
Ngarsinah memasuki pagar sekolah dan bergabung dengan ibu-ibu yang menjemput anak-anak. Karena sering bergantian dengan Rangga dan supir Arsi Tidak begitu banyak mengenal orang tua yang setiap hari ada di ruangan tunggu.
“Kelas berapa putranya jeng,” tanya seorang ibu yang berpenampilan meriah, Ngarsinah mengangguk sopan dan tersenyum ramah.
“Kelas A bu, kok tumben ya belum keluar,” tanya Arsi yang melihat kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sesekali Ngarsinah celingukan mencari kedua bocah yang sudah menguasai hatinya itu.
“Mungkin mereka ada kegiatan tambahan bu, oya kelakan saya mamanya Tasya, jeng mamanya siapa?” tanya ibu sosialita yang ternyata biasa di panggil mama Tasya. Arsi berusaha tenang, walau sebenarnya dia tidak senang dengan gelagat ibu yang barusan mengajaknya bicara.
“Saya Arsi bu, mamanya si kembar, Arya dan Arista. Salam kenal bu,” jawab Arsi dengan ramah. Mama Tasya mendadak membulatkan matanya, dan menutup mulutnya yang menganga, terasa lebay memang.
“Loh kok pak duda keren nggak nyebar undangan sih kalo dah nikah lagi, duuuhhh ini kalo denger sama ibu-ibu disini bisa patah hati berjamaah loh, bu” ucap mama Tasya dengan suara berbisik, matanya sebentar-sebentar mengedar untuk memastikan suaranya tidak didengar oleh orang lain. Ngarsinah tersenyum melihat polah tingkah ibu-ibu yang tampak sekali orang yang hobi bergosip.
“Eh maaf bu, itu anak saya sudah pulang, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya bu. Oya kalau mau nongkrong sama temen-temen silahkan mampir ke toko kue saya bu,” Arsi tidak membalas ucapan dari mama Tasya barusan, wanita cantik itu langsung berdiri dan berpamitan dengan menyorongkan sebuah kartu nama toko kuenya.
“Makasih ya mama kembar, ntar deh saya bawa temen-temen arisan kesana, bisa kan ya untuk tempat arisan jeng?” tanya mama Tasya yang di jawab anggukan dan jempol dari Ngarsinah. Kesan ramah dan menyenangkan dirasakan oleh mama Tasya, dengan baik dia menyimpan kartu nama itu di dalam tasnya.
“Mama …” teriakan si kembar membuat beberapa orang melihat ke arah ngarsinah yang membuka kedua belah tangannya untuk menerima pelukan dari kedua bocah lucu dan menggemaskan itu. Tampak beberapa orang yang bisik-bisik, tapi Ngarsinah cuek saja dan segera masuk kedalam mobil mewah milik Rangga.
“Mama dedek laper, pengen makan di restoran, eemm … apa kak namanya yang kemaren Tasya pamer ke kita?” Tanya Arista kepada sang kakak, Ngarsinah tersenyum senang melihat si kembar yang sudah menganggap dirinya mama mereka.
__ADS_1
“Kamsia Resto, itu ma yang deket mall, mama tau kan?” tanya Arya juga menginginkan untuk makan di sana. Mereka ini untuk urusan makan memiliki selera yang sama, hanya karakter saja yang sedikit berbeda. Arista lebih cerewet dari pada Aryan yang lebih senang diam dan sesekali saja ramai, itupun dengan orang yang dia rasa sangat dekat.
“Ooo yang itu, oke siaap bos-bos kecilnya mama. Kita lomba makan yuk, siapa yang menang mama kasih hadiah sepotong red velvet cake nanti dirumah, ada yang mau?” tanya Arsi membuat suasana di dalam mobil pun riuh oleh suara rebutan kedua bocah yang sangat senang hati itu.
Suara riuh mereka berhenti saat Ngarsinah sudah memarkirkan mobilnya di halaman restoran. setelah mengeluarkan anak-anak, Arsi menggandeng tangan mereka di kanan dan di kiri. Sudah menjadi kebiasaan kedua bocah yang sudah bisa membaca itu segera memilih menu masakan.
