Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 30: Pemikiran Ngarsinah


__ADS_3

Rapat di kantor besar sedang berlangsung, hari ini Ngarsinah hanya diam memperhatikan, untuk beberapa hal dia sempatkan mencatat di buku kecil berwarna biru langit miliknya. Perdebatan sengit beberapa kali terjadi antara Rangga dan orang-orang yang ada disana. 


Ngarasinah menatap kagum pada Rangga yang sejauh ini mampu mengalahkan argumen mereka yang berusaha mematahkan. Tanpa terasa waktu istirahat makan siang, rapat siang ini pun akan dilanjutkan setelah makan siang dan sholat selesai. 


Aku baru menyadari kalau perusahaan ini sudah menggurita, berbagai cabang usaha di rambah, mulai dari pertanian, distributor tepung dan sembako, konstruksi, event organizer dan beberapa bidang bisnis yang sudah ditekuni bertahun-tahun yang lalu. 


Hidangan makan siang disiapkan secara prasmanan, Ngarsinah dan Tomy sedang asik memilih apa yang akan mereka santap siang ini, obrolan kecil pun terjadi. Tomy menanyakan pendapat Ngarsinah tentang perusahaan distributor tepung dan sembako, yang baru saja menandatangani kontrak zona pemasaran.


Rangga ikut bergabung makan satu meja dengan Ngarsinah dan Tomy. Sebelumnya pria tampan itu bergabung dengan para petinggi perusahaannya termasuk ayahnya, dirasa sudah cukup dia kembali pada wanita yang sudah mengisi hatinya. 


Perbincangan hangat mengenai apa yang tadi sudah dibahas membuat Ngarsinah memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapat, sedari tadi gadis itu sudah gelisah dengan pemikirannya.  


“Pak, kalau menurut saya, kita rugi kalau tidak memperpanjang kerjasama dengan pabrik tepung X, karena selama ini produk dia termasuk tulang punggung kantor distributor kita.” Ngarsinah mencoba memberikan argumennya. Rangga mengernyitkan dahi dan ingin tau alasan gadis itu. 


“Apa yang membuatmu berfpikir seperti itu Arsi?” tanya Rangga. 


“Saya hanya berfikir begini, jika kita melepas produk tepung X sementara penjualannya sangat tinggi, dan kita mengambil produk B, sementara produk ini baru. Akan sangat berat sales menjualnya ke pasaran. Lagipula jika kita melepas maka akan diambil oleh distributor lain, bukan hanya itu, berarti pelanggan kita juga akan diambil mereka. Pelanggan atau user itu setia pada produk bukan setia pada sales yang memasarkan pak.” penjelasan Ngarsinah panjang pendek dan membuat Tomy menganggukkan kepala, sementara Rangga masih berpikir tentang hal itu. 


“Saya kecewa dengan pimpinan perusahaan distributor, karena tidak bisa tegas dengan karyawan yang melakukan korupsi, dan itu besar lo jumlahnya, kemaren kita sudah tanda tangan kontrak zona tapi entah kenapa kok saya mikir lagi untuk melanjutkannya,” jelas Rangga dengan tatapan sendu, saat ini pikirannya cukup bercabang, perusahaan kosntruksi pimpinannya korupsi sehingga terpaksa Tomy dia kirim untuk memimpin sementara. 

__ADS_1


Sekarang perusahaan distributor juga seperti itu, dan mengganti pemimpinnya apakah itu sudah langkah yang benar? itulah kebingungan Ranggga. 


“Jika yang bermasalah adalah orangnya, berarti yang diberhentikan ya orangnya pak atau dipindah posisinya, jangan memberhentikan produknya, kalau saya boleh menyarankan, lanjutkan saja kontrak dengan pabrik tepung X, dan mengganti pimpinan yang sekarang serta memberikan sanksi kepada sales yang bermasalah.” Jelas Ngarsinah dengan santai.


“Saya sempat berpikir untuk pecat mereka,” sahut Rangga, ada nada kesal yang terisirat dari ucapannya. 


“Kalau boleh saya menyarankan, selama bisa di rolling, mungkin itu adalah pilihan yang baik pak, memberhentikan orang bisa menimbulkan masalah baru, bisa jadi dia dendam karena sumber penghasilannya kita hancurkan. Untuk salesnya menurut saya sebaiknya kita selidiki dulu kenapa dia nekat melakukan penyelewengan uang yang jumlahnya tidak sedikit, dari hasil penyelidikan itu barulah kita putuskan apakah memberhentikannya atau mungkin di ganti posisinya. Kita semua mencari nafkah untuk keluarga pak, jika sumber itu anda matikan karena anda punya kuasa, saya rasa akan menimbulkan masalah baru karena sakit hati.” Dengan keberanian yang besar Ngarsinah menjelaskan pendapatnya, dan hal itu membuat Rangga tersenyum.


