Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 90: Calon Madu


__ADS_3

Novi seakan terjun dari atas gedung tinggi dan mendarat ke tanah, hancur tapi tidak mati, kakinya bergetar menandakan dia tidak baik-baik saja. Apa yang Fatim katakan barusan seakan mengingatkan dia yang pernah menjadi pelakor, Harus Novi akui apa yang dikatakan Fatim itu benar, dan apa yang harus dia lakukan sekarang? Mengikuti permintaan David, karena saat ini tidak mungkin dia meluapkan emosinya. Menolak permintaan David itu sama saja bunuh diri dan akan menjadi gembel. David pernah mengatakan itu, dan dia pria yang tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Fatim mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dan setelah itu wanita itu pun mendekatkan ponselnya ke arah mic sehingga terdengarlah semua percakapan dirinya dan David saat di restoran malam itu, David yang memintanya dan memastikan bahwa Novi akan menyetujui serta akan memintanya untuk menjadi istri kedua seorang David Van Houten. Semua terdengar jelas oleh para tamu undangan, hal itu membuat Novi mati gaya di buatnya. 


‘Baiklah saat ini aku akan mengikuti permainan kalian, tapi tunggulah saatnya tiba. Fatim kamu akan bernasib sama dengan Ngarsinah, david hanya milikku dan akan selalu menjadi milikku. Jangan besar kepala dulu calon madu, kamu belum tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang, berani bermain api kau harus siap untuk terbakar!’ Geram Novi dalam hati, wanita itu sudah bertekad akan menyelamatkan acaranya dan mengikuti drama satu babak yang disutradarai oleh David sang suami tercinta. 


Otak licik Novi sudah mengolah sesuatu dan malam ini dia pun akan mengambil peran di hadapan penonton agar mendapatkan simpati dan pujian. Hati yang remuk untuk sejenak dia abaikan, Demi sebuah rencana yang akan dia jalankan nanti.  


“Jadi seperti itulah yang terjadi, ibu-ibu semua, saya akan menerima mas David menjadi suami dan ayah sambung untuk anak saya, jika mbak Novi yang melamar saya disini. Saya rasa cukup, dan terima kasih atas perhatiannya, sekali lagi selamat ulang tahun untuk mbak Novi. Terima kasih,” ucap Fatim, dengan elegan wanita itu memberikan kembali mic kepada David. Pria itu masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, menatap bangga dengan cara Fatim menghadapi semuanya. Pria itu ingin sekali berteriak bahagia karena Fatim menerima dirinya dan tinggal satu tahap lagi dia yaitu kesediaan Novi untuk melamar Fatim malam ini juga. 


“Sa-sayang, aku akan melakukannya,” ucap Novi tiba-tiba, saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa, perasaannya kusut walau otaknya sudah menyiapkan sebuah rencana besar untuk Fatim sang calon madu. Karena ini semua terjadi dengan tiba-tiba, sesaat Novi menarik nafas dalam, wanita itu pun mulai melangkah mendekati Fatim, berusaha tersenyum walau hatinya sedang terbakar api. Novi menyadari wanita yang dihadapinya bukanlah wanita lemah seperti Ngarsinah, maka dari itu Novi harus berhati-hati agar kehidupan mewahnya tetap bisa berlangsung. 


“Fatim, aku sangat mencintai suamiku, aku selalu menuruti semua permintaannya karena David sangat menyayangiku. Menjadikanmu istri kedua untuknya dan itu artinya kamu akan menjadi maduku, aku pun menerima keinginannya yang tidak biasa itu. Fatim, aku memintamu di hadapan semua teman-teman kami, terimalah David sebagai suami kamu dan aku hanya meminta satu hal kepada dirimu, yaitu kita harus tinggal di atap yang sama. Apakah kamu menerima lamaranku untuk menjadi maduku Fatim?” Tanya Novi dengan suara yang tidak bergetar sama sekali, hatinya hancur, namun dia berusaha keras untuk tetap tegar. 

__ADS_1


David yang melihat hal itu sangat senang dan dengan bahagia pria itu merangkul pundak Novi, Pria bule itu senang dengan pilihan yang Novi ambil, sungguh pria itu tidak peduli dengan perasaan Novi yang hancur berkeping-keping saat ini. Egois? Ya seperti itulah David dan inilah cara Allah membayar apa yang pernah dilakukan hambanya. Seperti pepatah lama mengatakan– ‘Hidup ini tabur tuai, siapa yang menabur maka dialah yang akan menuainya.’ 


