunawan dengan formal memperkenalkan Ngarsinah kepada teman satu ruangannya, begitu juga dengan Ngarsinah. 

__ADS_1


Dengan sedikit ramah tamah akhirnya ngarsinah bisa menempati kursinya dan mulai dibimbing oleh Nia selaku senior di ruangan itu. 


"Arsi, ternyata kamu cepet mengerti ya orang nya, kalo begini dua hari bekerja aku bisa melepasmu." Ucap Nia dengan senang hati. 


"Makasih ya Nia, bukan aku yang cepet ngerti, tapi kamu yang sabar dan pinter ngajarin aku," balas Ngarsinah merendah. Apa yang dia lakukan hampir sama dengan apa yang dia lakukan di kantor ayahnya, saat itu Ngarsinah belum menikah dengan David.


Mereka berlima langsung merasa nyaman dengan kehadiran Ngarsinah yang sederhana dan pandai membawa diri di lingkungan baru. Jam makan siang tiba, semua orang sibuk menyerbu kantin. 


"Arsi kita bareng yuk, mereka udah duluan tuh," Candra yang baru saja mematikan komputernya menghampiri Ngarsinah yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ruangan sudah kosong, tinggal mereka saja berdua.


"Loh mas Candra nggak barengan mereka tadi?" Tanya Ngarsinah yang baru saja sadar hanya tinggal dirinya dan Candra yang tinggal di ruangan itu. Setelah beres semua Ngarsinah berdiri dan berjalan beriringan dengan Candra. Kantin karyawan ada di lantai satu, jam segini semua orang berlomba untuk menuntaskan rasa lapar yang membelit sedari tadi. 


"Arsi, boleh saya ikut bergabung?" 


❤️❤️❤️


Siapa nih yang mau ikutan makan siang🤔


jempoollnya ya pemirsaku sayang, jangan lupa komen, subscribe dan vote. Hadiahnya juga di tunggu ya 😚, tengkyuuhh pemirsaku sayang ❤️🌹

__ADS_1


__ADS_2