Padatnya pekerjaan kadang membuatnya sulit berpikir seimbang. 


“Menarik, kepintaran yang dibalut oleh kesederhanaan, hal ini tidak akan mudah dibaca oleh musuh kita,” Rangga terkejut mendengar suara papanya dan kedatangan Boby tidak di sadari juga oleh Tomy dan Ngarsinah. 


“Papa, silahkan duduk disini pa,” rangga langsung berdiri dan memberikan kursi yang ada di sebelahnya untuk sang papa. Ngarsinah menangkupkan kedua tangannya di depan dada, gadis itu tersenyum sopan. Tomy ikut berdiri menyambut pria paruh baya yang tidak kehilangan ketampanannya sama sekali. Pemilik perusahaan yang sudah menggurita itu tampak sangat sederhana, jika orang awam yang melihat pria ini tidak seperti seorang konglomerat. 


Ngarsinah terkejut dengan ucapan bos besarnya itu. Tanpa terasa suapan nya menggantung di udara. Sama sekali dia tidak punya pemikiran untuk itu, pendapatnya tadi hanya masukan untuk Rangga, bukan untuk hal yang barusan tadi di ucapkan bos besar. 


“Rangga setuju pa,” singkat padat dan jelas Rangga menjawab pendapat sang papa. Feeling seorang pelaku bisnis yang sudah senior hampir jarang meleset, dan itulah yang Boby lihat dari sosok Ngarsinah. 


*****

__ADS_1


Jam makan siang di kantor Rangga membuat penduduk ruang keuangan sepakat untuk ke kantin bareng. Mereka yang sedari tadi lebih banyak diam saat bekerja sekarang mulut-mulut nyinyir itu pun kembali menunjukkan keahliannya dalam bergosip. 


“Nia, udah ada kabar dari bebeb Arsi belum? kok sampe jam segini dia belum balik sih?” tanya Candra yang sedari tadi sudah tidak sabar untuk bertanya. “Belum nih, di group juga dia belum kasih kabar,” jawab Nia yang sudah menngambi posisi duduk di sebelah Sasa. 


Penduduk ruang keuangan itu punya group chat yang beranggotakan mereka berenam. Nama group yang mereka buat ‘PAWANG UANG’ selalu mereka gunakan untuk saling berinteraksi.


“Aku kok jadi heran deh sama Arsi, kok bisa ya baru kerja dua hari udah diundang rapat ke kantor besar, kita aja yang udah bertahun-tahun disini belum pernah sekalipun di ajakin pertemuan disana.” Sasa mulai menumpahkan uneg-unegnya.  


“Eh tapi satu hal yang menarik dari Arsi, kalian meratiin nggak kalo dia itu jadul banget, hahaha” Pia mulai memberikan penilaian, diantara mereka semua, Pia memang orang yang paling modis dalam fashion, make up Pia selalu anti gagal, dan itu yang membuat banyak wanita di gedung perkantoran sepuluh lantai itu selalu berdecak iri dan banyak juga yang terkagum-kagum. 


“Tapi bebeb Arsi itu cantiknya alami lo, gak kayak kamu cantik dempulan,” Candra menimpali dengan raut wajah yang kesal. “Doooo yang ngerasa punya bebeb,” Sasa tidak kalah ingin menggoda Candra. 


“Eh gimana kalo kita makeover si Arsi?” Pia dengan semangat mengajukan usulannya, tatapannya berbinar. Hal yang paling dia suka adalah bisa menjadikan teman-temannya bahan praktek untuk mengasah skill nya dalam hal makeup dan fashion. 


“Jangan pernah kamu berfikir buat jadiin Arsi untuk bahan uji coba mu ya Pia, aku nggak mau nanti dia jadi ondel-ondel setelah kamu dandani,” Roni yang selama ini dingin bak kulkas freezer frozen food, tiba-tiba membela seorang perempuan yang notabene baru saja dia kenal.  


“Arsi akan aku rebut dari mu, jangan pernah remehkan aku!”


❤️❤️❤️

__ADS_1


Wadooww udah mulai jadi rebutan nih si Jandul, tapi siapa ya yang mau merebutnya? 🤔


Manaa jempolnya pemirsa, tahun baru semangat baru ya pemirsa, di tunggu juga komen, hadiah dan vote nya ya, tengkyuuhh pemirsaahh ❤️🌹🎉


__ADS_2