Semua tamu undangan dibuat tercengang, mereka merasa sedang menonton opera sabun di televisi namun saat ini secara live. Sungguh pemandangan yang tidak biasa dan yang membuat semuanya semakin riuh saat Novi memeluk tubuh Fatim dengan senyum yang terus saja terkembang. 


“Iya aku bersedia, terimakasih atas semuanya mbak Novi. Semoga aku bisa menjadi madu yang baik untukmu. Jay, ayo salim mami Novi,” titah Fatim kepada sang putra yang sedari tadi hanya bisa menikmati perang diplomasi antara ketiga orang dewasa itu, dan bocah kecil itu pun menurut. 


“Hallo mami, selamat ulang tahun, kenalkan namaku Jay. Mami cantik sekali,” ucap Jay yang sudah selesai mencium punggung tangan Novi, saat itu ingin sekali Novi menghapus bekas kecupan manis dari bocah kecil tak berdosa itu. Novi tidak melakukan hal itu karena dia tetap harus bertahan dengan situasi seperti ini hingga acara selesai. 


Kini MC kembali mengambil alih acara yang tadi sempat tegang dan mencekam. Acara demi acara kini berlangsung meriah, para tamu sudah diijinkan untuk menikmati hidangan yang sudah mereka siapkan. Seseorang di sebuah sudut ruangan sedang termenung melihat apa yang tadi terjadi. Gadis itu sedang mengingat wajah Fatim yang tidak asing baginya, selesai acara Yuni berniat untuk menemui Fatim dan akan mengajaknya bicara. 


David ingin mengantarkan Fatim namun janda satu anak itu menolak, dia akan menggunakan taxi online seperti saat dia datang tadi, padahal saat tadi Yuni mendatanginya dan meminta waktu, Fatim dengan senang hati untuk memenuhi. Ada rasa rindu dengan teman masa kecilnya itu, tapi sepertinya Yuni agak lupa dengan dirinya. Oleh karena itu dia ingin temu kangen dengan gadis dari desanya itu. 


“Ayo Fat, bareng kita aja, biar sekalian aku tau dimana rumahmu,” ajak Novi dengan wajah yang masih ramah seperti tadi, namun Fatim sudah memahami karakter wanita ular itu. Dengan ramah dan senyum cantiknya Fatim menolak. 

__ADS_1


“Nggak mbak, kalian pulang aja, nanti aku pakai taxi online saja. Mas David jaga kesehatan ya, sudah sana kalian pulang,” jawab Fatim dan tidak lupa wanita itu memberikan perhatian kecil kepada sang calon imam. Novi yang mendengar itu merasa ingin sekali menghancurkan mulut manis Fatim, namun dia harus bersabar sampai masa itu tiba. 


Kini mereka sudah berpisah, Fatim kembali kedalam untuk menemui Yuni, kedai sudah kembali dibuka untuk umum. Para pengunjung yang ramai dan dari berbagai usia. Yuni sudah menunggu di sebuah meja, sementara Jay berada di kids corner yang menyediakan mainan agar anak-anak tidak bosan. 


“Yuni, ya Allah … kamu pasti lupa sama aku ya? aku anaknya bude Satiyem, buruh tani di ladang Arsi, jaman bapak masih hidup. Inget sekarang Yun?” tanya Fatim dengan antusias, janda satu anak itu berusaha mengembalikan ingatan Yuni. 


“Ya Allah kamu to Fat, pantes kok rasanya nggak asing, kamu duluan kekota sih … kamu nikah saat kita baru lulus SMA kan?” tanya Yuni yang kini sudah berpelukan dengan Fatim.


❤️❤️❤️


Beeegghh mantaap ini, makin menegangkan. Bener-bener perang urat syaraf ini mah 🥸🤭


cuuuss gaasken jempolnya pemirsaahh, komen, vote dan hadiah ya, tengkyuuuhh pemirsaaahhh

__ADS_1


❤️❤️❤️🥸🤭🤣🌹🌹🌹


__ADS_2