Makanan sudah dipesan, Ngarsinah tidak lupa mengirimkan pesan kepada Rangga kalau dia dan anak-anak sedang makan di Kamsia Resto, setelah ini barulah mereka pulang. Seorang pria nampak sedang memperhatikan ketiga orang berbeda generasi itu dengan tatapan tak terbaca. Wajah bule nya menarik perhatian seorang Arya.
‘Kenapa sih om itu kok ngeliatin mama Arsi terus? hmmm nampaknya dia orang jahat, aku harus melindungi mama dari om-om buas itu,’ gumam Arya dalam hati, sorotan tajam dari mata kecilnya sesekali melirik ke arah om bule, Ngarsinah asik meladeni celotehan Arista sehingga tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan intens.
Arya melangkahkan kakinya menuju ke meja pria berwajah bule. Ngarsinah tidak begitu khawatir karena resto ini tertutup dan ada banyak pelayan, ruangan yang tidak terlalu besar membuat aman untuk anak-anak.
“Hai jagoan, kenalkan namaku David, siapa namamu?” tanya David dengan ramah, pria itu sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan yang Arya lontarkan.
“Arya, Ingat ya om, aku tidak suka om melihat mama ku terlalu lama, karena yang boleh menatap mama ku hanya papa saja. Kalau aku lihat om seperti ini, nanti aku akan menghukum om David,” ancam Arya dan membuat David semakin gemas dengan bocah itu.
“Oohh aku takut bos kecil, maafkan ya … hmmm Boleh aku bergabung di meja kalian?” tanya David setelah berakting seperti orang ketakutan. Entah kenapa hatinya merasa rindu setelah sekian lama tidak melihat sang mantan istri, dan sekarang Ngarsinah terlihat lebih cantik, aura keibuan membuat wajah Arsi mampu kembali menggetarkan hati David.
“Tidak Boleh!” jawab Arya tegas, dan mengangkat telapak tangannya ke arah wajah David. Diperlakukan dengan tidak bersahabat menjadikan David merasa tertantang untuk bisa mengajak Ngarsinah bicara.
__ADS_1
“Ok, om akan tetap disini, sekarang kembalilah, mama kamu sepertinya sedang mencari-cari tuh.”
Ngarsinah mengedarkan pandangannya, sesaat tadi dia baru menyadari Arya tidak ada di bangkunya. Pandangannya terkunci pada seorang pria bule yang belum dia lupa akan wajah itu.
“David?” gumamnya lirih dan berusaha untuk berdiri menjemput Arya yang masih berdiri membelakanginya. tatapan Ngarsinah dan David sempat bertemu, dan dengan cepat Ngarsinah beralih.
“Dedek tunggu di sini dulu ya, mama mau ambil kakak, biar kita cepet selesai makannya. Mau ya dek?” tanya Ngarsinah setelah memberikan alasan kenapa dia berdiri. Arista dengan senyum khasnya yang manis menganggukkan kepala tanda setuju.
Dengan cepat Ngarsinah menghampiri meja David. dan menggandeng tangan Arya dengan posesif.
“Maaf pak sudah mengganggu makan siang anda, ayo kak kita buruan makan,” Ajak Ngarsinah tanpa mau menunggu David membalas ucapannya barusan. David merasa tercubit hatinya ketika Ngarsinah pura-pura tidak mengenalnya. Arya menurut apa yang diperintahkan sang mama. Mereka berlalu begitu saja menuju ke meja dimana Arista masih dengan setia menunggu kakak dan mamanya.
“Arsi kenapa kamu menghindariku? kamu tau Arsi jantungku berdebar capat saat melihatmu, kamu cantik banget sekarang. Itu anak siapa? apakah kamu sudah menikah lagi?” gumam David pelan, senyum terus terkembang di bibirnya, entah kenapa hatinya kembali berbunga-bunga
❤️❤️❤️
Waspada Arsi, David bisa jatuh cinta lagi loh 😱
Hayuukk Like nya kakak, komen yang rame doong, vote dan hadiah jangan lupa yaa, tengkyuuuh pemirsa 😘😘😘❤️🌹🌹🌹
__ADS_1